Category Archives: Uncategorized

Singkat


Tidur tak butuh kasur, juga tak butuh bantal. Tetapi perlu sebuah kantuk yang serius. Sudah lama saya mengidap insomnia, sebuah istilah yang sering di dekatkan arti dengan susah lelap di malam hari. Saya teringat masa-masa saat masih kuliah. Yang gemar berunding dengan malam di sebuah warung kopi, ketimbang harus memaksa meletakkantubuh di sebuah ranjang kamar tempat tidur. Saya lupa, kapan masa-masa itu pernah melanda saya. Toh, tak penting juga saya bahas.
Di penghujung malam ini, insomnia datang tanpa permisi. Seperti kenangan yang datang dan pergi semau-maunya. Jujur saja, malam ini saya rindu bercanda gurau dengan kawan-kawan semasa kuliah. Saya teringat masa-masa di mana saya dan kawan-kawan patungan membeli rokok dan gotong royong membayar kopi setelah selesai di nikmati. Masa-masa itu, dimana masa-masa kita merawat sebuah masa depan. Sesama yang lain sama-sama memiliki mimpi pada subuah cita-cita yang tinggi. “Kehidupan bergerak bukan dari waktu ke waktu, melainkan dari suasana ke suasana” tulis Zen RS. Saya bimbang, apakah kehidupan saya tak pernah menjumpai waktu dan suasana itu. Atau jangan-jangan waktu dan suasana telah melewati batasnya itu sendiri. Saya tak paham. Dan juga tak butuh untuk memahami.

Selain menghabiskan malam di warung kopi, dulu saya juga sering iseng menulis. Sebuah iseng yang menajdi kebiasaan di saat saya susah terpejam. Dari kerutinan iseng itu pulalah saya dapat mengumpulkan catatan-catatan ringan dari sebuah perjalanan saya. Tak begitu penting memang. Alih-alih bermanfaat bagi yang lain, berguna dan menghasilkan buat saya sendiri saja pun tidak. Akan tetapi, dengan rutinitas iseng –menulis– saya tersebut, saya menjumpai sebuah cerita yang anggun. Sebuah perjalanan hidup yang begitu lucu, singkat dan juga pilu. Saya bangga, sungguh bangga dahulu dapat menyempatkan waktu menulis walaupun singkat. Belakangan waktu, saya juga menyempatkan membaca ulang catatan-catatan yang dahulu sempat saya kumpulkan. Ada kepuasan “suasana” tersendiri saat membaca apa yang pernah saya tuliskan. Tentang malam, pagi, hujan kawan, secangkir kopi, cinta, suasana dan juga masih banyak yang lainnya.

Terlampau banyak untuk saya ceritakan. Di tengah insomnia yang terlanjur melanda, pada dini hari ini saya sempatkan lagi untuk iseng menulis. Sebuah ke isengan yang menjadi ritual mengalihkan kekecewaan dan keresahan di masa yang lampau. Saya tak paham betul, apa yang saya tulis ini. Sungguh !!

Gleming


Aku ingin mengenalmu. Tapi tak sekarang. Lusa !

Aku ingin mengingatmu. Tapi tak sekarang kemarin !

Aku ingin menjumpaimu. Tapi tak sekarang. Kemarin !

Waktu. Waktu. Waktu !

01: 11


“Saya butuh teman bicara. Ada yang sudi saya pisui apa gak”.

Entah, beberapa hari ini saya merasa kebingungan. Merasakan dalam kondisi fatal yang terlampau kesepian. Seprti pelukis yang kehilangan kanvas, seperti halnya pemain sepakbola yang kehilangan kedua kakinya. Apa saya galau? Mungkin. Ah, barangkali saya terlalu berlebihan. Entahlah, saya hanya butuh teman bicara saja. Ada yang mau saya kencani apa gak?

Hore… Pengalaman sederhana saya akhirnya dapat tertuliskan kembali. Blog saya sudah dapat saya kencani kembali. Dapat saya pisui. Saya marahi dan barangkali dapat pula saya setubuhi. 😉

Disebuah Gunung;Penuh Malu dengan kemaluan.


Bukan Soe Hok Gie atau aktifis yang sejenisnya. Saya kemarin sempatkan menaiki sebuah gunung. Jalannya cukup terjal, daerah Silo Baban Timur tepatnya. Gunung tersebut bernama gunung angin. Ya, begitulah masyarakat menyebutnya. Daerah ini cukuplah terpencil, bagaimana tidak, aliran energi listrik saja belum cukup maksimum menyentuh daerah Baban Timur ini. Terlihat aliran listrik hanya menggunakan Aki, itupun disuplay dari tenaga surya. Daerah ini cukup sepi, jarak rumah antar penduduk cukup jauh.

Tak ada perjalanan yang hebat, selain perjalanan yang melelahkan. Saya dan teman-teman berkeinginan memuncaki gunung angin tersebut. Dengan mengendarai sepedah motor saya dan teman-teman bergegas menuju puncak gunung. Perjalanan yang sangat menegangkan. Coba bayangkan, jalan yang lebarnya hanya kurang lebih 3 meter, berbatu dan berliku-liku pula. Wah, selip sedikit mungkin tak pulang. Dengan susah payah, akhirnya kami sampai di puncak gunung angin. Mata ini mendadak tertuju pada sebuah makam yang berada di tepat puncak gunung. Menurut salah satu teman saya yang kebetulan juga penduduk sekitar, makam tersebut keramat. Ada 3 tempat makam yang berbeda tetapi masih 1 orang. Di Madura, daerah Silo dan puncak gunung angin tersebut. Barangkali sebuah mitos. Yang sampai saat ini belum ada yang sempat mengetahui secara jelas.

