Category Archives: cerita

Sebuah Malam Perjumpaan (2)


Pelan-pelan aku panggil namamu An….. Pelan-pelan kamu pun menjauh.. jauh, terus menjauh dan terus berkejauhan. Tapi aku percaya, kamu tak akan pernah menghilang.. Dalam angan, aku ingin membawa namamu pulang…

Teruntuk kamu An, yang sedang jauh dari jarak pandang.

Seusai perjumpaan malam itu, tiba-tiba kamu menjauh. Tak seperti lagi peristiwa sebelumnya. Setelahnya, aku tak dapat lagi berbuat apa-apa. Mulanya aku sadar diri. Mulanya aku juga memahami. Aku dan kamu, tak terjadi apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Tapi entahlah, kenapa sejak perjumpaan malam itu kesemuanya hampir menjadi tragis. Dalam malam aku terus berangan. Ingin membawa pulang, meskipun hanya sebuah nama. Senymmu yang lucu, suaramu yang bulat, tak dapat aku gambarkan lagi dengan kata-kata.

Sejak itu, dengan perantara Mozilla dan Opera, diam-diam aku terus memeriksamu, pelan-pelan aku terus mengunjungimu. Ya, semoga kamu disana dalam keadaan baik-baik saja. Dan aku disini juga baik-baik saja.

Hari terus berganti. Pagi, siang, sore malam terus berputar-putar. Semakin jauh hari, semakin lekat ingatanku. Karena mengingatmu tak akan pernah selesai. Aku tahu, setiap kelahiran tak di takdirkan sama. Berangkat dari hal itu, pelan-pelan aku paham, kamu dan aku menjadi beda. Tapi bukankah itu tak penting?

Sejak malam itu, sejak sebagaimana kita pernah di pertemukan, aku tak terbiasa dengan keadaan diam. Lalu, salah satu cara mengingatmu adalah dengan terus mengisahkannya dalam catatan harian.

(Bersambung)

Iklan

Sebuah Malam Perjumpaan (1)


Pada malam yang remang itu, kamu sambut aku dengan baju hitam dengan lengan pendekmu. Mulanya aku tak pernah mengira, bahwa aku akan betul-betul berjumpa denganmu. Malam itu, tanpa jas hujan, aku memberanikan diri menemuimu. Berjabat tangan denganmu. Menatap matamu, wajahmu, tubuhmu dan segala hal tentangmu. Malam itu, aku benar-benar menjumpaimu, aku tak sedang bermimpi. Bersama tas hitam kecilku, aku tahu, menemukanmu bagaikan mencari alamat jenazah dikuburan tanpa batu nisan. Rumit.!!

“Aku ingin bertemu denganmu. Sebentar saja”.

“Dalam rangka apa?” sahutmu.

“Tak ada, aku punya novel. Teruntuk kamu”.

“bukankah kita sama-sama manusia” sambungku

Pada malam perjumpaan itu, diam-diam aku menyimpan angan yang mendalam. Sepulangnya, di sepanjang trotoar jalan tiba-tiba aku menemukan senyummu. Gedung-gedung menjadi kamu, pos polisi menjadi kamu, penjual bakso menjadi kamu, di sepanjang jalan kota itu, kesemuanya serba kamu. Padahal aku tahu, kamu hanya sebagian dari perjumpaan. Hanya sebagiaan dari lintasan di mana aku pernah di pecundangi. Dikahalhkan oleh kenangan. Dihabisinya secara tuntas dan menyeluruh. Saat seperti ini, aku harus merasa kehilangan sebelum memiliki.

Saat pagi menjelang, aku terus mengingatmu. Pada jendela kamar rumah, aku serasa menemukan kembali senyummu di malam itu. menjabat tanganmu, menatap wajahmu, matamu, rambutmu dan seluruh tubuhmu. Sejak malam itu, aku keseringan lupa jalan pulang.

Bersambung (1)

Sudah Pagi.


Sudah pagi. Masih saja saya sulit untuk berpejam. Sedari tadi saya berselancar di dunia internet. Dunia yang tak asing lagi bagi kehidupan saya setiap-tiap hari. Saya juga ingin menulis apa ini, bingung. Resah berlipat-lipat. Salam Hangat. Saya hanya ingin mengisi blog cinta saya ini.

Kadang pengalaman yang biasa-biasa saja, ketika kita tuliskan akan menjadi cerita yang luar biasa. Saya hanya tak habis pikir. Lima tahun kedepan saya akan membaca ulang, mengingat kembali pada apa yang pernah saya tuliskan. Seru. Barangkali begitu. !

Malam Pergantian Alaf


_Seharusnya catatan ini saya posting sekitar dua minggu yang lalu.

Pagi itu saya kedapatan SMS dari salah seorang teman di Jember. Teman saya tadi bertanya tentang kapan akan datang ke Jember dan merayakan malam pergantian tahun. Saya yang pada waktu pagi itu pula kebetulan sedang ada di rumah. Habis pulang dari jalan-jalan menghabiskan pikiran yang buntu.

