Category Archives: cerpen

Mimpi Pada Sebuah Surat


-Sebuah fiksi

Aku tak percaya, jika akhirnya kamu dan aku dipertemukan di kota ini. Barangkali kamu tak akan pernah tahu, bahwa dahulu –dahulu sekali, aku mengagumimu. Sepanjang malam, menjelang lelap yang tak lama, pada posisi rebahan aku tak pernah selesai merapalkan do’a. Tentu do’a  itu tentang bagaimana aku dapat menjumpaimu dalam mimpi. Hal itu tak jarang aku lakukan, dan tak sering pula kesampaian. Aku selalu menuliskan cerita jika ketika aku bermimpi tentangmu. Indah sekali.

Separuh windu sudah kita tak pernah bertemu. Aku tahu kamu tak merasakan seperti apa yang aku rasakan. Tak pernah mengalami seperti apa yang aku alami. Perasaan ini terjadi begitu saja. Dan perasaan tak gampang dialihkan. Semenjak kamu hijrah ke kota karena sebuah titah, aku hanya berharap, ditempat seperti apapun kamu berada, kamu tetap baik-baik saja. Bahkan, setelah sekian lama tak pernah aku melihatmu lagi, aku berpikir bahwa kita akan dipersatukan di dunia yang lain. Barangkali setelah kematian. Baca lebih lanjut

Iklan

Di Bulan Agustus, Sri Selalu Sulit Melupa.


