Monthly Archives: Desember 2011

Ngenet


Sudah tiga hari saya menghabiskan waktu di desa saya. Keadaan cukup banyak berubah, setidaknya sudah tidak lagi seperti waktu saya kecil dahulu. Para penghuni desapun banyak yang tidak saya kenali. Terlebih remaja desanya. Entah berapa lama saya jarang pulang kerumah, meskipun pulang paling-paling Cuma 1 atau 2 hari saja. Itupun jarang. Jika saya pulang, saya tidak keluar kemana-mana. Diam dikamar, laptopan, membaca buku, kadang cuma tiduran. Bahkan tetangga sebelah menganggap saya sudah agak gila dan kurang pergaulan. Bahkan, buruknya. Ada tetangga yang mengira saya telah terseret aliran sesat. Aaaiih. Baca lebih lanjut

Sunyi


-Semua tahu, bahwa penderitaan sulit ditanggung sendirian.

Ku rasa kau tahu. Kita terlampau nyinyir berbicara soal-soal yang bulat. Bukankah di antara kita tak pernah akan berseteru. Jika gelar itu tak penting, kenapa terus di buru. “Ilmu di ajarkan sebagai pembebasan atau penindasan”. Ucap Rendra dalam salah satu sajaknya.

Ku rasa kau tahu. Pagi itu kita terburu buru untuk pergi kesebuah tempat kesukaan kita. “Bukankah pada pagi kita selalu gagal membilas tubuh”. Gemingku pagi itu. Hidup kadang soal keras perasaan. Kita tahu itu. Entah mereka. Padamu aku kadang mengadu. Setidaknya berbisik, ditengah rintik airair hujan yang pilu. Baca lebih lanjut

Malam Yang Remang Untuk Kekasihku


“Akumencintai malam. Malam yang remang, sunyi dan menggigil, bukan malam yangpengap”.
            Malam itu kamu sambut aku denganrambut hitam terurai. Tepat di sebuah simpang tiga, bersebelahan dengan POMbensin dekat rumah kamu. Selain kamu sambut aku dengan rambut hitam terurai,pada malam itu pula kamu menawarkan senyum pada bibir sempitmu. Rok setengahmini pun menemui. Malam itu, sebagaimana yang aku tahu, malam awal pertama kitabertemu.
            Sebagaimana yang aku tahu. Kamu bukanlahseorang perempuan pemalu. Perempuan yang sangat akrab pada semua jenis. Lalupada sebuah buku, aku menawarkan perkenalan namaku kepadamu. Barangkali hal ituasing bagimu. Seorang lelaki yang membawakan sebuah buku, bukan bunga atausejenisnya. Maaf malam itu, saat malam awal kita bertemu aku memakai pakaianyang serampangan. Baju lusuh, celana pun robek rombongen. Itu pun yang masihtersisa dan –aku rasa- yang masih nyaman aku gunakan sebagai penutup tubuh.Jika kamu merasa rikuh dengan keadaanku, tak apa. Setidaknya aku sudah menjadiseorang yang apa adanya. Bukan aku tak mau, memang aku tak butuh hal yang serbarikuh itu. Aku tak suka meniru. Baca lebih lanjut

Sekedar Cerita.


“Cuy,kamu ikut KKN Tahun ini juga kan”. Tanya Dewi –sahabat saya- via sms pagi itu.
“Iyasaya ikut KKN”. Balas saya, disela-sela waktu ngopi.
“KKNdi tempat mana kamu”. Balas Dewi, nada memastikan.
“DiIbu belakang gor. Kuliah kerja ngopi (KKN)”.
“Huuhhkah, emboh wes”. Jawab Dewi penuh kekecewaan.
 
Siapayang tak punya tujuan untuk membahagiakan kedua orang tua. Tentunya semuamemiliki cita cita mulia tersebut. Baca lebih lanjut