Category Archives: CatatanBiasa

Pilihan


“Ketidak pastian membuat kita merdeka”—L. Bernstein.

Sore itu tampak tak sedang hujan. Saya sedang asyik membaca buku dan catatan pinggir karya Goenawan Mohamad. Secangkir kopi –buatan sendiri , menjadi pelengkap. Melebihi sepasang kekasih yang sedang kehujanan. Ponsel tiba-tiba berdering, tanda panggilan dari nomor asing yang tak saya kenali. Kawan lama, musuh lama. Sahabat sekaligus saudara. Basa-basi silih berganti, bak seorang pelacur sedang negoisasi dengan calon pembeli. “Cepat nikah, hidupmu sudah tak jelas saat ini”, katanya. Memang ketika saya nikah ada jaminan hidup saya jelas? Jelas yang bagaimana? Sukseskah? Apa ukuran dari semua itu? Sungguh membuat saya bertanya-tanya. Mengusik.

Saya paham, apa yang di ucapkannya merupakan sebuah gurauan, boleh jadi juga sindiran. Tentang sikap lelucon yang saya lakukan akhir-akhir ini. Nasib kuliah yang tak jelas, hidup tak jelas, aktifitas tak jelas dan lain sebagainya. Barangkali, saya satu-satunya sahabat yang telah gagal menjadi sarjana. Saya satu-satunya kawan yang gagal membawa pulang selembar kertas bertuliskan “Ijazah”. Saya, barangkali pula, satu-satunya orang yang tak dapat membahagiakan kedua orang tua. Ya, saya hidup pada garis ketidak pastian.

Tetapi ini masalah pilihan hidup. Penyikapan tentang hidup. Lucunya, kebanyakan orang kian menyepakati, bahwa dunia ini semakin tak bisa di pahami. Sementara itu, kehidupan yang kita jalani saat ini berada dalam lingkungan yang serba lucu. Wakil rakyat korupsi, media di politisasi, ketidak adilan semakin menjadi-jadi, kekerasaan atas nama agama dan seterusnya. Uniknya lagi, banyak orang yang –dulunya, ngaku aktivis malah ramai-ramai ikut dalam lingkaran konspirasi. Tapi itu hidup. Pilihan dan penyikapan. Konon, dengan hal-hal seperti itu cara mereka memahami realitas.

Dalam kehidupan, sebetulnya cita-cita saya sangat sederhana –mencuci baju sendiri. Tentu saja tak segampang yang anda pikirkan. Ketidak pastian pada hidup itu pulalah kehadiran sebuah hidup yang abstrak tetapi istimewa. Saat saya bercita-cita mengumpulkan buku, atau membuat perpustakaan kecil apakah saya tergolong “orang” yang berkelumit dalam lubang ketidak pastian? Atau setelah saya lulus kuliah kemudian pulang kerumah menjadi petani merupakan pilihan yang keliru? Ataukah saya memilih mengakhiri kelajangan kemudian bisa di katakan sukses? Bagi saya, tidak ada ukuran dalam hal ini.

Dalam kehidupan, bukan dalam ‘ukuran’, orang akan terus merasakan kecemasan-kecemasan. Pada titik tertentu pastilah berkecamuk dalam kejenuhan dengan tersendirinya. Maka, jika hal itu menghampiri dan orang tak menemukan lagi tempat sandaran –paling tidak media untuk curhat, dalam memandang masa depannya, bukan hal aneh jika seseorang pergi ke paranormal, dukun atau kyai yang setengah dukun. Atau ikut menjadi partisipan ‘konspirasi’ yang lucu itu dalam memandang bagaimana sesungguhnya hidup “yang” realitas.

Nah, sebenarnya pada babakan tersebut siapa yang bersembunyi dalam kehidupan. Ketidak pastian hidup yang saya jalani merupakan sebuah hal yang sebetulnya kompleks persoalan. Tapi –sekali lagi, inilah hidup. Sesaat tapi abadi, keabadian yang sangat sementara. Sesungguhnya, ketidak pastian dalam hidup bukanlah satu-satunya kabar buruk. Sungguh bukan. Kata Brenstein “Ketidak pastian membuat kita merdeka”. Tentu bukan hidup yang serba ‘ukuran”. Jika hidup ialah kerja kemudian menjadi apa. Bagi saya tak cukup adil. Kerja adalah ruang aktualisasi. Intinya tetap, pada apa yang telah saya citakan, bukan hidup yang serba ukuran.