            Di saat bulan Agusutus seperti ini, dimana 3 tahun yang silam. Sri seorang gadis desa yang pernah menjadi pejuang devisa di negeri jauh di sana selalu mengingat. Ia belum lupa, tepatnya ia tak akan pernah sudi untuk melupanya. Saat dimana Sri, di hampiri oleh nasib yang sudah tentu di rasakannya sangat pahit, dan buruk. 
            Malam telah larut. Bintang tak berpendar malam itu. Sri, gadis desa yang 3 tahun lalu masih ada di tanah orang lain. Ada saat yang ia tak akan pernah lupa dalam riwayat hidupnya. Saat bagaimana Sri, (gadis desa itu) harus merelakan kehormatannya di rampas oleh sifat bejat majikannya. “Tujuanku pergi dari halaman rumah, bukan untuk menjual kehormatan”. Geming Sri, mengingatnya. Aku di paksa, aku di paksa. Gugatnya. Maafkan aku ibu, bapak dan semuanya. Sesungguhnya cita-citaku, ingin membahagiakan kalian, tapi apa daya semua telah usai, kesemuanya terlanjur terjadi. Biarlah ini menjadi garis kisah yang sumbing di tubuhku. 
            Sri, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga yang sangat tekun beribadah. Sebuah keluarga yang kesehariannya di lumuri oleh amal-amal kebaikan. Sebuah keluarga yang suci, bagaikan tak berasa ada sebintik noda kotor dalam kehidupan dalam detikan jarum jam. Sri sangat gembira, ia telah bekerja di sebuah keluarga yang tepat. Setidaknya Sri bersyukur saat itu, mengingat ia di terima dengan sangat baik di dalam  keluarga dimana ia di pekerjakan. Sebelumnya, ia memang tak pernah kenal dengan keluarga tersebut, bahkan ia sedikitpun tak tau kehidupan keluarga itu. 
            Sudah tak terasa, Sri telah mencapai usia 2 tahun masa baktinya dalam bekerja. Ia sangat bahagia, bahagia sekali. Siapa yang betah di negeri orang, sesungguhnya itu yang ada dalam benak pikirannya. Pada malam, ia selalu titipkan salam atas semua kerinduan yang ada pada tanah kampung dimana ia pernah di lahirkan. Ia selalu tak berhenti merapalkan do’a untuk keluarga yang jauh berada dalam kehidupannya. 
            Malam itu. Malam itu 3 tahun silam, tepat di bulan Agustus. Saat dimana Sri harus merasakan nasib buruk. Ia di paksa untuk melepaskan keperawanannya, sebuah kehormatan yang ia rawat dari sejak lahir. Juragan yang bejat. Juragan yang hanya bertameng pada segala keberpura-puraan. Luarnya saja yang baik, namun di dalam hatinya terdapat kehidupan binatang. Sri berontak malam itu. Namun ia tak dapat berbuat banyak, ia di ancam akan di bunuh jika tak mau mengiyakan kehendak nafsu bejat majikannya. Di dalam rumah itu hanya ada ia dan majikannya seorang, mengingat istri majikan berketepatan sedang liburan di luar kota bersama kedua anaknya. Sungguh ia tak dapat berbuat apa-apa. Selain permohonan kata “Jangan”, yang keluar dari mulutnya dengan nada memberontak.
            Malam itu dimana malam 3 tahun yang silam. Sri tak pernah untuk selesai mengingat. Selalu tak akan pernah lupa, oleh perbuatan bejat dan tak berkeperimanusiaan  yang di lakukan oleh majikannya. Jelas ia sedih, gelisah yang berlipat-lipat. Di dalam benak pikirannya ia selalu bertanya-tanya, kenapa majikannya yang tekun dan baik itu setega-teganya melakukan hal hina macam itu kepadanya. Sejak itu pula ia memahami, bahwa kebaikan luar, bukan pula kebaikan dalam. Banyak kepalsuan, yang sejatinya tak pernah ia mengerti selama ini. Berengsek, umpat Sri menggerutu. Luarnya saja yang baik, tapi di dalamnya tersimpan sikap binatang yang bejat. Bejat sekali. Bayangkan siapa sangka seorang majikan yang tekun dan banyak melakukan kebaikan, ternyata tega merenggut kehormatannya. Sungguh nista.
            Sejak kejadian itu pula, Sri memutuskan untuk berhenti bekerja pada keluarga tersebut. Pernah pada suatu hari ia melaporkan kejadian itu pada pihak yang berwajib. Namun, itu semua omong kosong. Tak pernah ada yang menggubris laporannya. Bahkan ia dituduh memfitnah, mencemarkan nama baik keluarga yang mana ia pernah bekerja. Ia hanya heran, dimana keadilan yang selalu di gembar-gemborkan. Lebih-lebih ia harus membayar uang denda karena ia telah memutus kontrak kerja. Sedangkan di lain sisi, bantuan dari negara sendiri tak banyak. Omong kosong. Hanya omong kosong belaka. Jangankan sebuah tindakan, aku mengajukan agar di adakannya otopsi saja tak di gubris. Barangkali apakah ini nasib yang harus di tanggung oleh orang miskin macam aku. Ucapnya.
            Saat ini, saat dimana 3 tahun telah berlalu, ia harus hidup dengan memelihara anak yang pernah ia lahirkan dari rahimnya sendiri. Anak yang sesungguhnya belum ia kehendaki lahir. Betapa tidak, karena anak itu hasil dari sikap bejat mantan majikannya. Namun, Sri paham, tepatnya sadar bahwa mau tak mau, suka atau tidak anak itu adalah anak kandungnya, di dalam tubuhnya mengalir juga darahnya. Semua telah berlalu, Sri sangat menyayangi anaknya tersebut. Meskipun ia tak pernah menghendaki adanya anak hasil dari keterpaksaan.
            Biarlah kata orang apa, aku harus siap menanggung keadaan ini dengan apa adanya. Meskipun orang-orang menyebut anakku, anak darah dagingku sendiri dengan sebutan anak haram. Bukankah ia juga mempunyai hak untuk di lahirkan juga. Entahlah, orang lain ingin  berkata seperti apa. Dan aku akan menyayangi selalu anakku ini, anak yang aku hasilkan dari merantau jauh, bekerja di negeri, yang awalnya bertujuan ingin membahagiakan keluarga.  
            Pada saat ini Sri hidup dengan berjualan tahu dan tempe di pinggir jalan. Ia berkehidupan secukupnya. Pada anaknya yang sudah beranjak besar, ia selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan yang tentu Sri ketahui apa itu baik dan buruk. Bukankah setiap orang mempunyai cara pandang tersendiri dalam menentukan hal-hal semacam itu. Entahlah, apa kata orang, aku juga tak mau terlalu menggubrisnya. Anakku juga mempunyai hak untuk aku sayangi dan cintai. Anakku juga sudah di takdirkan untuk lahir, menghirup udara bebas sama halnya dengan anak-anak seusianya. Ya, anakku mempunyai hak itu.
            Keluargaku awal mula enggan menerima keadaan ini, tapi akhirnya pun mereka juga terbuka. Karena di dalam sebuah kejadian entah baik dan buruk manusia harus akui bahwa nasib adalah serupa kutukan masing-masing. Barangkali, memang nasib yang paling baik tak pernah di lahirkan. Siapa juga yang tau kan?. Namun, yang terlibih utama ialah; selalu menjalani nasib itu, nasib yang terlanjur basah di lahirkan. Bukankah kita juga sudah terlahirkan ke dalam dunia yang fana ini. Penyesalan adalah serupa sikap bodoh, pasrah pun juga. Menjalani nasib dengan ketabahan barangkali sebuah jalan, jalan yang tak pernah berujung.
         
   Lalu, pada sebuah bulan Agustus, Sri selalu mengingat. Selain terdapat peristiwa besar bulan kemerdekaan, ia juga menyimpan nasib pahit. Saat dimana pula, pada bulan Agustus seperti ini ia harus terjajah.