Kopi dan Refleksi


(sebuah refleksi diri , sebatas halusinasi dan kopi)

Aku kenal kamu dengan sebuah nama “Cukk”. Sebuah tanda nama kelahiran yang tentu hal itu –barangkali konyol. Entah, aku tak tahu pikir apa yang sedang menghantui orang tuamu sehingga kata itu melekat padamu. Malam yang dingin itu, kamu berkirim pesan singkat, lantaran ajakan untuk sekedar ngopi.
Barangkali kamu tahu, aku merupakan salah satu orang yang ikut bertanggung jawab dalam sebuah konspirasi malam. Saat kita menunda kesedihan dengan bercerita tentang seksinya bibir perempuan-perempuan di kala malam itu. Kamu menggugat, memberontak dekil dengan selembar pengetahuanmu. Pada kedinginan malam itu pulalah kita pernah di pertemukan. Tentang romantisme malam yang benar-benar kita ciptakan.

“Aku tak kuasa melupakan tragedi malam itu” katamu.
“Ahh, bukankah kamu sudah sepakat dengan kejengkelan untuk melupakan romantisme malam”. Sahutku

Beberapa tahun malam yang silam, tentunya kita tak sendiri. Yang kamu sebut dengan sahabat, yang dahulu kamu sebut sebagai saudara, barangkali saat ini sudah terlelap. Nyenyak dengan menutup mata dan telinga, di papan empuk, dengan nilai kemapanan. Lalu yang kamu sebut-sebut dengan pahlawan dahulu, kini telah menerima hadiah dari penguasa tirani, atas kuasa lobi dan alibi prestasi. Pada akhirnya manusia memang akan jinak dalam keadaan mapan, dengan keadaan tak terusik. Pada masa saat mereka dibungkam dan dibisukan. Kegagalan menilai realitas hanya akan berpulang pada sebuah kepelacuran diri. Dimana romantisme malam itu?

Menjelang waktu subuh yang lelah, saat para pedagang-pedagang beranjak dari tempat berteduh, kita masih saja memilih kedinginan. Kita berikrar untuk memilih jalan ketidak jelasan, jalan ketidak warasan. Toh, pada titik dasar kita hanya segumpal daging, segumpal darah, dengan pasrah mengatasnamakan manusia.

Barangkali kau pikir aku gila. Tapi apa kau pelupa. Bahwa kegilaan ini aku ambil dengan penuh perhitungan. Bukan ketergantungan. Bukan kegilaan yang memang itu bawaan, atau atas norma-norma belaka.

“Cuukk, bangunan sederhana yang pernah kita impikan bersama, mungkin hanya akan menjadi mimpi selamanya, selama lamanya. Barangkali, kita tak di gariskan untuk membangun sebuah bangunan sederhana secara bersama-sama. Tapi cuukk, aku kini sudah mempunyai bangunan kecil itu. Meski bangunan itu masih jauh dari kata sederhana. Kesederhanaa ”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s