Monthly Archives: Oktober 2015

Singkat


Tidur tak butuh kasur, juga tak butuh bantal. Tetapi perlu sebuah kantuk yang serius. Sudah lama saya mengidap insomnia, sebuah istilah yang sering di dekatkan arti dengan susah lelap di malam hari. Saya teringat masa-masa saat masih kuliah. Yang gemar berunding dengan malam di sebuah warung kopi, ketimbang harus memaksa meletakkantubuh di sebuah ranjang kamar tempat tidur. Saya lupa, kapan masa-masa itu pernah melanda saya. Toh, tak penting juga saya bahas.
Di penghujung malam ini, insomnia datang tanpa permisi. Seperti kenangan yang datang dan pergi semau-maunya. Jujur saja, malam ini saya rindu bercanda gurau dengan kawan-kawan semasa kuliah. Saya teringat masa-masa di mana saya dan kawan-kawan patungan membeli rokok dan gotong royong membayar kopi setelah selesai di nikmati. Masa-masa itu, dimana masa-masa kita merawat sebuah masa depan. Sesama yang lain sama-sama memiliki mimpi pada subuah cita-cita yang tinggi. “Kehidupan bergerak bukan dari waktu ke waktu, melainkan dari suasana ke suasana” tulis Zen RS. Saya bimbang, apakah kehidupan saya tak pernah menjumpai waktu dan suasana itu. Atau jangan-jangan waktu dan suasana telah melewati batasnya itu sendiri. Saya tak paham. Dan juga tak butuh untuk memahami.

Selain menghabiskan malam di warung kopi, dulu saya juga sering iseng menulis. Sebuah iseng yang menajdi kebiasaan di saat saya susah terpejam. Dari kerutinan iseng itu pulalah saya dapat mengumpulkan catatan-catatan ringan dari sebuah perjalanan saya. Tak begitu penting memang. Alih-alih bermanfaat bagi yang lain, berguna dan menghasilkan buat saya sendiri saja pun tidak. Akan tetapi, dengan rutinitas iseng –menulis– saya tersebut, saya menjumpai sebuah cerita yang anggun. Sebuah perjalanan hidup yang begitu lucu, singkat dan juga pilu. Saya bangga, sungguh bangga dahulu dapat menyempatkan waktu menulis walaupun singkat. Belakangan waktu, saya juga menyempatkan membaca ulang catatan-catatan yang dahulu sempat saya kumpulkan. Ada kepuasan “suasana” tersendiri saat membaca apa yang pernah saya tuliskan. Tentang malam, pagi, hujan kawan, secangkir kopi, cinta, suasana dan juga masih banyak yang lainnya.

Terlampau banyak untuk saya ceritakan. Di tengah insomnia yang terlanjur melanda, pada dini hari ini saya sempatkan lagi untuk iseng menulis. Sebuah ke isengan yang menjadi ritual mengalihkan kekecewaan dan keresahan di masa yang lampau. Saya tak paham betul, apa yang saya tulis ini. Sungguh !!

Iklan