Category Archives: Catatan hampir akhir pekan

Sudah Pagi.


Sudah pagi. Masih saja saya sulit untuk berpejam. Sedari tadi saya berselancar di dunia internet. Dunia yang tak asing lagi bagi kehidupan saya setiap-tiap hari. Saya juga ingin menulis apa ini, bingung. Resah berlipat-lipat. Salam Hangat. Saya hanya ingin mengisi blog cinta saya ini.

Kadang pengalaman yang biasa-biasa saja, ketika kita tuliskan akan menjadi cerita yang luar biasa. Saya hanya tak habis pikir. Lima tahun kedepan saya akan membaca ulang, mengingat kembali pada apa yang pernah saya tuliskan. Seru. Barangkali begitu. !

Iklan

Malam Pergantian Alaf


_Seharusnya catatan ini saya posting sekitar dua minggu yang lalu.

Pagi itu saya kedapatan SMS dari salah seorang teman di Jember. Teman saya tadi bertanya tentang kapan akan datang ke Jember dan merayakan malam pergantian tahun. Saya yang pada waktu pagi itu pula kebetulan sedang ada di rumah. Habis pulang dari jalan-jalan menghabiskan pikiran yang buntu.

“Ketemu di warung kopi pojok pasar tanjung. Kita bernostalgia bung, mengingat 1 tahun yang lalu” bunyi sms teman saya tadi.

Sebenarnya saya sudah malas dengan segala hal tentang keramaian, bunyi bising kendaraan mesin dan sejenisnya itu. Saya berharap, ada tempat sunyi malam itu. Setidaknya orang tak akan pernah berbicara jika itu tak penting. Bagi saya kesunyian itu sebagian dari hal itu. Tapi sungguh saya terkesan oleh sms teman saya tadi yang bernada ada nostalgianya. Tanpa berpikir panjang saya pun meng-iyakan ajakan teman saya tadi. Baca lebih lanjut

Desa


Kamis 12 Januari 2012 kemarin saya pulang kerumah. Adik saya sedang sakit. Saya sebenarnya tidak tahu, kalau adik saya rupanya sedang sakit. Kepulangan saya hanya kebetulan saja. Waktu itu sangat masih pagi. Saya mengendarai sepeda motor dari Jember menuju Kecamatan Gumukmas. Dusun Jatiagung tepatnya saya pernah dilahirkan. Rumah saya juga berada disitu.

“Oh, untung kamu pulang. Adikmu sedang sakit, nanti malam ibu mau kepondok menghadiri acara khoul. Kamu dirumah jaga adikmu ya”. Kata Ibu menyambut kepulangan saya.

Terlihat bapak yang sedang duduk sambil meminum secangkir kopi. Saya mendekatinya hendak akan bersalaman dan mencium tangannya. Kebiasaan Bapak selalu tak terlewatkan. Baca lebih lanjut

Blog


Saya memang tidak ingat betul kapan saya membuat sebuah blog. Yang masih saya ingat ialah saat saya membuat blog di blogger. Mulanya blog saya buat untuk sekedar curhat-curhat. Semua tahu, bahwa penderitaan tak dapat ditanggung sendirian. Setidaknya pada sebuah blog pulalah saya bergumam. Baca lebih lanjut

Ngenet


Sudah tiga hari saya menghabiskan waktu di desa saya. Keadaan cukup banyak berubah, setidaknya sudah tidak lagi seperti waktu saya kecil dahulu. Para penghuni desapun banyak yang tidak saya kenali. Terlebih remaja desanya. Entah berapa lama saya jarang pulang kerumah, meskipun pulang paling-paling Cuma 1 atau 2 hari saja. Itupun jarang. Jika saya pulang, saya tidak keluar kemana-mana. Diam dikamar, laptopan, membaca buku, kadang cuma tiduran. Bahkan tetangga sebelah menganggap saya sudah agak gila dan kurang pergaulan. Bahkan, buruknya. Ada tetangga yang mengira saya telah terseret aliran sesat. Aaaiih. Baca lebih lanjut

