Monthly Archives: Maret 2013

23 Maret


Apakah saya pernah berjabat tangan dengan RZ. Hakim, yang akrab di sapa Mas Bro? Tidak. Apakah dia juga kenal saya? Tidak. Apakah kita berdua pernah ngobrol satu meja? Tidak. Apakah saya pernah duduk satu bangku dengan dia? Tidak. Tapi satu, saya pernah memandangnya dengan khusu’. Saya pernah mendengarkan suara khas yang sangat sederhana itu dengan ikhlas. Selebihnya, kami berdua hanya bertegur sapa melalui dunia keterhubungan. Sebuah blog ataupun facebook belaka.

Sewaktu saya masih duduk di kelas menegah atas (SMA), saya pernah mendengar nama sebuah Band Indie yang ada di kota Jember. Grup band ini juga sering menampakkan diri di daerah saya. Di daerah Gumukmas-Kencong dan sekitarnya. “Tamasya Band”. Jujur saja, saat itu saya mengira bahwa band ini tak jauh beda dengan band-band anak muda yang lainnya. Paling-paling ya cuma gituan. Dan saya, tak pernah menengok sesekali pun.

Entahlah, nasib apa pula yang mengharuskan saya melihat penampilan band ini. Seingat saya, waktu itu di sebuah ruangan yang remang. Pada sekitaran tahun 2010 yang silam. Disebuah perhelatan sebuah launching majalah yang di gagas salah satu kawan persma di Jember. Kedua telinga saya dipaksa untuk mendengarkan. Mulanya saya tak begitu menghiraukan. Namun, saya juga tak tahu, nasib apalagi yang mengharuskan saya tiba-tiba terasa ada yang lain. Ada kelainan dalam selera saya dalam mendengarkan sebuah musik. Sebuah musik yang saya sebut dengan kesederhanaan

Rupanya tak cukup adil, jika saya yang Sok kenal, dan Sok Dekat (SKSD) ini, terus menerus menuliskan perihal Mas Bro dan musiknya. Barangkali saya juga sok tau perihal yang lainnya tentang Mas Bro.

Selain pada sebuah grup musik itu, pada sebuah blog saya dan Mas Bro di kenalkan. Pengasuh blog acacicu.com ini, salah satu blogger yang cukup konsisten dalam berkarya – dari pada saya, yang sudah sekitaran satu tahun lebih tak lagi mampu menulis. Tak berbeda jauh dengan gaya bermusiknya, dalam kepenulisannya ini pula, Mas Bro masih tegak untuk berkomitmen dalam menggunakan tata bahasa yang penuh kesederhaan dan humoris, menyentuh dan mengalir apa adanya.

Barangkali saya terlampau Ke-Pe-De-An Mas. Terlampau bingung harus bertingkah seperti apa. Yang jelas, pada tanggal 23 Maret –di hari kelahiran sampean ini, semoga saja kesemuanya semakin membaik. Lekas membaik. Pada sebagian besar lagu yang sampean lantunkan, cukup mengingatkan saya, bahwa hidup itu ialah kita. Keberanian menunjukkan apa adanya. Ketekunan dalam berkarya, dan berusaha. Pada catatan-catatan sampean pulalah saya di ingatkan. bahwa berbagi ketulusan dan ketekunan dalam apa yang kita citakan, haruslah terus menerus dilakukan. Terus di perjuangkan.

Saya memang tak pernah sesekali berdendang dengan sampean Mas. Saya juga tak pernah sekali pun berbincang langsung dengan sampean. Saya juga tak pernah menghisap sebatang rokok untuk bersama dengan sampean. Tapi, bukankah dalam lirik lagu sampean,setidaknya ada satu karya yang tertinggal.

Tak ada yang lain. Selain keinginan saya untuk mengucapkan

“Selamat hari lahir Mas. 23 Maret, Teruslah berdendang”.

*Sorry Mas Bro. Tulisan ini apa adanya. hehehe 😉
Ayo nonton bareng Timnas Vs Arab Saudi. hehehe 😉

Iklan

01: 11


“Saya butuh teman bicara. Ada yang sudi saya pisui apa gak”.

Entah, beberapa hari ini saya merasa kebingungan. Merasakan dalam kondisi fatal yang terlampau kesepian. Seprti pelukis yang kehilangan kanvas, seperti halnya pemain sepakbola yang kehilangan kedua kakinya. Apa saya galau? Mungkin. Ah, barangkali saya terlalu berlebihan. Entahlah, saya hanya butuh teman bicara saja. Ada yang mau saya kencani apa gak?

Hore… Pengalaman sederhana saya akhirnya dapat tertuliskan kembali. Blog saya sudah dapat saya kencani kembali. Dapat saya pisui. Saya marahi dan barangkali dapat pula saya setubuhi. 😉