Sekedar Cerita.


“Cuy,kamu ikut KKN Tahun ini juga kan”. Tanya Dewi –sahabat saya- via sms pagi itu.
“Iyasaya ikut KKN”. Balas saya, disela-sela waktu ngopi.
“KKNdi tempat mana kamu”. Balas Dewi, nada memastikan.
“DiIbu belakang gor. Kuliah kerja ngopi (KKN)”.
“Huuhhkah, emboh wes”. Jawab Dewi penuh kekecewaan.
 
Siapayang tak punya tujuan untuk membahagiakan kedua orang tua. Tentunya semuamemiliki cita cita mulia tersebut. Meskipun orang itu seorang anak dungu seperti saya sekalipun. Orang tua mana yang tak bangga ketika anak yang di sekolahkankan menyandang status sarjana. Dibaptis, memakai busana toga,berpose bersama keluarga dan lalu diabadaikan dalam sebuah figura yang indah.Namanya berganti, jelas gelar ikut serta dalam embel-embel dibelakangnya. Tapi apa kalian pernah berpikir. Jika seorang anak muda yang berstatus sarjana muda tak mampu untuk berbuat apa-apa. Buat apa susah payah mencari selembar kertas atas nama “ijazah”, buat apa kita ngantuk-ngantuk datang ngampus takut sama dosen, saat hujan turun harus basah kuyup karena ada ujian. Jika akhirnya selembar kertas tak mampu berbuat apa-apa. Ah, saya memang egois. Oh, tidak.Saya tidak egois. 
            Tepat –meski tak tepat-tepat amat-tahun 2008 silam. Kedua orang tua merestui saya untuk melanjutkan studi kesebuah universitas. Padahal kok kuliah. Sekolah saja saya tak becus. Namunberangkat dari niatan yang tulus jalan pasti saja terlenatang panjang. Saya punakhirnya menjadi seorang mahasiswa. Yang banyak orang menyebut dengan agenperubahan. Entahlah, saya tak begitu paham. Bagi saya, dunia tak dapat dirubahbegitu saja. Belajarlah saya pada sebuah kampus swasta. Menempuh ilmu hukum.Yang sejujurnya saya benci dengan pambahsaan keadilan. Karena mengingat,ditanah kebencian ini pula hukum selalu saja digagalkan. Keadilan selalu taktepat sasaran.
            Saya kira dunia kampus sama persisdengan apa yang selama ini saya bayangkan. Ternyata tidak. Tidak persis denganapa yang ada dibenak pikiran saya. Banyak karakter penghuni kampus. Dan merekaberbeda-beda. Dan saya menghargai perbedaan tersebut. Ada yang suka diskusi,ada yang suka sebatas berkumpul-kumpul, ada yang habis kuliah lalu bergegaspulang, ada yang peduli lingkungan sekitar, ada pula yang acuh terhadapnya danseterusnya. Dan yang perlu kalian tahu yang paling saya benci ialah; yangberteriak –sok- aktivis. Namun –saya kira- inilah dunia kampus. Dan waktu itusaya pertama kali dalam hidup memasuki dunia kampus. Sebut saja menjadimahasiswa. 
            Waktu itu pula saya masihimut-imutnya, lucu-lucunya, barangkali juga culun, tak tau apa-apa. Dibentakkakak angkatan saja sudah minder. Disuruh A, ya A. Maklum namanya saja duniabaru. Tak perlu waktu lama untuk saya beradaptasi dalam lingkungan kampus.Karakter saya yang memang SKSD (sok kenal,sok dekat), membuat saya betah,banyak sahabat dan kawan yang serupa keluarga sendiri. 
            Waktu terus saja melaju. Sayasemakin sidikit merasakan hari-hari ketuaan di kampus itu. Tahun 2011 akhir inisaya seharusnya mengikuti KKN (kuliah kerja nyata). Yah, itu kalau saya ikut.Tapi saya pastikan untuk tidak. Barangkali mahasiswa angkatan 2008 hanya sayayang terlambat. Ah, tapi itu hanya sebatas –barangkali-, kemungkinan saja.Padahal keluarga dirumah selalu menganjurkan saya untuk supaya lulus tepatwaktu. Hal ini karena keadaan. Kebutuhan ekonomi semakin melayang-layang. Sayapaham, -tepatnya- ngerti. Tak mungkin saya terus menerus seperti ini.Ngopi-ngopi, main PS, diskusi, baca buku dan menulis. Tapi saya sadar,biginilah saya memang. 
            Ada kejanggalan. Jika kampus sudahterasa pengap. Maka belajarpun tak harus duduk pada bangku ruangan kelas. Padatitik akhir nadir saya pernah berpikir. Buat apa saya susah payah nguliah. Jikatujuan saya hanya mendapatkan selembar kertas ijazah. Saya juga tak habispikir, ijazah –titel- label hanya dipergunakan untuk melenggangkan pada tataranhidup penuh kemapanan. Mainsed ini pernah ada pada diri saya. Kuliah, cepatlulus, lalu kerja dan kaya raya hidup mapan. Yeeeaah, itu tahun 2008 silam.Saat saya masih imut-imut, kunyus-kunyus, dan juga –barangkali- masih culun.Namun saat ini. Entahlah kenapa label itu tak penting bagi saya. 
Gelar itu mereduksi segala tanduk yang melekat pada penindak”. Tulis Arman Dhani.
 
            Pagi mulai merujuk siang. Saat sayangopi. Dewi sms saya kembali.
“Ngopiterus, kan gak baik untuk kesehatan. Allah membenci orang-orang yang mendzalimidirinya sendiri”. Bunyi sms dari Dewi.
“Yangsaya tahu. Allah sangat menyukai orang-orang yang menjadi dirinyasendiri,hehee”. Balas saya agak sok tau.
Iklan

One response to “Sekedar Cerita.

  1. Semoga gelar (ilmu) yang didapat nanti bisa berguna, setidaknya untuk diri sendiri Mas.

    Salam.. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s