Malam Yang Remang Untuk Kekasihku


“Akumencintai malam. Malam yang remang, sunyi dan menggigil, bukan malam yangpengap”.
            Malam itu kamu sambut aku denganrambut hitam terurai. Tepat di sebuah simpang tiga, bersebelahan dengan POMbensin dekat rumah kamu. Selain kamu sambut aku dengan rambut hitam terurai,pada malam itu pula kamu menawarkan senyum pada bibir sempitmu. Rok setengahmini pun menemui. Malam itu, sebagaimana yang aku tahu, malam awal pertama kitabertemu.
            Sebagaimana yang aku tahu. Kamu bukanlahseorang perempuan pemalu. Perempuan yang sangat akrab pada semua jenis. Lalupada sebuah buku, aku menawarkan perkenalan namaku kepadamu. Barangkali hal ituasing bagimu. Seorang lelaki yang membawakan sebuah buku, bukan bunga atausejenisnya. Maaf malam itu, saat malam awal kita bertemu aku memakai pakaianyang serampangan. Baju lusuh, celana pun robek rombongen. Itu pun yang masihtersisa dan –aku rasa- yang masih nyaman aku gunakan sebagai penutup tubuh.Jika kamu merasa rikuh dengan keadaanku, tak apa. Setidaknya aku sudah menjadiseorang yang apa adanya. Bukan aku tak mau, memang aku tak butuh hal yang serbarikuh itu. Aku tak suka meniru. Baca lebih lanjut

Tentang Kemelut Bola Liar PSSI.


“Catatan ini memang tertunda, saya kira juga tak apa. Kepada semua yang mengaku ingin menjadi orang atau kelompok yang bertujuan memajukan sepakbola tanah air. Selama Revolusi PSSI orientasinya kekuasaan, maka kalian busuk semua. (Kegagalan apa lagi yang akan kalian sukseskan)”.

Saya memang tak pernah bermain-main dalam hal cita-cita. Seperti cita-cita saya yang ingin sekali menjadi seorang pemain sepakbola profesional. Ah, pokoknya saya ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Berlatihlah dengan penuh serius. Waktu malam saya tak boleh lelap hingga larut, paling-paling jam 21.00, sudah mulai mapan disebuah ranjang. Pagi hari, saya sudah diharuskan bangun. Biasanya pada waktu hari sebelum sarapan pagi saya melakukan aktifitas senam, jig-jag dan sejenisnya itu.

Sore telah tiba,langit sangat cerah kala itu. seperti biasanya, aktifitas latihan main bola segeralah dipacu. Jarak antara lapangan bola dan rumah saya, tak dekat amat, tapi juga tak jauh. Saya bahkan sering berlari, jika hendak akan berlatih sepak bola. Saya seorang yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola, anak yang lahir dari keluarga yang sederhana. Bercita-cita ingin menjadi sepak bola profesianal. Siapa sih, yang gak mau mengharumkan nama bangsanya?

Terpampanglah photo-photo para pemain bintang sepakbola dunia dikamar saya. Tak ketinggalan pula, gambar photo gagahnya pemain timnas Indonesia yakni Bambang Pamungkas. Ya, dulu saya ingin seperti Bambang Pamungkas. Tapi, apakah cita-cita saya dapat kesampaian, melihat kondisi bangsa kita saat ini?. Memang tak dapat dipungkiri, jika harus masuk seleksi tim harus punya orang dalam. Apalagi jika kemampuan skil pas-pasan. Tapi, cita sudah saya bentang disebuah jalan, meskipun pada akhirnya saya gagal karena melihat usia. Belum lagi realitas persoalan uang. Saya juga heran, kenapa bangsa ini penuh hal semacam ini.