“Ketemu di warung kopi pojok pasar tanjung. Kita bernostalgia bung, mengingat 1 tahun yang lalu” bunyi sms teman saya tadi.

Sebenarnya saya sudah malas dengan segala hal tentang keramaian, bunyi bising kendaraan mesin dan sejenisnya itu. Saya berharap, ada tempat sunyi malam itu. Setidaknya orang tak akan pernah berbicara jika itu tak penting. Bagi saya kesunyian itu sebagian dari hal itu. Tapi sungguh saya terkesan oleh sms teman saya tadi yang bernada ada nostalgianya. Tanpa berpikir panjang saya pun meng-iyakan ajakan teman saya tadi. Baca lebih lanjut

Ngenet


Sudah tiga hari saya menghabiskan waktu di desa saya. Keadaan cukup banyak berubah, setidaknya sudah tidak lagi seperti waktu saya kecil dahulu. Para penghuni desapun banyak yang tidak saya kenali. Terlebih remaja desanya. Entah berapa lama saya jarang pulang kerumah, meskipun pulang paling-paling Cuma 1 atau 2 hari saja. Itupun jarang. Jika saya pulang, saya tidak keluar kemana-mana. Diam dikamar, laptopan, membaca buku, kadang cuma tiduran. Bahkan tetangga sebelah menganggap saya sudah agak gila dan kurang pergaulan. Bahkan, buruknya. Ada tetangga yang mengira saya telah terseret aliran sesat. Aaaiih. Baca lebih lanjut

dari sms, sampai di hati.


