-Bukan-, Jawaban Atas SMS Seorang Kawan.


Pagi setengah siang itu saya sedang ngobrol asyik disebuah warung kopi. Hal ini menjadi sebuah agenda rutin serupa ritual kebudayaan yang kian hari kian saya gemari. Ponselpun berbunyi. Saya kelimpahan berkah akibat dapat sms dari salah seorang sahabat –sebut saja ia Mahrus Sholih. Isinya tentang gunjingan sepakbola. Tragedi kerusuhan sampai hilangnya ribuan nyawa. Saya yakin, sms yang saya dapat merupakan hasil renungan dari ajakan saya untuk menonton sebuah pertandingan Persid Jember di stadion Nothohadinegoro beberapa waktu yang lalu. Mahrus –yang saya tahu, memang bukan penggemar sepakbola. Setahu saya, ia mengidolakan permainan catur yang mengandalkan langkah kuda dan pion, atau permainan domino dengan konsekuensi malu akibat kalah tekanan mental dari lawan. Dilain itu, saya kurang begitu paham. Setelahnya, tentu saja saya mengumpat dengan keras. !

Saya tidak akan pernah keberatan jika ada seseorang yang sinis mengatakan bahwa sepakbola bukanlah segalanya. Tentu saya juga tidak akan marah jika pada sepakbola dikatakan sebagai alat untuk menegakkan ketidakadilan. Sepakbola tidak akan menyelesaikan apa-apa dalam hidup ini. Anda jangan berharap besar, bahwa olahraga ini dapat merubah sosial dan perbaikan keadilan. Apapun yang terjadi, sepakbola tidak akan secara langsung –itupun jika dapat, merubah perbaikan pelayanan kesehatan, perbaikan pendidikan, susutnya angka kemiskinan atau bahkan mengurangi kegemaran pejabat “tengik” untuk ramai-ramai berkorupsi. Sungguh, anda jangan berharap perubahan apapun dari olahraga yang satu ini. Bahkan saya dapat memahami bagaimana seorang novelis dan esais Italia, Umberto Eco menyodorkan sebuah pernyataan “Apa mungkin revolusi akan terjadi dihari Minggu ketika ada sebuah pertandingan sepakbola”. Sekali lagi anda jangan mengigau disiang yang tak hujan. Bahkan –barangkali, manager Liverpol, Bill Shankly sedikit kepincut bahkan kebacut dengan mengatakan slogan yang cukup tersohor “Sepakbola lebih dari sekedar hidup dan mati”.

Dilain waktu dan masa. Sepakbola telah mencipta alegori yang sangat luar biasa. Sepakbola membentuk dan dibentuk apa yang ada disekitarnya. Menang dan kalah tentu hampir segalanya, tapi jelas hal itu bukan satu-satunya. Sepakbola telah memberi apa yang tidak dapat diberikan pemimpin publik dan politisi “tengik” berikan. Republik hanya sibuk mengurus hak tambang, kenaikan gaji wakil rakyat, manipulasi, pembangunan WC, dan partai politik sibuk mempersiapkan bantuan hukum atas kadernya yang tersandung kasus korupsi. Para pamong praja, tentara dan polisi secara tiba-tiba membabi buta menghajar rakyat sebagsanya sendiri atas titah negara, namun seperti kucing kudisan yang kehujanan saat berhadapan dengan pasukan Negara tetangga soal teretori. Kaum intelektual hanya cukup dengan mengadakan diskusi elit, seminar kelas atas, sampai warung kopi -yang konon katanya krirtis, hanya sebagai tempat berbagi penderitaan dan tukar kabar tanpa kedalaman argumentasi. Bahkan pada hari-hari ini justru berdekatan dengan kekisruhan.