Dalam babakan fragmentasi yang lain, hidup merupakan sejenis pengembaraan. Perjalanan panjang yang melelahkan. Ah, barangkali saya sok tahu. Bukankah hidup terlalu rumit untuk kita terjemahkan? Maka bukan aneh jika saya atau anda menggunakan pengertian hidup sendiri. Horatius, penulis puisi terkemuka di Roma abad ke 7 sebelum Masehi berucap “Sapere Aude”. –Berani bijak. Maka, untuk menuju kedewasaan “Sapere Aude”, ialah mereka –manusia yang berkitab sendiri. Jika saja hidup hanya di imani dengan ‘’ukuran-ukuran’’ maka saya yakin tak ada yang ingin di lahirkan.

Hidup bukan persoalan makan tahu, tempe, pizza, roti, minum susu, minum kopi, naik becak, naik kapal, dan atau seterusnya Bung. Meletakkan sebuah keputusan memiliki kenikmatan dan arti tersendiri. Saat seseorang telah menjatuhkan sebuah keputusan –mengambil sikap, sesungguhnya disitulah seseorang itu meruntuhkan dunia.

Hari kian sore. Senja setengah temaram. Secangkir kopi hanya tinggal ampasnya. Dengan pelan rokok berbatang-batang terus saja saya nikmati. Ah, saya rupanya masih saja menjadi pembual. Toh cita-cita hidup saya sederhana –Mencuci baju sendiri. Silakan anda terjemahkan sendiri.

**Jember 16 Juni 2013

Sebuah Malam Perjumpaan (1)


Pada malam yang remang itu, kamu sambut aku dengan baju hitam dengan lengan pendekmu. Mulanya aku tak pernah mengira, bahwa aku akan betul-betul berjumpa denganmu. Malam itu, tanpa jas hujan, aku memberanikan diri menemuimu. Berjabat tangan denganmu. Menatap matamu, wajahmu, tubuhmu dan segala hal tentangmu. Malam itu, aku benar-benar menjumpaimu, aku tak sedang bermimpi. Bersama tas hitam kecilku, aku tahu, menemukanmu bagaikan mencari alamat jenazah dikuburan tanpa batu nisan. Rumit.!!

“Aku ingin bertemu denganmu. Sebentar saja”.

“Dalam rangka apa?” sahutmu.

“Tak ada, aku punya novel. Teruntuk kamu”.

“bukankah kita sama-sama manusia” sambungku

Pada malam perjumpaan itu, diam-diam aku menyimpan angan yang mendalam. Sepulangnya, di sepanjang trotoar jalan tiba-tiba aku menemukan senyummu. Gedung-gedung menjadi kamu, pos polisi menjadi kamu, penjual bakso menjadi kamu, di sepanjang jalan kota itu, kesemuanya serba kamu. Padahal aku tahu, kamu hanya sebagian dari perjumpaan. Hanya sebagiaan dari lintasan di mana aku pernah di pecundangi. Dikahalhkan oleh kenangan. Dihabisinya secara tuntas dan menyeluruh. Saat seperti ini, aku harus merasa kehilangan sebelum memiliki.

Saat pagi menjelang, aku terus mengingatmu. Pada jendela kamar rumah, aku serasa menemukan kembali senyummu di malam itu. menjabat tanganmu, menatap wajahmu, matamu, rambutmu dan seluruh tubuhmu. Sejak malam itu, aku keseringan lupa jalan pulang.

Bersambung (1)

Mengenang Kembali, Mengingat Yang Sudah.


Mulanya saya tidak akan pernah sudi untuk melanjutkan pendidikan tingkat tinggi. Cita-cita saya setelah lulus sekolah dasar akan pergi jauh untuk mengais rezki. Membahagiakan kedua orang tua, setidaknya dengan tidak lagi memungut uang jajan dari tabungan orang tua. Tapi ibu, ibu orang satu-satunya yang terus memaksa saya untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang sangat tinggi. Bahkan, ibu saya siap memenuhi apa saja permintaan saya, asal saya terus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kalau Bapak orangnya santai, tapi mengena. Bahkan tentang pendidikan saya, bapak tak terlalu memaksa. Waktu itu bapak selalu mengungkapkan kata “Biarkan waktu yang menjawab”. Ungkap bapak terkait masa depan pendidikan saya.

