Mimpi Pada Sebuah Surat


-Sebuah fiksi

Aku tak percaya, jika akhirnya kamu dan aku dipertemukan di kota ini. Barangkali kamu tak akan pernah tahu, bahwa dahulu –dahulu sekali, aku mengagumimu. Sepanjang malam, menjelang lelap yang tak lama, pada posisi rebahan aku tak pernah selesai merapalkan do’a. Tentu do’a  itu tentang bagaimana aku dapat menjumpaimu dalam mimpi. Hal itu tak jarang aku lakukan, dan tak sering pula kesampaian. Aku selalu menuliskan cerita jika ketika aku bermimpi tentangmu. Indah sekali.

Separuh windu sudah kita tak pernah bertemu. Aku tahu kamu tak merasakan seperti apa yang aku rasakan. Tak pernah mengalami seperti apa yang aku alami. Perasaan ini terjadi begitu saja. Dan perasaan tak gampang dialihkan. Semenjak kamu hijrah ke kota karena sebuah titah, aku hanya berharap, ditempat seperti apapun kamu berada, kamu tetap baik-baik saja. Bahkan, setelah sekian lama tak pernah aku melihatmu lagi, aku berpikir bahwa kita akan dipersatukan di dunia yang lain. Barangkali setelah kematian. Seusai kematian, kata orang-orang bilang. Sempat aku memimpikan menuliskan selembar surat untukmu yang disana. Muski surat itu tak pernah juga aku kirim secara langsung di hadapanmu. Biarlah terjangan angin pagi yang menyampaikannya, deru ombak laut yang mengeja dan membisikkan pelan-pelan, bukan saja pada kedua telinga kiri dan kananmu, melainkan juga pada hatimu.

“Ana yang baik. Semoga kamu sehat selalu. Surat ini aku buat saat aku sedang gelisah berlipat-lipat. Gundah memandangi photo kamu yang tertinggal di loker tempat buku waktu kita masih kelas 6 Sekolah Dasar masa lampau. Kita pernah akrab, muski kita tak pernah dekat amat. Aku masih ingat, saat masa demi masa kita pernah bertukar liontin. Dengan gantungan kotak kecil berisikan gambar dua sedjoli merpati didalalamnya. Aku tepati janjiku, untuk menyimpan pemberianmu itu, muskipun dengan diam-diam. Maafkan aku Ana yang baik. Liontin pemberianmu sempat satu pekan tak berada di genggamanku. Sempat hilang, saat kejar-kejaran menangkap srigala hutan yang sempat turun di perkampungan rumah kita. Untung liontin pemberianmu itu, tersangkut dengan baik di sebuah pohon cemara yang tak tinggi-tinggi amat.

            Apa harus aku ungkapkan perasaanku pada sebuah surat ini. Aku rasa tidak. Tidak. Hanya saja aku perlu waktu berbicara empat mata tentang segala hal ini. Aku merindukanmu. Rindulah yang membuat aku tetap tegak.

            Aku yang baik-baik saja disini selalu tak sulit untuk mengingatmu Ana. Oh iya, setelah kepergianmu atas sebuah titah, tanah desa yang sempat kita tempati sejak lahir hangus porak-poranda. Katanya tanah itu tanah sengketa dengan salah satu bos besar dari negeri tetangga. Warga sempat bentrok dengan pasukan Negara kita sendiri. Aku juga heran, pada tanah dimana kita sempat dilahirkan ada pula kekerasan. Pasukan Negara hanya berani menindas saudara sebangsanya, namun mirip kucing kudisan yang kehujanan saat berhadapan dengan Negara tetangga soal tapal perbatasan. Ah, aku hanya ingin menyampaikan tentang hal ini kepadamu. Muski kamu tak pernah membaca surat dariku ini.

            Aku titipkan surat ini pada angin, biarlah ombak yang menerjemahkan dan membisikkan kepadamu. Apapun yang terjadi, tetaplah tegar Ana. Aku tahu, setiap kelahiran tak selalu bernasib baik. Pilihlah menjalani. Sekian”.

Dari Pemujamu. *Wagiman

            Aku terbangun. Televisi tetap hidup. Lalu aku membuat kopi, menonton siaran pertandingan olahraga sepakbola. Hari ini nasib baik berpihak pada tim cataluna. Kadang apa yang kita inginkan tak selalu sejajar dengan kenyataan. Kita tak pernah selalu tahu, apa yang akan terjadi esok.

Iklan

5 responses to “Mimpi Pada Sebuah Surat

  1. inti dari cerita ini ternyata ada di paragraph terakhir, bukan begitu mas?? like this.. 😀

  2. heuuw, aku suka banget dengan paragraf terakhir surat itu..
    Aku titipkan surat ini pada angin, biarlah ombak yang menerjemahkan dan membisikkan kepadamu.

    keren!:)

  3. he,,,he,,, ternyata adiku bisa ber-ROMASA- juga to,,,, aku kira itu sudah hilang seiring dikau meneguk segelas kopi pahitmu,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s