Ditengah maraknya kaum perempuan berteriak gender. Saya sedikit tersenyum saat melihat pertandingan sepakbola dengan asisten wasit seorang perempuan. Saya juga tak dapat menyembunyikan kegembiraan saat kaum perempuan mulai nyaman berada di stadion saat pertandingan berlangsung, tanpa harus takut lagi di colek pantatnya maupun diremas payudaranya. Stadion menjadi tempat rekreasi keluarga diakhir pekan dengan kobaran kembang api, bak hiburan ditaman mini. Bahkan siapa yang tak berbicara pecicilan jika seorang pemandu sorak sebuah supporter sepakbola seorang perempuan?. Selain pornografi, barangkali sepakbola serupa berkah, atau justru kutukan. Namun sepakbola ala PSSI lebih dekat dengan yang kedua -kutukan. Setidaknya sepakbola telah memberi obat penawar di atas derita yang kian buruk dan pahit. Saya berani membela Pelita Jaya dihadapan kawan aktifis pejuang lumpur lapindo dalam hal-hal pembinaan pemain dini. Sepakbola hampir segalanya, jelas olahraga ini bukan satu-satunya.

Setidaknya pada sepakbola pulalah saya menemukan hal-hal yang menentukan – baik dan buruk. Kalah dan menang hanya perkara waktu. Paling tidak timbul nafsu ingin menulis jika timnas Indonesia melakukan pertandingan. Saya selalu tak enak diam mengamati pertandingan demi pertandingan klub cataluna macam Barcelona. Siapa yang mau ketinggalan keindahan duet Xavi dan Iniesta di tengah lapangan.

Sepakbola merupakan olahraga timbal balik. Tentu, hal ini tak dapat dilakukan sendirian. Kedua kesebelasan saling berperang di tengah lapangan dengan cita-cita yang sama yakni sebuah kemenangan. Dalam hal ini Bill Shankly rupanya tak berlebihan. Didalam stadion kedua supporter bertemu. Bersorak, tarian atraktif, yel-yel, saling olok, dan bahkan menekan mental lawan dan mendukung tim kesayangan. Tak jauh dari hal itu, kekisruhan ialah aktualisasi dini yang keblabasan. Kekisruhan antar supporter banyak diketemukan pada kota-kota besar. Hal ini bisa di lirik dilain tempat. Kebanyakan masyarakat kota besar yang berkehidupan individualis. Membentuk karakter yang tak mau tahu. Dalam kehidupan serba sulit, dari segi ekonomi termarginalkan, dalam pendidikan terabaikan membentuk supporter yang vandalisme. Akhirnya berpaham bahwa stadion lah tempat yang sekiranya nyaman untuk mengaktualisasikan kepedihan.

Pada sepakbola pula anda jangan mengidam-idamkan sebuah revolusi yang telah dihabisi usianya ini. Sepakbola ikut mencipta dan dicipta dalam setiap gejolak zaman. Ia tak larut, ia pula tak menentang. Hanya saja ia mengikuti dan di ikuti. Saya yakin, keponakan saya yang masih berumur belasan tahun dirumah ikut kecanduan bermain bola karena ingin seperti idolanya Andik Vermansyah. Dan saya yakin, hal itu bukan karena ajakan Menpora lewat sponsornya. Pada sepakbola setidaknya kita secara bersama-sama merasakan pahit dan manis. Kita tahu keberhasilan timnas U-23 menembus final Sea Games 2011. Meski akhirnya juara tanpa mahkota dapat kita rasakan kepedihannyasecara bersama-sama. Dari Sabang sampai Mareoke, dari mulai pejabat kelas tinggi hingga penjual Koran di persimpangan jalan, dari kaum petani, hingga pengusaha kaya raya, Islam atau tak percaya agama, muda atau tua, ikut larut dalam semboyan yang pernah ada. Bangsa ini pernah memiliki semboyan “Senasib, sepenanggungan, sebangsa dan setanah air” yang mulai terkikis oleh tingkah laku dari masing – masing individu dan juga golongan.

