Tuhan Ijinkan Aku Memeluk Buku


“Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”.“Memoar Luka Seorang Muslimah”. (Muhidin M Dahlan).
Tentangwaktu saya memang lupa. Barangkali yang masih saya ingat ialah; saat waktu itusaya ngopi bersama Hari Wibowo di warung kopi cak Ipul. Malam itu, malamselepas bubaran atas sebagaimana diselenggarakannya bedah novel mbak WinaBojonegoro yang di adakan oleh kawan-kawan Tikungan yang bertempat di gedungMultimedia (kalau gak salah, ya benar). Sebagaimana yang saya ingat, saya danHari pun bergegas untuk memesan secangkir kopi pahit di warung cak Ipul malamitu. Ramai dan ramai.
            Kami berdua pun ngobrolhabis-habisan. Sampai-sampai habis beneran. Secara tiba-tiba Hari menawarkanjasa pinjaman –tanpa uang- sebuah novel karya Muhidin M Dahlan. Novel itu “TuhanIjinkan Aku menjadi Pelacur”. Ah, ada-ada saja. Saya mengaku, judul noveltersebut sangatlah asing bagi gendang dan daun telinga saya. Padahal, -konon-novel tersebut telah dilahirkan pada tahun 2007 silam. Jika saja malam itu sayatak memesan secangkir kopi bersama Hari, barangkali sampai detik ini pula punsaya belum pernah membaca novel besutan Gus Muh tersebut. Terimakasih Hari. Terimakasihkesekian kalinya. Tentunya setelah saya di pinjami novel ada aktifitas sembaridibarengi ngopi. 
            Kiran. Nidah Kirani nama lengkapnya.Seorang muslimah yang tekun menjalani ibadah dalam kehidupan sehari-harinya. Berjalandengan kepala tertunduk pun sebagian dari penggalangan pahala. Memandang lainanjenis merupakan perzinaan mata. Barangkali itu yang sempat saya baca. Mulanya Kiranmemanglah tekun dalam beribadah. Memilih jalan dakwah untuk menegakkanhukum-hukum Tuhan di Indonesia. Tentunya saya tak akan tergesa-gesa untukmembaca dan memahami isi novel tersebut. Sambil duduk bersanding dengansecangkir kopi pahit. 
            Barangkali Hari tak akan pernah tau.Bahwa semenjak saya membawa Novel dari pinjamannya saya di dakwa sebagai kafir. Menujukafir tepatnya. Ah, saya kira mereka hanya gurau saja. Maklum, tempat dimanasaya menghirup udara terdapat orang-orang yang tekun beribadah. Beriman kuat. Sekuat-kuatnya.Ingat. ! “Iman yang tak digoncangkan,sepengetahuan saya adalah iman yang rapuh. Iman yang menipu”. (Muhidin MDahlan). Saya bukan hendak mendakwa bahwa iman kawan saya adalah iman yangrapuh. Namun tentu saja mereka melabeli saya seorang awak yang tersesat. Barangkali pula mereka pelupa. Bahwa alangkah kecilnya otak yangtersesat oleh jilidan kertas. Adapaun –jika itu ada- tak ada yang tersesat,barangkali mereka memilih itu. Memilih sebuah pilihan. 
            Aprsesiasi setinggi-tingginya. Sejujurnyasaya mengaku, bahwa novel ini sangat bermakna. Itupun bagi saya. Setidaknya sayabelajar, atau sekedar mengingat. Bahwa tak ada yang hebat, selain menjadidiri sendiri. Dan saya akui itu. Pada novel karangan Gus Muh ini pulalahtersingkap topeng-topeng aktifis sayap kanan maupun kiri. Kemunafikan terlampaujejal dimana-mana. Tertangkap pula seorang dosen kampus matahari terbit (begitudalam novel ditulis) yang bersifat bejat. Yang dalam cerita novelnya dosentersebut menjadi seorang germo. Belum lagi soal gerakan jemaah yang Kiranpernah masuki. Sebuah perkumpulan yang mengidolakan hukum tuhan berdiri tegakdi Negara Indonesia. Ternyata Kiran tak menemui itu. Bahkan berputar balik. Sudahbarang tentu karya Gus Muh yang satu ini mengundang pro dan banyak kontra. Tapibagi saya novel ini ialah; novel pembelajaran. Sebagaimana tidakkesemua muanya harus membawa nama dogma agama.  
            Dari karya yang Gus Muh telahlahirkan. masih saja saya ketinggalan. Karya itu berjudul “Jalan Sunyi SeorangPenulis”. Saya hanya kebagian membaca sinopsis. Saya sudah 3 kali menyambangitoga mas (tempat penjualan buku) dan saya sudah 3 kali pula keluar masukGramedia untuk mendapatkan kertas berjudul “Jalan Sunyi Seorang Penulis”. Sampai-sampaisaya harus memesan via ponsel kepada salah satu penjual buku online. Namun,kesemua muanya belum memiliki karya tersebut. Tentu saja saya semakin meyakini,bahwa buku itu tak mungkin ada di perpustakaan kampus saya. Dimana harus sayadapatkan.!        
   
Tentusaya berharap akan ada Hari-Hari Wiwobo lagi yang mengajak saya ngopi. Menudingkanjasanya untuk sebagaimana agar saya mendapatkan buku karya Gus Muh tersebut. Mumpungsaya masih haus dan lapar. Sambil berlalu, terdengar suara lagu dari TamasyaBand, lagu itu berjudul “Setidaknya”. Setidaknya ada satu karya yang tertinggal. Saya cinta buku, dan lagu berjudul “Setidaknya”,itu.
Iklan

2 responses to “Tuhan Ijinkan Aku Memeluk Buku

  1. Saleum,
    kunjungan balik sob, mengenai cerita dibuku gus muh ntu tentu saja ada pro dan kontra, hal yang biasa dinegara kita. mudah2an saja setelah kita membacanya bisa membuat iman kita semakin tebal dan kuat.

    saleum dmilano

  2. “Iman yang tak digoncangkan,sepengetahuan saya adalah iman yang rapuh. Iman yang menipu” –

    Hmmm … ujian bagi keimanan seseorang, pasti ada …
    Mudah2an kita bisa melewati dengan baik ujian keimanan kita …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s