Mereka Menduga, Aku Kafir


Judul Novel; Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur. 
Memoar Luka Seorang Muslimah.
Penulis; Muhidin M Dahlan.
Penerbit; ScriPtaManent bekerjasama dengan Melibas.
Tebal Hlm; 264; 12 x 19 cm.
ISBN; 979-99491-1-5 

“Biarlah aku hidup dalam gelimanganapi dosa, sebab terkadang melalui dosa yang dinikmati, seorang menusia bisabelajar dewasa”.(TuhanIjinkan Aku Menjadi Pelacur). Muhidin M Dahlan.
            Sebuah karya novel yang dilahirkanoleh Muhidin dan mampu merobek misteri-misteri tentang teologi, kemunafikan danlain sejenisnya. Kiran –nama perempuan dalam novel itu- seorang perempuan yangmulanya tekun dalam beribadah. Cara hidupnya dalam keseharianpun dipenuhidengan serba ibadah. Banyangkan berjalan menundukpun ia pandang sebagaipenggalangan pahala. Bajunya serba berjubah, panjang-panjang. Sudah barangtentutempatnya berada pada sebuah tempat ibadah yang suci dari najis kecil maupunbesar. Memandang lawan jenis pun di labeli sebagai pezina mata. Kiran mengikutisebuah pengajian. Dari Rahmi –salah satu kawannya- itu ia tahu tentang adanyasebuah pengajian disalah satu kampusnya. Sebelum dari itu, kiran sudah beradadi lingkungan pondok. Perihal ia memang tercatat sebagai anggota pondok KiAgeng.
            Dalam sebuah pengajian tersebut,terdapat kajian-kajian yang menurut kiran sangatlah bagus. Bagus sekali. Kajiantersebut selalu merujuk kepada Qur’an dan Sunnah. Sangat bagus sekali. Rahmisahabat satu pondok Kiran memang terlihat seorang muslimah yang tekunberibadah. Dari ketekunan sosok Rahmi lah Kiran terbawa dan mau mengikutisebuah pengajian tersebut.  Tak khayalpada kehidupan tersebutlah kiran merasa dekat sama sang pencipta. Lalu selangbeberapa waktu berlalu, Kiran menemukan sebuah surat. Surat itu untuknya dariRahmi, yang isinya tentang kepergiannya dari pondok ki Ageng.
            Tak berhenti begitu saja. Kiranmenggalang teman-temannya untuk melanjutkan sebuah pengajian yang mengkajitentang ke-islaman. Didalam sebuah perkumpulan itu pulalah Kiran bertemu denganaktifis-aktifis sayap kiri maupun aktifis sayap kanan (islam). Mengadakandiskusi demi diskusi. Dari sebab itu pula perjalanan Kiran memulainya.Bersikukuh akan menegakkan Negara Islam yang di gadang-gadangnya. Beberapawaktu setelah itu, Kiran memutuskan untuk bergabung dalam sebuah organisasi.Dahiri –nama dalam novel- seseorang sahabat yang membuat Kiran terbawa dalamorganisasi tersebut. Tentunya Kiran paham, perkumpulan tersebut memnag selarasdengan apa yang ia idam-idamkan.
            Dipilihlah jalan dakwah untukmenegakkan hukum-hukum tuhan di Negara Indonesia. Di waktu itu. Di waktu yangsebagaimana Kiran telah selesai di baiat dan sudah tak lagi berada dilingkungan pondok Ki Ageng, sebuah jalan pilihan yang di ambil oleh Kiran untukbertempat tinggal di pos jemaah bersama ukhti-ukhtinya. Kiran berprasangkabahwa jalan yang ia pilih memanglah tepat. Selalu dekat orang-orang yang tekunibadah dan selalu memperjuangkan tegaknya hukum tuhan. Tentu saja Kiran merasaselalu tak jauh dari lindungan tuhannya. 
            Waktu berlalu, berpacu semakincepat. Kiran hidup di lingkungan pos jemaah. Pada suatu hari Kiranbertanya-tanya tentang kondisi dan aktifitas yang terjadi di pos jemaah. Adayang janggal, sesaat pertanyaan Kiran selalu menuai sebuah jawaban yang hambar.Terasa ada yang disembunyikan. Ditutupi. Mula-mula Kiran tak betah. Ia danbeberapa temannya terasa ingin kabur dari tempat pos jemaah itu. Apa yang iapikirkan selama ini, -pos jemaah- yang memeperjuangkan tegaknya hukum-hukumislam tak dapat ia jumpai. Tentu Kiran kecewa, bahkan Kiran tak menyangka didalam pos jamaah itu pula hanya di isi kegiatan-kegiatan biasa. Kumpul danmakan, kehidupan yang individualistik, dan ukhti-ukthi berkehidupanmeterialistik. Kiran berencana keluar dari tempat itu secara diam-diam.  
            Malam itu Kiran berhasil kabur daritempat pos jemaah. Lalu ia pulang ke rumah orang tuanya. Sesampai di tempat,Kiran tak berhenti untuk berdakwah. Sebagaimana yang telah ia pilih jalanberdakwah untuk menegakkan hukum-hukum tuhan. Dan di lingkungan kampunghalamannya pun Kiran menebar dakwahnya. Satu demi satu, Kiran mendapat akhwatdan ikhwan (sebut saja anggota). Selang beberapa waktu yang tak lama, Kiran diduga sebagai penyebar ajaran yang aneh. Bahaya, lebih bahaya dari PKI. 
            Ketika bibit-bibit kecewa menumbuh,Kiran lebih memilih pergi dan mengasingkan diri. Ia kos disebuah tempat, memberijarak terhadap Pos Gamping (tempat jemaah) dan jauh dari kalangan rumahnya.Awal dari itulah perjalanan seorang muslimah yang terluka dimulai. Kekecewaanterlampau membumbui tubuh Kiran. Petualangan memerkarakan tuhan baru akandimulai. Berangkat dari kekecewaan yang dialami, Kiran berubah menjadi brutal. Iaberani bersetubuh dengan lelaki yang belum dinikahinya. Memerkarakan tuhan,tubuh dan tabu. 
            Novel 264 halaman ini. mencobamembuka tabir-tabir kebajikan. Kiran, yang berulang-ulang meniduri laki aktifisdari gerakan organisasi islam sayap kiri maupun kanan. Tak pelak, seorang dosensebuah kampus matahari terbit pun ternyata munafik, dosen tersebut menjadiseorang germo. Maka dari itu, tak seharusnya kesemua-muanya, harus membawaagama. Dalam novel ini pula di terjemahkan –saya baca- bahwa tuhan tetaplahtuhan. Dihina, di caci ia tetap tuhan. 
“Aku mengamini iblis. Lantaran sekianlama ia dicaci, ia dimaki, dimarginalkan tanpa ada satu pun yang maumendengarnya. Sekali-kali bolehlah aku mendengar suara dari kelompok yangdisingkirkan, kelompok yang dimarginalkan itu. supaya ada keseimbanganinformasi”. (hlm;11).
            Didalam novel itu pula dituliskan,bahwa ada beberapa kutipan dari Erich Fromm yakni; “tuhan alam” dan “tuhansejarah”. Tuhan alam ialah; tuhan yang berada ditempat yang siapapun tak akanbisa menjangkaunya atau bahkan kau dan aku sama sekali belum pernahmemikirkannya sama sekali. Sementara “tuhan alam” ialah; tuhan yang menyata,tuhan yang merealitas, tuhan yang hidup dalam tafsir ddan alam pikiran.(hlm;13).
            Didalam kehidupan keseharian kita. Barangkalisejarah tentang pertikaian soal agama menjadi salah satu daftar rentetanpanjang. Sebagaimana yang kita tahu, di Negara kita ini –Indonesia- sangat sensitivejika menyoal mulai agama sampai pada paha. 
            Novel yang menyuguhkan bahasa yangkreatif, ganas dan memukau ini layak untuk kita baca. Alangkah sempitnya otakseseorang, jika tersesat hanya karena membaca sebuah buku. Pada sosok Kiran,seseorang muslimah yang ta’at berubah menjadi brutal. Tentu saja banyak orangmenduga ia kafir-barangkali-. Novel yang sangat sayang jika hanya dinikmatisampulnya saja. Selamat berenang.!