Yah. Semua itu bisa dikatakan hanya sebuah pembelaan atas sepakbola. Sebab yang harus kita pahami ialah; kenyataan sepakbola hanya sebuah pertandingan. Sepakbola serupa cinta, memilih, berpihak dan tak ada netralitas. Begitupula dengan saya dan Mahrus Sholih. Semua tahu bahwa setiap kelahiran tak berarti bernasib sama. Saya hanya pecinta sepakbola. Saya tak berharap apa-apa dengan setiap hasil pertandingan. Selain mencintai sepakbola saya juga suka menulis –barangkali itu hanya kelainan. Saya juga tak berharap bagaimana Mahrus berpindah keyakinan untuk mencintai sepakbola. Sebab sepakbola bermula atas serta merta keyakinan atau kecintaan. Tentu saja saya dan Mahrus berbeda. Mempunyai cara lain untuk mengkspresikan kecintaan pada setiap yang kita masing-masing cintai -atau sebaliknya. Bukankah hasil saya nyocros ini bermula dari sebaris kiriman sms via ponsel? Dan kiriman sms yang membuat saya keranjingan berhasil memaksakan diri untuk berbicara yang lain. Sungguh hanya sebatas itu. Diluar hal itu. Entah.!

*Penikmat Belakanggawang.

Iklan

8 responses to “-Bukan-, Jawaban Atas SMS Seorang Kawan.

  1. Saleum,
    Saya termasuk pecinta sepakbola yang anti anarkis. Fanatik tapi gak sampai harus mati karenanya. Mudah2an saja stadion sepakbola diindonesia tetap ramah pada suporter wanita ya mas….

  2. Haha, aku bukan fanatikus atau pecinta bola, tapi entah kenapa jika pertandingan sepak bolanya udah Indonesia VS siapa gitu, mesti mantengin tipi buat teriak-teriak menyemangati dan berdoa untuk yang terbaik bagi timnas.
    *Sempat nangis juga saat Indonesia kalah lawan negeri jiran kemarin, ada rasa haru ^^

    Well, dari laga sepakbola pula aku tahu, bahwa bangsa ini masih memiliki rasa persatuan dan nasionalisme yang menggebu [ meskipun cuman pas timnas berlaga barangkali : ) ]

  3. Bang mamet; Makasih kunjungannya.

  4. Ngomong-ngomgong tentang bola, sungguh aku tak mengerti, apalagi tentang filosofinya karena aku bukan pecinta bola.
    Sekedar mampir ngangsu kawruh..
    Salam hangat dari Jepara

  5. Sepak bola memang bukan segalanya tapi kita bisa belajar dari sepak bola untuk negri, tapi sayang sepak bola ada dalam negeri, negeri antah berantah yg sibuk dengan, ini salah itu salah,, hingga sampai tak ada yg berbenah,,,mungkin termasuk saya,,,,,,

  6. Sepakbola agaknya digemari karena memberikan penghiburan. Memang untuk sementara akan baik, seperti misal membangun nasionalisme dan rasa cinta terhadap Nusantara.. tapi apa selanjutnya tidak bisa dijawab sepakbola, bukan? Rakyat tetap butuh cukup makan, tempat tinggal nyaman dan kehidupan berbangsa yang sejahtera.. apa yang Sepakbola sumbangsihkan untuk itu semua? 🙂

    Tentu pada sepakbola kita bisa belajar banyak hal, seperti halnya kita belajar pada pohon atau lebah.. 🙂

  7. aing mah ngadukung kamana uae ah. kompetisina ngaraco. ISL maenna aralus te di aku PSSI, IPL diaku PSSI maenna barutut
    hehe kunjungan balik bro…

  8. saya gk paham bola mas, tapi saya suka nonton bola.. apalagi kalo timnas atau sfc yang maen, hehe 😀 okoknya nonton aja, gk perduli yang maen siapa, atau make strategi apa, yang penting nonton..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s