Sekali lagi, kami bukan Soe Hok Gie. Barangkali sudah berubah era. Entahlah, mungkin kami hanya bagian kecil dari yang terkecil di alam ini. Yang sudah lelah bersetubuh dengan kehidupan kota yang tengik. Dan sudah barangtentu kami bukan aktifis pecinta alam, bukan aktifis lingkungan atau sejenisnya. Sebut saja kami para kaum tanpa bendera yang sedang bercita-cita mendaki gunung. Bah.!!

Awal mula saya jenuh. Kehidupan hanya disesaki oleh kemunafikan. Betapa tidak, setiap hari saya disuguhi tontonan kemunafikan. Berteriak hidup rakyat, tanpa tujuan yang tulus. Niat baik, belum tentu baik pada seseorang. Belum lagi jalan yang ditempuh cukup ranum. Jalan pintas di anggap pantas. Cukup lah saya petakan nasib ini sendiri. Tentu, saya memang orang yang tahu dan tempe. Bisanya cuma nulis. Tulisannya busuk pula. Tak jelas. Ya, tak jelas. Tapi setidaknya saya telah melakukan cita-cita hati. Hina bagi saya jika harus bertekuk lutut pada sebuah dogma yang cenderung memaksa kehendak. Tak jelas pula. Saya pingin misuh saja, pada jas mereka yang gagal terbilas. Semakin hari tubuh ini semakin menua, bernafas terasa sulit. Maka ijinkanlah saya menguntai syair Sutikno W.S, untuk kesekian kalinya “Tangisilah kehidupan yang kuncup-kuncupnya diserap kepalsuan. tapi jangan tangisi kami orang-orang tersisih tapi tidak kehilangan hati”.

Hanyalah saya yang bisanya cuma ngopi-ngopi, cangkruk, baca buku, mencatat, main game dan kadang kejam pada diri sendiri ini, selayaknya ditampar. Atau bahkan kalau perlu di kotak petikan saja. Mungkin almarhum W.S Rendra kejang-kejang di dalam kubur melihat tindakan saya yang sok nyastra, padahal saya tak ngerti apa itu sastra. Soe Hok Gie barangkali mencak-mencak jika masih hidup. Terlalu kecewa dengan sebuah catatan busuk saya yang tak jelas, yang tak penting dan mungkin juga tak berguna. Sementara petani banyak yang tertindas, penggusuran ada dimana-mana, kekerasaan atas nama agama kian marak, kemiskinan, ketidakadilan dan masih banyak penindasaan yang lainnya. Sedangkan saya hanya bisa mencatat, baca buku, main game, ngopi dan kegiatan yang tak jelas lainnya. Satu lagi yang ketinggalan, saya suka masuk kamar dunia maya.

Sudah tentu, banyak yang marah atau terganggu dengan ulah saya. Apalagi pada sebuah catatan yang saya pampang di dinding pesbuk. Mas Pram mungkin kecewa dengan saya. Sabdanya “Jika usiamu tak sepanjang duniamu, maka sambunglah dengan tulisan”. Terlampau tak jelas saya gunakan. Ampun mas, ampun.!

Kembali ke sebuah gunung. Kami pun sengaja menginap di sebuah tepi sungai. Selayak merenungi nasib, yang masih remang-remang. Menyalakan api unggun, berharap tak kedinginan. Bukan pemuda yang hebat, tak berdiskusi, tak baca buku. Tapi yang perlu diketahui saya terus meng-eja diri. Teringat ketika baca buku, membaca teks-teks Albert Camus sangat menggugah. Tulisan yang ia tulis sejak usia 22 tahun itu. Dari Camus pulalah lahir kesaksian -katanya-. Tentang bagaimana merawat kualitas tulisan dengan menjaga kualitas diri yang harus diberi jarak dari dunia kemewahan bojuis (dalam bahasa Camus), katamu.

Di tepian sungai pada sebuah gunung pula, saya terus mencaci diri. Ternyata harus terlebih mengalahkan diri sendiri, sebelum berjalan kembali untuk berbuat sesuatu yang bermutu. Pada sebuah batu saya menulis “Aku hanyalah musuhku”. Tak sebatas itu, dalam keadaan dingin juga saya mengingat teks bacaan Sidharta Gautama. Sebuah cerita pengasingan. Dalam ceitanya Sidharta harus mengakui bahwa pengasingan bukanlah sebuah jalan untuk mencapai jawaban. Tuhan hadir katanya, justru pada tiap diri kemanusian. Tapi dalam tingkatan tertentu pengasingan ialah suatu jalan. Setidaknya sebagai medium untuk mengambil nafas panjang, sebelum berjalan kembali pada jalan yang tak berujung dan retak dimana-mana ini. (Zaki).

Pada pagi hari, saya terus bergeming. Pada malam pula saya telah salah masuk kamar. Intinya tetap, saya berada di tempat yang tak tepat. Terjatuh pada lubang, lubang yang sangat dalam. Harus tercaci diri ini jika kelak mampu keluar dari lubang kepalsuan. Dimana sebuah kebenaran tak butuh persekongkolan. Dimana kebenaran hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang harus tertunda untuk terbukti.

Saya telah malu pada kemaluan ini, jika kelak sebuah ketulusan gagal saya cipta. Entahlah apa kata orang.!

Juni 2011.
Ditemani lagu bang Iwan Fals “Yang Terlupakan”. !