Category Archives: catatan Saya

Sebuah Tugas 1


Apapaun hal itu. Tertanggal 29 Maret 2012 adalah hari yang tak pernah sanggup saya lupakan. Tantangan dalam kehidupan saya mulai digelar. Hal ini bukan karena saya patah hati karena putus cinta, bahkan hari keramat karena baru jadian. Sungguh bukan kedua hal itu. Biar saya lanjut dari cerita kecerita tentang pengalaman dan tntangan baru dalam perjalanan hidup saya. Saksikan saja terus.

Iklan

-Bukan-, Jawaban Atas SMS Seorang Kawan.


Pagi setengah siang itu saya sedang ngobrol asyik disebuah warung kopi. Hal ini menjadi sebuah agenda rutin serupa ritual kebudayaan yang kian hari kian saya gemari. Ponselpun berbunyi. Saya kelimpahan berkah akibat dapat sms dari salah seorang sahabat –sebut saja ia Mahrus Sholih. Isinya tentang gunjingan sepakbola. Tragedi kerusuhan sampai hilangnya ribuan nyawa. Saya yakin, sms yang saya dapat merupakan hasil renungan dari ajakan saya untuk menonton sebuah pertandingan Persid Jember di stadion Nothohadinegoro beberapa waktu yang lalu. Mahrus –yang saya tahu, memang bukan penggemar sepakbola. Setahu saya, ia mengidolakan permainan catur yang mengandalkan langkah kuda dan pion, atau permainan domino dengan konsekuensi malu akibat kalah tekanan mental dari lawan. Dilain itu, saya kurang begitu paham. Setelahnya, tentu saja saya mengumpat dengan keras. ! Baca lebih lanjut

Mimpi Pada Sebuah Surat


-Sebuah fiksi

Aku tak percaya, jika akhirnya kamu dan aku dipertemukan di kota ini. Barangkali kamu tak akan pernah tahu, bahwa dahulu –dahulu sekali, aku mengagumimu. Sepanjang malam, menjelang lelap yang tak lama, pada posisi rebahan aku tak pernah selesai merapalkan do’a. Tentu do’a  itu tentang bagaimana aku dapat menjumpaimu dalam mimpi. Hal itu tak jarang aku lakukan, dan tak sering pula kesampaian. Aku selalu menuliskan cerita jika ketika aku bermimpi tentangmu. Indah sekali.

Separuh windu sudah kita tak pernah bertemu. Aku tahu kamu tak merasakan seperti apa yang aku rasakan. Tak pernah mengalami seperti apa yang aku alami. Perasaan ini terjadi begitu saja. Dan perasaan tak gampang dialihkan. Semenjak kamu hijrah ke kota karena sebuah titah, aku hanya berharap, ditempat seperti apapun kamu berada, kamu tetap baik-baik saja. Bahkan, setelah sekian lama tak pernah aku melihatmu lagi, aku berpikir bahwa kita akan dipersatukan di dunia yang lain. Barangkali setelah kematian. Baca lebih lanjut

Suatu Saat


Suatu saat saya ingin pergi ke Spanyol. Menonton laga Elclasico Barcelona Vs Real Madrid. Setelahnya itu saya akan keliling, dan menulis apa yang saya lihat.

Sebelum hal itu terjadi. Seharusnya saya tahu, bahwa perjalanan panjang ialah melelahkan. Dilain sisi juga mengasyikkan. Jangankan ke Spanyol cita-cita saya untuk pergi ke Jogjakarta saja belum pernah kesampaian. Saya mempunyai satu cita untuk jalan-jalan lalu menuliskan apa yang saya lihat. Entah kapan hal itu akan terwujud. Tapi saya yakin. Suatu saat keinginan saya akan tercapai. Dan saya dapat menuliskan sesuatu atas jalan-jalan saya tadi. Konon, di Jogja ada candi Borobudur, banyak buku, dan seniman-seniman ternama. Belum lagi soal budaya membaca dan menulisnya. Wah, sangat menyenangkan jikalau bisa bertatap muka dengan mereka-mereka. Tapi kapan ya?

Jika diberi kesempatan. Saya akan naik bus, atau kereta api. Saya akan memulai mencatat dari saya masuk pintu peron atau sebuah pintu gerbong kereta api kelas ekonomi. Saya akan menceritakan apa yang saya lihat di sepanjang jejalanan. Saya merindukan hal itu. Dan akan ada harapan untuk hal-hal yang kita rindukan. Tapi rupanya semua itu akan sia-sia saja. Kenapa tidak. Jika saya hanya omong kosong tanpa upaya untuk berjalan setapak menuju apa yang saya citakan bukankah itu hanya omong kosong. Baca lebih lanjut

Malam Pergantian Alaf


_Seharusnya catatan ini saya posting sekitar dua minggu yang lalu.

Pagi itu saya kedapatan SMS dari salah seorang teman di Jember. Teman saya tadi bertanya tentang kapan akan datang ke Jember dan merayakan malam pergantian tahun. Saya yang pada waktu pagi itu pula kebetulan sedang ada di rumah. Habis pulang dari jalan-jalan menghabiskan pikiran yang buntu.

“Ketemu di warung kopi pojok pasar tanjung. Kita bernostalgia bung, mengingat 1 tahun yang lalu” bunyi sms teman saya tadi.

Sebenarnya saya sudah malas dengan segala hal tentang keramaian, bunyi bising kendaraan mesin dan sejenisnya itu. Saya berharap, ada tempat sunyi malam itu. Setidaknya orang tak akan pernah berbicara jika itu tak penting. Bagi saya kesunyian itu sebagian dari hal itu. Tapi sungguh saya terkesan oleh sms teman saya tadi yang bernada ada nostalgianya. Tanpa berpikir panjang saya pun meng-iyakan ajakan teman saya tadi. Baca lebih lanjut

Blog


Saya memang tidak ingat betul kapan saya membuat sebuah blog. Yang masih saya ingat ialah saat saya membuat blog di blogger. Mulanya blog saya buat untuk sekedar curhat-curhat. Semua tahu, bahwa penderitaan tak dapat ditanggung sendirian. Setidaknya pada sebuah blog pulalah saya bergumam. Baca lebih lanjut

Malam Yang Remang Untuk Kekasihku


“Akumencintai malam. Malam yang remang, sunyi dan menggigil, bukan malam yangpengap”.
            Malam itu kamu sambut aku denganrambut hitam terurai. Tepat di sebuah simpang tiga, bersebelahan dengan POMbensin dekat rumah kamu. Selain kamu sambut aku dengan rambut hitam terurai,pada malam itu pula kamu menawarkan senyum pada bibir sempitmu. Rok setengahmini pun menemui. Malam itu, sebagaimana yang aku tahu, malam awal pertama kitabertemu.
            Sebagaimana yang aku tahu. Kamu bukanlahseorang perempuan pemalu. Perempuan yang sangat akrab pada semua jenis. Lalupada sebuah buku, aku menawarkan perkenalan namaku kepadamu. Barangkali hal ituasing bagimu. Seorang lelaki yang membawakan sebuah buku, bukan bunga atausejenisnya. Maaf malam itu, saat malam awal kita bertemu aku memakai pakaianyang serampangan. Baju lusuh, celana pun robek rombongen. Itu pun yang masihtersisa dan –aku rasa- yang masih nyaman aku gunakan sebagai penutup tubuh.Jika kamu merasa rikuh dengan keadaanku, tak apa. Setidaknya aku sudah menjadiseorang yang apa adanya. Bukan aku tak mau, memang aku tak butuh hal yang serbarikuh itu. Aku tak suka meniru. Baca lebih lanjut