Sebuah Malam Perjumpaan (1)


Pada malam yang remang itu, kamu sambut aku dengan baju hitam dengan lengan pendekmu. Mulanya aku tak pernah mengira, bahwa aku akan betul-betul berjumpa denganmu. Malam itu, tanpa jas hujan, aku memberanikan diri menemuimu. Berjabat tangan denganmu. Menatap matamu, wajahmu, tubuhmu dan segala hal tentangmu. Malam itu, aku benar-benar menjumpaimu, aku tak sedang bermimpi. Bersama tas hitam kecilku, aku tahu, menemukanmu bagaikan mencari alamat jenazah dikuburan tanpa batu nisan. Rumit.!!

“Aku ingin bertemu denganmu. Sebentar saja”.

“Dalam rangka apa?” sahutmu.

“Tak ada, aku punya novel. Teruntuk kamu”.

“bukankah kita sama-sama manusia” sambungku

Pada malam perjumpaan itu, diam-diam aku menyimpan angan yang mendalam. Sepulangnya, di sepanjang trotoar jalan tiba-tiba aku menemukan senyummu. Gedung-gedung menjadi kamu, pos polisi menjadi kamu, penjual bakso menjadi kamu, di sepanjang jalan kota itu, kesemuanya serba kamu. Padahal aku tahu, kamu hanya sebagian dari perjumpaan. Hanya sebagiaan dari lintasan di mana aku pernah di pecundangi. Dikahalhkan oleh kenangan. Dihabisinya secara tuntas dan menyeluruh. Saat seperti ini, aku harus merasa kehilangan sebelum memiliki.

Saat pagi menjelang, aku terus mengingatmu. Pada jendela kamar rumah, aku serasa menemukan kembali senyummu di malam itu. menjabat tanganmu, menatap wajahmu, matamu, rambutmu dan seluruh tubuhmu. Sejak malam itu, aku keseringan lupa jalan pulang.

Bersambung (1)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s