23 Maret


Apakah saya pernah berjabat tangan dengan RZ. Hakim, yang akrab di sapa Mas Bro? Tidak. Apakah dia juga kenal saya? Tidak. Apakah kita berdua pernah ngobrol satu meja? Tidak. Apakah saya pernah duduk satu bangku dengan dia? Tidak. Tapi satu, saya pernah memandangnya dengan khusu’. Saya pernah mendengarkan suara khas yang sangat sederhana itu dengan ikhlas. Selebihnya, kami berdua hanya bertegur sapa melalui dunia keterhubungan. Sebuah blog ataupun facebook belaka.

Sewaktu saya masih duduk di kelas menegah atas (SMA), saya pernah mendengar nama sebuah Band Indie yang ada di kota Jember. Grup band ini juga sering menampakkan diri di daerah saya. Di daerah Gumukmas-Kencong dan sekitarnya. “Tamasya Band”. Jujur saja, saat itu saya mengira bahwa band ini tak jauh beda dengan band-band anak muda yang lainnya. Paling-paling ya cuma gituan. Dan saya, tak pernah menengok sesekali pun.

Entahlah, nasib apa pula yang mengharuskan saya melihat penampilan band ini. Seingat saya, waktu itu di sebuah ruangan yang remang. Pada sekitaran tahun 2010 yang silam. Disebuah perhelatan sebuah launching majalah yang di gagas salah satu kawan persma di Jember. Kedua telinga saya dipaksa untuk mendengarkan. Mulanya saya tak begitu menghiraukan. Namun, saya juga tak tahu, nasib apalagi yang mengharuskan saya tiba-tiba terasa ada yang lain. Ada kelainan dalam selera saya dalam mendengarkan sebuah musik. Sebuah musik yang saya sebut dengan kesederhanaan

Rupanya tak cukup adil, jika saya yang Sok kenal, dan Sok Dekat (SKSD) ini, terus menerus menuliskan perihal Mas Bro dan musiknya. Barangkali saya juga sok tau perihal yang lainnya tentang Mas Bro.

Selain pada sebuah grup musik itu, pada sebuah blog saya dan Mas Bro di kenalkan. Pengasuh blog acacicu.com ini, salah satu blogger yang cukup konsisten dalam berkarya – dari pada saya, yang sudah sekitaran satu tahun lebih tak lagi mampu menulis. Tak berbeda jauh dengan gaya bermusiknya, dalam kepenulisannya ini pula, Mas Bro masih tegak untuk berkomitmen dalam menggunakan tata bahasa yang penuh kesederhaan dan humoris, menyentuh dan mengalir apa adanya.

Barangkali saya terlampau Ke-Pe-De-An Mas. Terlampau bingung harus bertingkah seperti apa. Yang jelas, pada tanggal 23 Maret –di hari kelahiran sampean ini, semoga saja kesemuanya semakin membaik. Lekas membaik. Pada sebagian besar lagu yang sampean lantunkan, cukup mengingatkan saya, bahwa hidup itu ialah kita. Keberanian menunjukkan apa adanya. Ketekunan dalam berkarya, dan berusaha. Pada catatan-catatan sampean pulalah saya di ingatkan. bahwa berbagi ketulusan dan ketekunan dalam apa yang kita citakan, haruslah terus menerus dilakukan. Terus di perjuangkan.

Saya memang tak pernah sesekali berdendang dengan sampean Mas. Saya juga tak pernah sekali pun berbincang langsung dengan sampean. Saya juga tak pernah menghisap sebatang rokok untuk bersama dengan sampean. Tapi, bukankah dalam lirik lagu sampean,setidaknya ada satu karya yang tertinggal.

Tak ada yang lain. Selain keinginan saya untuk mengucapkan

“Selamat hari lahir Mas. 23 Maret, Teruslah berdendang”.

*Sorry Mas Bro. Tulisan ini apa adanya. hehehe 😉
Ayo nonton bareng Timnas Vs Arab Saudi. hehehe 😉

Iklan

2 responses to “23 Maret

  1. penasaran dengan kenapa menggunakan tagline “catatan busuk”

  2. Sudah pasti tulisan ini akan saya simpan di draft tersendiri. Sakalangkong… Saya menikmati setiap kata-katanya sedari awal sampai akhir..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s