Sebuah Konggres


            Setelah melalui beberapa ritualperdamaian dan kesunyian. Akhirnya sebuah konggres besar sepakat digelar. Barangkalisang jendral lupa, bahwa amunisi utama bukanlah peluru busung. Melainkan loby–sebut saja- konsolidasi, mengingat yang akan ia hadapi bukanlah medan perangdengan musuh-musuh bersenjata bom atau serupa nuklir, melainkan sebuahpembelajaran dalam hidup. Dan barangkali pula sang jendral tak ingat, tembakditempat sebuah bentuk penghakiman yang menyisakan kesakitan. Bukaknkahkesakitan ialah; duka. Dan sang jendral pula bahkan lupa, bahwa hal ini yangpertama kalinya semenjak ada gubuk-gubuk tempat penyimpanan senjata yangselesai dibangun. 
“Brengsek”.Umpat Jack (nama kopral), malam seketika itu. Saat sebagaimana ia sedangmengatur jalannya sebuah konggres tikus yang dipenuhi maki-makian. Ke-egoisansalingsilang. Hal itu lumrah, wajar dalam sebuah babakan adu kebenaran. Hanyaberharap pada keheranan, kenapa pula mereka masih sudi marahan. Itu proses.
“Intruksipimpinan sidang, mohon pimpinan sidang yang cerdas sedikit”. Kata-kata itu,sudah seperti camilan yang dilahap setiap saat sidang berlanjut. Bahkan,olok-olok “kampungan”pun harus diterima oleh pimpinan sidang –yang kebetulankopral Jack- yang dikutuk sebagai pemimpin sidang. Arogansi saling meluberkemana-mana. Barangkali, kesabaran dalam hal ini dapat di dikesampingkanmembentuk kata “demi nama baik”. 
            Raut wajah sang jendral sangatwas-was. Sejak pagi hingga malam tergambar diwajah sang jendral kecemasan danmuram seperti pasca turun langsung dimedan perang. Tentu saja ia gelisah.Gelisah berlipat-lipat. Awal mula banyak pihak tak menghendaki adanya konggresbesar-besaran ini. Dengan berbagai alasan, bahkan tak mampu untuk dijelaskan. Melaluikemampuan retorika jendral yang sangat bagus akhirnya sebuah konggres pun digelar, meski dengan embel-embel ketidak sepakatan. Akan adanya ngambek pundicium oleh sang jendral dan kopral-kopralnya yang masih kuat dan sudibertahan. Sesuai dengan apa yang dicium jendral para kopral pun terikut menciumbau akan adanya mogok (sebut saja mogok makan) ngambek besar-besaran.  
            Terbukti. Akhirnya nyata bahwa mogokbenar-benar dilakukan oleh beberapa oknum yang tak menghendaki adanya konggresbesar-besaran. Dengan alasan yang –barangkali- tak mampu untuk dijelaskan paraanggota konggres pun mengancam akan keluar persidangan. Celakanya. Barangkali apayang mereka-mereka lakukan diluar pikiran. Apa dampak dari tingkah laku yang merekalakukan (keluar persidangan). Tanpa tanya, tanpa aba-aba, tanpa alasan yang takmampu dijelaskan. Sang jendral hanya mampu menahan kekecewaan. Setidaknya kesabaranlahyang masih dimilikinya –tepatnya- ada pada diri sang jendral. Tanpa berpikir ulangdari mana dia dahulu berangkat dan diangkat menjadi jendral. 
            Dibalik semua itu tak tinggal diam. Padapurnawirawan-purnawirawan pula ikut terlibat pemikiran. Ada yang menggoyahkan,dan ada yang digoyahkan. Ada yang dikalahkan ada pula yang dimenangkan. Ada dendam,ada pula yang didendami. Tanpa mau tahu, apa yang akan terjadi kelak. 
Banyakkorban dari peperangan. Termasuk kopral. Yang tugasnya serampangan. Ketika palusidang dilempar. Terlampau banyak yang diam. Tak perlu ada yang dipersalahkan.
Iklan

One response to “Sebuah Konggres

  1. nice post mas.., salam kenal 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s