Timnas Masih Bisa


            Saya salah satu pecinta bola,pendukung timnas Indonesia kalah, seri, maupun menang. Dan saya merupakan salahsatu –dari kesekian banyak pecinta bola-, yang sangat menyukai permainanatraktif, kreatif, satu dua sentuhan ala “tiki taka Barcelona”, menyerang, danbukan umpan-umpan panjang yang cenderung bertahan. Yang paling saya sesalkanialah; saat sebuah tim bermain tanpa pola. Permainan Indonesia VsIran –dan hampir seluruhnya- misalnya. Sebut saja begitu. Okelah kalau begitu,lupakan pertandingan Pra Piala Dunia 2014, yang –sekali lagi- timnas kita tanpapola. Kita menuju timnas U-23 yang beberapa waktu lalu harus –lagi-lagi- kalahdi partai penentu. 
            Semua mata tertuju, para facebookersdi penuhi oleh tulisan-tulisan saling mendukung tim kesayangan dan menjatuhkan timlawan –relitanya begitu- yang saya tahu. Bahkan, seorang lelaki tetangga sayapun harus berebut remote tivi dengan sang istri untuk mendapatkan siaran langsung di layartelevisi. Saya semakin yakin, bahwa dari Sabang sampai Meraoke sepakat. RCTItelah tepat dengan tidak menyairkan sinetron “Putri Yang Tertukar”, dan beralihmenyiarkan secara live pertandingan final Sea Games cabang sepakbola antaraIndonesia Vs Malasysia  malam tadi.Siapkan secangkir kopi, sebungkus kretek, pisang goreng –bila ada-,  mari melotot demi sebuah gengsi. 