Iklan

4 responses to “Mereka Menduga, Aku Kafir

  1. semoga saja tidak kafir dalam arti yang sebenarnya

  2. Keren ulasannya bang.

    Menerik.!

  3. Sebenarny ini gambaran yang terjadi pada beberapa orang. Dilukiskan dalam debuah novel dengan berani oleh penulisnya. Bagi sebagian org bisa saja penulisnya mendapat antipati dan kecaman. Tapi sebagai manusia yang berakal seharusnya bacaan dapat kita nilai dan pilah2. Saya yakin mas Eko pun mampu memilah-milah informasi dan imajinasi yang ada di dalam novel ini dan mengambil hikmahnya. Makanya sampai ditulis di sini ^__^\

    Saya sendiri sebenarnya penasaran dengan novel ini, sudah lama dengar tapi belum pernah lihat … 🙂

  4. stelah membaca novel tuhabn izinkan aku menjadi pelacur, aku ngerasa sangat plong, dan bahkan aku sangat menyukai novel ini, dimana, pemikiranku tentang teologi yang memang buram, kini menuju kejelasan, novel ini mengarahkanku untuk menjadi manusia yang kritis dengan segala isu yang dogmatis,tentang TUHAN dan tentang apapun,
    “kau bilang TUHAN sangat dekat, kau memanggil TUHAN dengan pengeras suara”
    “kau menyuruh aku berfikir, aku berfikir kau menuduh aku kafir” (gus muh) dalam potongan puisinya yang juga sangat ku sukai,,
    thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s