Hari itu –saya lupa hari apa, tak terasa saya sudah duduk di kelas 1 sekolah menengah pertama, di salah satu sekolah swasta yang berada di desa saya. Saya merupakan salah satu murid yang pandai mengartikan bahasa arab. Suatu ketika, saat ujian datang pernah saya mendapatkan nilai yang fantastis. Soal 10 tidak ada yang salah. Bahkan guru bahasa arab SMP waktu itu keheranan. Baca lebih lanjut

Sudah Pagi.


Sudah pagi. Masih saja saya sulit untuk berpejam. Sedari tadi saya berselancar di dunia internet. Dunia yang tak asing lagi bagi kehidupan saya setiap-tiap hari. Saya juga ingin menulis apa ini, bingung. Resah berlipat-lipat. Salam Hangat. Saya hanya ingin mengisi blog cinta saya ini.

Kadang pengalaman yang biasa-biasa saja, ketika kita tuliskan akan menjadi cerita yang luar biasa. Saya hanya tak habis pikir. Lima tahun kedepan saya akan membaca ulang, mengingat kembali pada apa yang pernah saya tuliskan. Seru. Barangkali begitu. !

Sebuah Tugas 1


Apapaun hal itu. Tertanggal 29 Maret 2012 adalah hari yang tak pernah sanggup saya lupakan. Tantangan dalam kehidupan saya mulai digelar. Hal ini bukan karena saya patah hati karena putus cinta, bahkan hari keramat karena baru jadian. Sungguh bukan kedua hal itu. Biar saya lanjut dari cerita kecerita tentang pengalaman dan tntangan baru dalam perjalanan hidup saya. Saksikan saja terus.

-Bukan-, Jawaban Atas SMS Seorang Kawan.


Pagi setengah siang itu saya sedang ngobrol asyik disebuah warung kopi. Hal ini menjadi sebuah agenda rutin serupa ritual kebudayaan yang kian hari kian saya gemari. Ponselpun berbunyi. Saya kelimpahan berkah akibat dapat sms dari salah seorang sahabat –sebut saja ia Mahrus Sholih. Isinya tentang gunjingan sepakbola. Tragedi kerusuhan sampai hilangnya ribuan nyawa. Saya yakin, sms yang saya dapat merupakan hasil renungan dari ajakan saya untuk menonton sebuah pertandingan Persid Jember di stadion Nothohadinegoro beberapa waktu yang lalu. Mahrus –yang saya tahu, memang bukan penggemar sepakbola. Setahu saya, ia mengidolakan permainan catur yang mengandalkan langkah kuda dan pion, atau permainan domino dengan konsekuensi malu akibat kalah tekanan mental dari lawan. Dilain itu, saya kurang begitu paham. Setelahnya, tentu saja saya mengumpat dengan keras. ! Baca lebih lanjut

Suatu Saat


Suatu saat saya ingin pergi ke Spanyol. Menonton laga Elclasico Barcelona Vs Real Madrid. Setelahnya itu saya akan keliling, dan menulis apa yang saya lihat.

Sebelum hal itu terjadi. Seharusnya saya tahu, bahwa perjalanan panjang ialah melelahkan. Dilain sisi juga mengasyikkan. Jangankan ke Spanyol cita-cita saya untuk pergi ke Jogjakarta saja belum pernah kesampaian. Saya mempunyai satu cita untuk jalan-jalan lalu menuliskan apa yang saya lihat. Entah kapan hal itu akan terwujud. Tapi saya yakin. Suatu saat keinginan saya akan tercapai. Dan saya dapat menuliskan sesuatu atas jalan-jalan saya tadi. Konon, di Jogja ada candi Borobudur, banyak buku, dan seniman-seniman ternama. Belum lagi soal budaya membaca dan menulisnya. Wah, sangat menyenangkan jikalau bisa bertatap muka dengan mereka-mereka. Tapi kapan ya?

Jika diberi kesempatan. Saya akan naik bus, atau kereta api. Saya akan memulai mencatat dari saya masuk pintu peron atau sebuah pintu gerbong kereta api kelas ekonomi. Saya akan menceritakan apa yang saya lihat di sepanjang jejalanan. Saya merindukan hal itu. Dan akan ada harapan untuk hal-hal yang kita rindukan. Tapi rupanya semua itu akan sia-sia saja. Kenapa tidak. Jika saya hanya omong kosong tanpa upaya untuk berjalan setapak menuju apa yang saya citakan bukankah itu hanya omong kosong. Baca lebih lanjut