<div class=”MsoNormal” style=”line-height:150%;text-align:justify;”>

            Saya yakin seluruh rakyat Indonesiadapat minum kopi dengan batin yang tak terlalu was-was. Stadion gemuruh, wanitaparuh baya yang sedang hamil menghela nafas panjang, anak yang masih duduk dibangku SD bersorak-sorak dan lupa bahwa pak guru memberi mereka sebuah tugaspekerjaan rumah (PR), saat sebagaimana Gunawan Dwi Cahyo mampu menceploskankulit bundar dengan tandukan kepalanya. Begitu pula dengan saya, mengangkattangan keatas meski –saya paham- saya bukan bagian pemain dari timnas U-23. Tetapidari semua tadi, seluruh rakyat Indonesia, pendukung timnas di stadion, wanitaparuh baya yang sedang hamil, anak SD yang bersorak-sorak, berubah menjadi gusar. Saat gawang KurniaMeiga harus bobol oleh tandukan manis pemain Malaysia berpunggung 6 bertuliskanAsraruddin. Dan jujur saya tak sengaja mengumpat di sekeliling keluarga sayayang kebetulan juga ikut menyaksikan sebuah laga pertandingan. 
            “Kitakalah, Ma” Bisikku.
            “Kitatelah melawan, Nak, Nyo, sebaikbaiknya, sehormathormatnya”.(Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer). {Status Facebook, Oryza Ardiansyah}. 
            Barangkali, secuil kalimat darisebuah novel mas Pram diatas yang dapat menggambarkan tragedi tertundanyakembali Titus Bonai Dkk, merebut medali emas di Sea Games 2011 ini –terakhirtimnas juara 1991. Timnas kita kalah. Patrich bak peluru busung yang dilepastak tepat sasaran. Tibo barmain apik, meski menghambur-hamburkan sedikitpeluang. Andik, yang biasanya tampil ngotot dan elegan, seperti orang yangkehabisan akal. Egi bukan bermain buruk, tapi taktis, cerdik dan tampil dinamis,meski kalah apik dari gelandang lawan Badrol. Sejujurnya tim Malaysia bermain lebih kreatifdari pada timnas Indonesia. Dilini tengah, selalu saja ada pemain Malaysia–khususnya Badrol dan Fahri-. 
            Selain saya mengidolakan PepGuardiola, diamdiam saya juga menyukai cara Rahmad Darmawan membesut Titus Dkk.Mereka berdua sama-sama pelatih. Tentu semua paham, tim yang mereka latihberbeda –Barcelona, dan timnas U-23. Jika Wim Rijsbergen ngotot timnas seniorbermain selayak Barcelona –saya kira semua sepakat-, bahwa Wim bermimpi disiang yang tak sedang tidur. Barangkali Wim –tepatnya- mendengkur. Barcelona danIndonesia sangatlah berbeda jauh, bak lautan dan daratan. Semenjak laga dipenyisihan melawan Malaysia, hampir seluruhnya, kita tak lagi melihat permainan-permainanyang menarik. Umpan dari tumit, soloran berbahaya, dan yang atraktif lainnya.Titus dkk, mengandalkan semangat juang,. Kita dapat melihatnya, bagaimana Andikmerebut bola sampai hampir di depan gawang Kurnia, saat melawan Vietnam. Kita dapat jumpaipula, saat Diego harus mondar-mandir, membantu Okto menyerang dan mengamankanpertahan. Namun –sekalilagi- sangat dini jika kita menginginkan permainantimnas seperti Barcelona. Tanya saja Malaysia, harus melalui ritual panjangseperti apa untuk menjadi jawara. Kenapa harus malu. Kita saudara, kitasahabat, kita serumpun, bahkan. 
            Adu Pinalti = Lempar Koin.
            Barangkali semua pendukung timnasmencaci Ferdinand Sinaga, yang dengan akurasi lemah dan gagal saat mengeksekusitendangan pinalti. Setelah memuja Gunawan –saat berhasil memasukkan bolakegawang- lalu mengkritik habis-habisan saat dia -Gunawan- gagal menceploskanbola saat mengeksekusi pinalti. Tapi barangkali pula, semua pemain sepakbolahampir seluruhnya mengalami saat saat seperti Ferdinand dan Gunawan Dwi Cahyo–gagal mengeksekusi tendangan pinalti. Itulah sepakbola, kadang memang terjadiperistiwa yang tak kita duga, bahkan belum pernah kita sempat memikirkannya.Siapa yang tak tahu dengan kehebatan David Beckham. Beckham pernah mengalamisituasi dan kondisi seperti Ferdinad dan Gunawan. Saat Beckham gagalmengeksekusi tendangan pinalti kegawang Turki. Peristiwa serupa juga pernah dialami oleh Samuel Oto’o. Eto’o gagal menceploskan sikulit bundar kegawangSenegal dari tendangan 12 pas. Kejadian itu membuat pendukung Kamerun, membakarkostum Eto’o, karena atas rasa kekecewaan. Dilain rentetan daftar panjang pemainyang gagal mengeksekusi tendangan pinalti, terdapat pula Firman Utina, padababak final leg kedua piala AFF 2010 lalu. Tapi dilain waktu, di gawang yanglain, ditanah lapangan yang berbeda, setiap pemain pasti akan, dan pernahmerasakan manisnya menjadi juara. Dalam situasi dan kondisi  yang berbeda pula.
            Semua boleh kecewa, mengumpat danmencela. Tapi mau gimana lagi, mental juara menjadi salah satu kendala. Saya lebihmenghormati Rahmad Darmawan, mengangkat topi, dan tak lupa mengacungkan duajempol tangan untuknya -meski hal itu cukup berat-. Rahmad lebih jantan, bahwa ia merasa menjadi bagian salahsatu faktor dari kegagalan timnas U-23 meraih medali emas. Rahmad mempunyaisikap rendah hati dan diri yang luas. Melihat, pada bangsa kita ini –daripemerintah sampai bawah- sangat miskin jiwa-jiwa kerendahan hati. Lihat PSSI, ligasimpang siur, muncul tudingan liga ilegal, dan jadwal liga yang tak menentu. Sayahanya gelisah, akan kemana persepakbolaan tanah air ini di tendang. Yang atasrebutan kekuasaan, yang bawah tuding-tudingan. Saya memang seorang pecintasepakbola Indonesia dari pinggiran rawa-rawa, jauh dari stadion dan membaca koransepakbola dar hasil ampungan. Namun setidaknya saya hanya bisa berharap, bahwa kembalikankehebatan “timnas garuda’’.
            Perlawanan sudah sekuat tenaga. Sekuat-kuatnya.Hasil memang membuat kecewa. Kemenagan masih jauh untuk mendekat dari timnasIndonesia. Namun apa daya, Rahmad Darmawan tertunda untuk menjadikan Andik dkkmenjadi jawara. Tim ini kaya akan talenta. Namun entah –lagilagi- PSSI akanmeletakkannya dimana. Timnas telah berbuat. Saya hanya ingin sedikit tersenyumdari pertandingan final pada malam itu. Saat dimana wanita sudah mulai merasa aman dannyaman saat duduk di tribun penonton. Dan di sini pula, saya ingin mengucapkando’a. Atas meninggalnya 2 supporter sepakbola timnas Indonesia. “Semoga diterima amal baiknya”.
              Sayamemang bukan penulis sepakbola dengan ulasan yang hebat seperti mas Darmanto Simaepa. Bukan pula  komentator ciamik semacam bung Tomy Welly –BungTowel. Sekali lagi, saya hanya pecinta sepakbola yang lahir dan besar dipingggiran rawa-rawa, jauh dari stadion dan membaca koran sepakbola dari hasilampungan tetangga. Tapi apa boleh buat. Saya mau melakukan itu dan ada nafsuuntuk semua itu. Maaf, apapun yang terjadi saya akan menulis. Kekecewaan pastimelanda, umpatan terus saja saya ulang-ulang. Namun saya sadar, wasit tak akanmungkin mengulang dan meniup peluit untuk memberi tendangan pinalti saattendangan Egi Melgiansyah mengenai tangan pemain Malaysia di kotak terlarang –bakakke II-. Toh, wasit juga manusia.  Tapi sayayakin, Timnas masih bisa.!

Nb; Dicatat di pinggir rawa-rawa. 

Iklan