“Ada dimana, aku mau bicara sama kamu”. Bunyi SMS, pagi itu.
“Wah, aku baru bangun cuy, ini lagi di kontrakan”. Tulit…tuliitt.. bunyi balas SMS terkirim.
“Kamu mau kan ikut PJTD”. Balas SMS nya lagi.
“Ah, makanan apa itu PJTD”. Pikir saya, sambil bingung mau balas SMS seperti apa.
Kira-kira waktu itu masih pagi. Saat saya masih membujurkan badan setengah tak sadar. Saat saya mencoba memegang HP dan lalu melihatnya .
            Ojek, sapaan karibnya. Orang yang SMS pagi-pagi di saat saya masih asyik dalam ketidak separuh kesadaraan. Ojek, sengaja menjerumuskan saya, di dalam dunianya. Dengan seni meyakinkannya, saya teryakinkan olehnya. Ojek tak sendiri, bersama kroni-kroninya yang mencoba mengeroyok saya. Sebut saja nama itu Nurfitri Amina. Wanita kelahiran tanah Kalimantan sana.
            Tahun 2008 yang lalu, saya masih imut-imut. Berjalan penuh ketidak pastian. Lenggang sana, dan lenggang sini. Baju saya masih berbau wangi-wangian. Tangan saya masih bersih, bersih sekali. Cara bicara saya, masih seperti anak yang baru lahir. Saya ikut dalam dunia mereka.
“Kamu ikut PJTD ya, di LPM PIJAR Unej”. Ungkap Ojek dan Nur waktu itu.
“Ah, apa itu PJTD”. Tanya saya, pada kedua orang tua tersebut.
“Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar, sudahlah ikut saja, itung-itung juga cari ilmu”. Janji meyakinkan kedua orang tersebut.
            Tahun 2008 yang lalu, dengan ketidak jelasan saya. Akhirnya saya ikuti saran-saran mereka. Saya juga gak tau apa tujuan mereka menyuruh saya ikutan. Ah, biarlah mungkin mereka mengajak saya, karena saya terlanjur keren. He he he.
            LPK Mitra Universitas Islam Jember. Tak di sangka, mereka-mereka (inisial O dan N), menarik saya untuk menjadi awak di dalam lembaga pers kampus (nama dulu) itu. Ada-ada saja mereka berdua. Okelah kalau begitu, saya akan belajar disini. Dan tak di nyana, saya harus bertemu dengan makhluk yang bernama Mahrus Sholih. Lagi-lagi manusia ini. Bosen tau. Namun saya tak sendiri, satu angkatan 2008 tercipta pula manusia-manusia seperti : Imam Efendi, Ria Fauziyah, Anis Khoirunnisa’, I’anatus Sa’adah, dan yang lainnya lupa. Bersama mereka, saya mengabdi di sebuah LPK Mitra yang konon terbingkai dalam dunia journalisme.   
            Tahun 2008 yang lalu, saya masih lucu-lucunya. Seperti bayi, yang butuh kasih sayang ibu. Saya masih buta, –yah, katakana saja tak melek media–.
“Ampun Om Mahrus, saya gak tau kalau anda itu ternyata P.U (pemimpin umum). Kamu sih gak bilang-bilang kalau kamu sedang duduk di kursi kasta itu. maafkan saya ya om, ampun gusti”.
Saya sampai sekarang tak paham betul apa itu dunia journalisme. Saya gak mau disebut orang-orang macam itu, hanya saja, saya belajar di Lembaga pers kampus MITRA. Itu saja sudah cukup.
Saya pernah merasakan begitu menjengkelkan ketika menghadapi narasumber yang agak ‘acuh, berang dan sinis’. Saat itu saya ditugaskan untuk berwawancara dengan salah satu oknum di kampus saya. Masak, ketika saya wawancarai oknum tersebut malah asyik dengan main games. Ah, dasar manusia ‘acuh’. Tapi saya gak kalah dengan cara oknum tersebut. Dan akhirnya oknum itu mau saya wawancarai. (2008).
            Memang, saya masih buta –tak melek media–. Tapi, saya mencoba memahami dengan terus berkumpul dengan kawan-kawan di sana (yah walaupun jarang). Di dalam awak Mitra, saya bertemu dengan gadis ‘menjengkelkan’ macam Nurul Syamsiah. Tingkahnya seperti bola, yang siap di tendang oleh kaki. Orangnya keren, lucu, humoris, dan menjengkelkan. Toh, menjadi satu awak dengan mereka-mereka sangat menggoda. Ada pula nama Afandi, situkang otak-atik komputer. Setiap malam, orang ini berkreasi di depan monitor. Entah, apa yang ia sedang lakukan.
            Tahun 2009, kami mengenal istilah LPM (lembaga pers mahasiswa). Nah, dari istilah tersebut kami berancang-ancang untuk segera menyesuaikan. Mulai dari kesiapan teknis maupun non teknis. Saya harap, dengan adaptasi ini mereka-mereka memaklumi. Saya dan kawan-kawan, mencoba untuk segera berbenah. Lembaga ini sudah seharusnya meniru padi “kian merunduk di saat tambah berisi”. Tahun 2009 ini, saya tak lagi imut-imut. Saya tak lagi lucu-lucu. Kemandekan sebuah karya ‘lembaga’, sempat saya temui. Entah, apa yang terjadi. Di lembaga MITRA ini, saya menemukan dunia. Ya, dunia yang membuat saya betah, walaupun banyak tantangan.  
             Tahun 2010 kemarin. LPK Mitra tepat pada hari jadinya, tanggal 18 September 2010. LPK dengan harus menyesuaikan nama menjadi LPM. Kami juga tak tau, aturan mana yang mengatur itu. Ah, terpenting bagi saya bagaimana Lembaga ini segera berbenah. Di tahun 2010 ini, saya tak lagi harus berias-rias, berimut-imut atau necis-necisan. Saya DKK, harus segera berbenah diri. Secara lembaga ataupun personal. Persoalan kerap acap kali terjadi, mulai dari birokrasi kampus yang ‘ngeyel, ruwet, dan jlimet’, sampai persoalan individu-individu. Bagi  saya, semua itu adalah proses. Dan proses itu harus di lalui.
            Tahun 20010 kemrin. Estefet kepemimpin berganti. Akhir tahun 2010, orde Mahrus Sholih tergulingkan. Eh, apes tongkat estafet tersebut jatuh pada “bocah edan”. Saya tak ingin, lembaga ini terdiam. Selain lembaga ini sebagai media pembelajaran, sudah seharusnya lembaga ini juga mampu untuk mencerahkan. Ada hal yang beda ketika saya mengabdi di dunia lembaga ini. Saya merasa nyaman, dan geleng-geleng ketika harus berbincang tentang dunia lembaga ini. Saya betah, dan saya rela ketika harus duduk bersama walaupun satu hari tak mandi, tak bersalin sandang, atau tak lagi mapan. Apa ini yang di namakan dunianya dunia. Ah, biarlah, saya akan terus belajar dan mengabdi.
            Tahun 2011 kini. LPM MITRA UIJ, siap berbenah. S.K, belum turun. “Ke-ngeyelan, ke-ruwetan, ke-jlimetan” birokrasi kampus tak membuat lembaga ini gamang. Sejatinya paradigma busuk haruslah di hapus. Kami memang perlu dukungan dari pihak kampus. Dalam segi finansial, bukankah kami punya hak, sejatinya kami tak minta, karena kami punya hak untuk itu. Namun, dewasa ini, paradigma itu di putar balikkan. Kami datang untuk melawan –yang harus dilawan-, dan kami datang untuk berkawan –pada yang harus berkawan–, kami bukan datang untuk bersenang, bersulang dengan segelas ‘arak’ tuan. Kami bukan pelacur tuan.  
           Tahun 2011 kini. Perekrutan anggota baru sudah di laksanakan.
Saya ucapkan “Selamat datang pada sang kawan, mari kita saling berbagi”. Kepada mereka-mereka.
Adalah saya, yang pada waktu pertama kali masuk menjadi awak Mitra di jadikan sebagai pencari sponsor. Aih, posisi itu tak membuat saya beda. Alangkah tak lucu, ketika seorang yang ngakunya ‘persma’ belum pernah menulis satu beritapun. Terkutuk !
  Jember 14 Februari 2011.