Mengenang Kembali, Mengingat Yang Sudah.


Mulanya saya tidak akan pernah sudi untuk melanjutkan pendidikan tingkat tinggi. Cita-cita saya setelah lulus sekolah dasar akan pergi jauh untuk mengais rezki. Membahagiakan kedua orang tua, setidaknya dengan tidak lagi memungut uang jajan dari tabungan orang tua. Tapi ibu, ibu orang satu-satunya yang terus memaksa saya untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang sangat tinggi. Bahkan, ibu saya siap memenuhi apa saja permintaan saya, asal saya terus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kalau Bapak orangnya santai, tapi mengena. Bahkan tentang pendidikan saya, bapak tak terlalu memaksa. Waktu itu bapak selalu mengungkapkan kata “Biarkan waktu yang menjawab”. Ungkap bapak terkait masa depan pendidikan saya.

Hari itu –saya lupa hari apa, tak terasa saya sudah duduk di kelas 1 sekolah menengah pertama, di salah satu sekolah swasta yang berada di desa saya. Saya merupakan salah satu murid yang pandai mengartikan bahasa arab. Suatu ketika, saat ujian datang pernah saya mendapatkan nilai yang fantastis. Soal 10 tidak ada yang salah. Bahkan guru bahasa arab SMP waktu itu keheranan. Hal itu bisa terjadi karena waktu saya masih belajar di sekolah dasar, saya sudah disuguhi oleh bahasa arab. Maklum, saya lulusan M-I. Yang tiap harinya ketika akan masuk sekolah sudah di cerca oleh asupan-asupan bahasa arab. Dalam satu minggu dua kali, murid-murid harus menghafal ayat-ayat tersebut.

Suatu ketika saya pernah akan berhenti sekolah. Gara-garanya sepele, karena malas. Waktu itu, ibulah orang pertama yang tak rela jika saya putus sekolah. Ibu tahu, bahwa saya sangat ingin mempunyai gitar. Dan pada waktu itu pula, tanpa basa dan basi ibu membelikan saya gitar bekas, dengan tujuan agar saya tidak berhenti sekolah. Ibu rela mengeluarkan apa saja demi kebaikan anaknya.

Tahun berganti tahun, haripun semakin pengap. Tak terasa, saya sudah duduk di kelas 1 sekolah menengah atas. Masih sama, saya tetap sekolah di swasta. Waktu saya kelas 1 SMA kedua orang tua sudah mengijinkan saya untuk berangkat mengendarai sepedah motor. Saya pun di belikan kendaraan sendiri. Tapi, saya masih malas. Meskipun setiap hari berangkat sekolah, paling-paling hanya masuk jam pertama saja. Setelahnya main PS atau jalan-jalan menuju suatu tempat yang sepi. Saya salah satu murid yang tak terlalu suka bergerombol dengan jumlah banyak. Saya tidak pernah mengikuti sebuah kelompok genk, atau komunitas siswa yang lainnya. Jika saya harus bolos sekolah paling-paling hanya tidur di kantin, atau menghabiskan waktu di tempat PS-an. Saya anak pemalas. Jika harus di hitung dalam satu minggu saya hanya masuk kelas satu hari, itupun hanya jam pertama. Setelahnya saya keluar atau pulang kerumah. Bayangkan harus berapa kolom absen merah saya. ^^_^^.

Hari itu hari pengumuman pengambilan raport, sekaligus pengumuman kenaikan kelas. Sebelumnya saya di panggil ke kantor untuk menemui kepala sekolah. Saya seorang murid yang tidak terlalu dikenal oleh semua guru. Saya tidak pernah membuat onar, paling-paling hanya tidak masuk sekolah. Kepala sekolah tanpa basa basi langsung menyodorkan surat kepada saya. Jantung berdebar-debar, saya gundah tentang apa isi surat tersebut. Tapi saya tidak khawatir meskipun sedikit was-was. Surat akhirnya saya buka di kantin sekolah. Ah, ternyata surat tersebut berisi tentang pengumuman jadwal pengambilan raport dan sekaligus kenaikan kelas. Dalam surat itu pula, penyerahan raport secara langsung diserahkan kepada orang tua murid (wali murid). Kabar punya kabar, dari beberapa teman sekelas saya, bahwa ada murid yang akan dikeluarkan dari sekolahan tersebut. Saya deg-deg-kan. Jika murid itu harus saya, saya harus terima dengan kekecewaan yang tertahan. Bukan saya kecewa terhadap sekolah, buat apa pula saya kecewa atas pengeluaran saya. Toh, saya memang tak menghendaki belajar atas segala hal tentang yang berbasis kurikulum. Sebut saja pendidikan. Namun, saya kecewa terhadap diri saya sendiri jika pengeluaran siswa itu menimpa saya. Saya hanya kasihan kedua orang tua dirumah, pasti terpukul dalam-dalam jika hal itu terjadi adanya.