Belum lagi perihal tatakelola petinggi sepakbola tanah air yang ada di atas sana, sebut saja ia PSSI, badan otoritas tertinggi sepakbola Indonesia. Coba kita lihat pada gelaran piala AFF 2010 kemarin. Penampilan Irfan Bachdim dkk, sejatinya bukan perwakilan suksesnya PSSI. Amburadulnya system penjualan tiketlah yang menunjukkan belum siapnya pihak terkait menyelenggarakan pertandingan bertaraf internasional. Nurdin Halid yang menjabat ketua PSSI kala itu, menunjukkan kegagalan yang kesekian kalinya. Nurdinlah yang layak kita katagorikan penguasa otoriter PSSI. Orde dualisme liga, dengan lahirnya liga tandingan macam LPI gagasan Arifin Panigoro.

Pada akhir jabatannya pula Nurdin Halid masih ingin ngotot menduduki jabatan ketua umum PSSI. Entah, kegagalan mana lagi yang akan dipersiapkannya. Sungguh tak malu. Kengototan Nurdin Halid sempat membuat gaduh publik. Sehingga FIFA yang merupakan otoritas sepakbola tertinggi di dunia harus membuat komisi normalisasi. Yang mana Agum Gumelar lah terpilih sebagai ketuanya. Tak sebatas disitu, serakahnya beberapa pihak turut memperburuk citra sepakbola Indonesia di mata dunia. Ini terlihat kisruh yang terjadi di beberapa konggres PSSI. Kelompok-kelompok tertentu yang hemat saya tak paham betul tentang sepakbola. Jika revolusi PSSI orientasinya ialah kekuasaan, maka hanya omong kosonglah mereka semuanya.

Saat ini sepakbola tanah air sedang berada pada titik nadir. Belum terpilihnya ketua PSSI yang baru, membuat Indonesia terancam sanksi. Pemerintah harus bijak dalam mengambil sikap. Jangan interfensi atau malah acuh terhadap persoalan ini. Apa yang harus dilakukan, duduk bersama, berpikir kedepan dan stop perebutan kekuasaan. Toh, sepakbola Indonesia bukan milik golongan. Saya kian tak paham apa maksud dan tujuan kelompok yang mengatasnamakan 78. Sebuah perubahan bukan perebutan kekuasaan, sepakbola tanah air harus jauh dari orang-orang yang tak paham aturan sepakbola. Belum di rumput hijau lapangan, dalam rembug saja mereka sudah jauh dari fairplay.

Sudah saatnya sepakbola tanah air jauh dari orang-orang macam Nurdin Halid dan yang serupanya. LPI jelas lahir karena ketidak puasan, atau merasa tidak percaya oleh orde Nurdin. Akan tetapi, kelahiran LPI seharusnya juga harus kita pertanyakan, seperti halnya kelompok 78 apa itu arti sepakbola yang menjunjung tinggi sportifitas. Kemelut bola liar yang disebabkan oknum yang tidak bertanggungjawab membuat timnas kacau balau. Ini seharusnya tidak terjadi jika semua pihak saling memahami. Dan dari kemelut PSSI inilah sepakbola Indonesia terancam sanksi dari FIFA.

Akhirnya semua pihak harus sadar diri. Sebentar lagi timnas senior Indonesia akan berlaga pada babak pra Piala dunia 2014 nanti, dan timnas U-23 yang akan berlaga pada kejuaraan Sea Games 2011 yang sebentar lagi digelar. Jika FIFA menjatuhkan sanksi bagi Indonesia, maka harapan tersebut akan gagal seluruhnya. Belum lagi pada klub Persipura Jaya pura yang sedang Berjaya mengarungi AFC cup, dan akan berlaga pada Liga Champhions Asia mewakili Indonesia. Sekedar pertanyaan, jika FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia, masyarakat penggila bola jelas yang dirugikan. Siapa yang akan bertanggung jawab?

Renungkan.!

Gambar dari;google

Juni 2011