Malam Yang Remang Untuk Kekasihku


“Akumencintai malam. Malam yang remang, sunyi dan menggigil, bukan malam yangpengap”.
            Malam itu kamu sambut aku denganrambut hitam terurai. Tepat di sebuah simpang tiga, bersebelahan dengan POMbensin dekat rumah kamu. Selain kamu sambut aku dengan rambut hitam terurai,pada malam itu pula kamu menawarkan senyum pada bibir sempitmu. Rok setengahmini pun menemui. Malam itu, sebagaimana yang aku tahu, malam awal pertama kitabertemu.
            Sebagaimana yang aku tahu. Kamu bukanlahseorang perempuan pemalu. Perempuan yang sangat akrab pada semua jenis. Lalupada sebuah buku, aku menawarkan perkenalan namaku kepadamu. Barangkali hal ituasing bagimu. Seorang lelaki yang membawakan sebuah buku, bukan bunga atausejenisnya. Maaf malam itu, saat malam awal kita bertemu aku memakai pakaianyang serampangan. Baju lusuh, celana pun robek rombongen. Itu pun yang masihtersisa dan –aku rasa- yang masih nyaman aku gunakan sebagai penutup tubuh.Jika kamu merasa rikuh dengan keadaanku, tak apa. Setidaknya aku sudah menjadiseorang yang apa adanya. Bukan aku tak mau, memang aku tak butuh hal yang serbarikuh itu. Aku tak suka meniru.
            Waktu terus berjalan. Malam terussaja berganti pagi. Beberapa waktu berlalu, kita berjalan bersama-sama. Kitaberdua saling menerka-nerka,. Saling meraba. Saling menjajaki, satu sama lain.Ditempat yang lain, disimpang tiga pula kamu penuh malu-malu. Kamu mengucapkansesuatu.
“Akumengagumimu”. Itu seingatku
“Jadilahdiri sendiri, itu nikmat”. Sahutku menatap wajah ciutmu.
            Kita jalani saja kehidupan kitaseperti ini. Aku jauh, bukan berarti tak akan pernah bertemu. Jarak selalumengundang rindu. Dan rindulah yang membuat kita selalu tegak.
“Ah,kamu lebay. Sedari dulu itu saja katamu”. Ketusmu.
“Emangaku sangat mengagumimu, sangat mengagumimu”. Ucapmu berulang-ulang.
            Disebuah malam yang remang, kitapernah berujar. Berikrar akan selalu bersama.
“Kenapakamu suka malam mas”. Tanyamu via telepon genggam
“Karenahanya malamlah yang selalu tulus”.
“Itumenurut kamu saja kan mas, berbeda dengan yang lain”.
            Apa kamu ingat. Saat sinar begitumemanas, kita berjalan kaki menuju suatu tempat yang berharap tak ada orangyang pernah tahu dimana tempat itu. Tentu itu bukan sebuah gurun, atau padangpasir. Seharusnya aku menolak untuk semua itu. “Ah, aku paling malas jika harusjalan kaki di siang hari”. Kamu pun berbingarbingar, berharap aku akanmenawarkan sesuatu. “Ini buku, untuk kamu baca”. Tawarku
Danterkadang memang suhu tubuh berkelainan dengan sebuah keinginan. Andai sajawaktu itu aku tak menerima tawaran kamu. Barangkali tak akan terjadi sesuatu.Siapa juga yang tahu itu.
            Tepat disebuah pergantian alaf. Padawaktu itu pulalah kita sudahi semuanya. Semua telah sirna. Seseorang yang kitacintai lalu ia pergi. Hanya tertinggal sebuah kenangan. Melupakan berartimeninggalkan. Aku tak seperti itu. Namun aku tak tahu, apa yang ada padadirimu. Sudahlah, apa gunanya aku berbuih-buih memperbincangkan semua ini. Takada gunanya, karena keseriusanku, kamu balas dengan kebohongan. Sudah berapakeeping hati yang kamu telantarkan. Kamu tinggalkan, kamu kalahkan, kamu buangbegitu saja.
“Iniperasaan, janganlah kita saling main-main”. Ucapku padamu sore itu.
            Tak pernah ada yang tahu tentangkita. Karena semua ada saatnya. Apa kamu ragu? Dimalam yang remang, ingin akuberikan sesuatu padamu. Tapi semua? Aahhhh… Cinta itu tak harus buruburu.  Di saat-saat pergantian alaf. Kenapa masihsaja aku selalu mengingat. Ah, barangkali mengingatmu tak sulit. Aku tak akanmelupakan. Tak akan. Melupakan berarti meninggalkan.
Iklan

One response to “Malam Yang Remang Untuk Kekasihku

  1. pengalaman pribadi? nice, tertulis dengan baik 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s