Dengan desas-desus itu, maka saya tak berani memberitahu bapak dan ibu. Saya hanya tak rela jika saat pemberian raport nanti bapak atau ibu yang mewakili penyerahan raport saya malu jika saya dikeluarkan atau tak naik kelas. Apapun yang terjadi saya tak berharap, kedua orang tua saya malu oleh karena ulah saya. Muncullah ide untuk mensiasati –bukan menipu. Akhirnya salah seorang teman saya yang kebetulan usianya diatas saya agak jauh mendatangi sekolah untuk mengambil raport. Hari itu saya merasa was-was. Untuk mengusir rasa was-was, seperti biasa bermain PSlah kerjaannya. Akhirnya apa yang selama ini saya bingungkan itu tidak benar. Saya tidak dikeluarkan, saya naik kelas, meskipun dalam perjanjian lisan saya naik kelas gantungan. Nilai saya tak ada yang buruk amat, alasannya sepele saya sangat jarang mengikuti mata pelajaran.

Semua waktu berganti, terus berganti. Saya kelas 2 SMA. Sejak itu saya mulai agak bosan untuk sekolah. Karena pada saat itu pula saya sedang gemar bermain sepakbola, saya lebih focus terhadap hal tersebut. Tak tanggung-tanggung, cita-cita bermain bersama Firman Utina di timnas pun sempat saya impikan. Pada waktu itulah saya pindah sekolah ke Kota.

Mengejar cita-cita menjadi pemain sepakbola professional, saya bertekad masuk di salah satu SSB (sekolah sepak bola). Di kota meskipun saya mengikuti SSB saya tetap sekolah. Sekolah swasta yang tak jauh dari tempat saya berlatih sepakbola. Fokus saya satu, sepakbola.

Waktu terus melaju, hari demi hari kian melaju cepat. Saat ini saya kuliah di kampus swasta yang berada di Kota Jember. Saya semester akhir dari terakhir yang tak lulus-lulus. Saat ini pula, saya gagal berduet bersama Firman Utina mengawal lini tengah timnas Garuda. Saya harus puas menonton sepakbola di layar kaca tivi maupun tribun kelas ekonomi. Apa anda pernah mengira bahwa dengan perjalanan saya yang tak becus dengan segala hal tentang pendidikan tadi. Saya pun bingung. Entah arus apa yang membawa saya untuk pergi membawa tas dan duduk di bangku ruangan kuliah. Kuliah? Sekolah saja tak becus. Tapi inilah hidup. Bukan pilihan, tapi bagaimana menyikapinya.

Mengingat kembali, mengenang yang sudah. Benar apa kata bapak “Biarkan waktu yang menjawab”. Saya salah seorang yang tidak pernah percaya terhadap apa itu bakat. Apa yang kita inginkan asal dijalani dengan bersungguh, maka tercapailah. Itulah yang tak lepas dalam hidup saya.
Sekali lagi. Jika hidup adalah pilihan, maka saya akan memilih menjadi pemain sepakbola professional. Membela timnas, berakselerasi mengawal lini tengah timnas. Tapi apa boleh buat, kadang apa yang kita inginkan tak sejajar dengan suhu dan hawa tubuh. Kita tak akan pernah tahu, apa yang terjadi di hari esok. Hidup adalah bagaimana kita menyikapinya.

Terimakasih ibu, terimakasih bapak. Apa yang telah kalian berikan, tak akan pernah mampu saya balas seluruhnya.

Iklan

6 responses to “Mengenang Kembali, Mengingat Yang Sudah.

  1. semangat mas, sukses itu proses ( ga nyambung sama posting, saya hanya suka membagikan kata-kata itu :mrgreen: )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s