Desa


Kamis 12 Januari 2012 kemarin saya pulang kerumah. Adik saya sedang sakit. Saya sebenarnya tidak tahu, kalau adik saya rupanya sedang sakit. Kepulangan saya hanya kebetulan saja. Waktu itu sangat masih pagi. Saya mengendarai sepeda motor dari Jember menuju Kecamatan Gumukmas. Dusun Jatiagung tepatnya saya pernah dilahirkan. Rumah saya juga berada disitu.

“Oh, untung kamu pulang. Adikmu sedang sakit, nanti malam ibu mau kepondok menghadiri acara khoul. Kamu dirumah jaga adikmu ya”. Kata Ibu menyambut kepulangan saya.

Terlihat bapak yang sedang duduk sambil meminum secangkir kopi. Saya mendekatinya hendak akan bersalaman dan mencium tangannya. Kebiasaan Bapak selalu tak terlewatkan. Jika saya pulang Bapak pasti mengajak saya berdiskusi tentang segala hal. Mulai dari kepemerintahan, kepemudaan, sampai kisruh “tengik” ala PSSI. Bapak saya memang tak berpendidikan tinggi. Pernah mengenyam pendidikan SMP namun patah harapan karena soal keadaan. Namun saya yakin, bapak mempunyai kecakapan dalam berpikir, bahkan melebihi saya yang nguliah. Bapak selalu tak mau kalah jika berdiskusi. Apalagi soal agama.
“Kamu boleh pandai, tapi jika tak sholat apa gunanya”. Kata Bapak.

Jika sudah menyoal masalah agama, saya lebih menghindar. Bukan apa, Bapak saya salah satu dari kebanyakan orang yang tekun beribadah. Ibu saya juga. Mereka berdua boleh dikatan para santriwan dan santriwati. Bapak dan Ibu selalu mendidik saya untuk selalu bertaqwa. Saya memahami bahwa kedua orang tua saya dibesarkan di lingkungan yang serba tekun beribadah. Sedangkan saya hanya seorang anak yang besar di jalanan. Hal itu yang –barangkali, membedakan sudut pandang saya tentang agama.
Bapak yang cenderung kolot jika bicara agama tidak bisa di ganggugugat. Bahwa agamanyalah yang paling benar. Jujur, saya tidak suka jika ada seorang berteriak agamanya lah yang seolah-olah benar. Jika kita berkeyakinan, itu tidak ada batasan. Memang. Sama halnya dengan orang yang lain dari keyakinan kita. Picik lah seorang yang berbuat kekerasan atas nama agama.

Namun Bapak saya menolak kekerasan. Bahkan ia menyumpai FPI “terkutuk” itu agar dibumi hanguskan dari bangsa ini. Saya hanya ingin mengutarakan perbedaan sudut pandang. Dunia dinamis, sedangkan pada sebagian dogma agama yang statis. Saya memang tak cukup cakap untuk menyoal agama. Bagi saya menghormati perbedaan keyakinan itu perlu. Seharusnya kita tak harus berteriak-teriak tentang agama. Boleh kita cinta. Tapi bukan cinta yang tengik dan mematikan.

Saya memang besar di jalanan. Maaf bapak, maaf ibu. Anakmu belum dapat beribadah dengan tekun.

Iklan

One response to “Desa

  1. nice post 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s