Monthly Archives: November 2011

Surat Pendek,Nan.


            “Jika harus menebak. Terkadangkejadian memang tak sejajar dengan yang kita harapkan. Baca lebih lanjut
Iklan

hanya rindu


-Sebuah catatn gagal.

            Apa yang anda lakukan. Saat anda benarbenar tertipu olehkeadaan. Otak enggan untuk disatukan, jemari tangan sulit menari pada tutskomputer. Jelas –barangkali- pergi kewarung kopi, hal itu yang akan sayalakukan. Maaf, saya sedikit ingin bergumam. Saya hanya sedikit kangen, serbarindu ingin mengisi blog ini. Namun terkadang, apa yang terjadi tak sejajardengan apa yang kita harapkan. Dan kita tak akan selalu tahu, apa yang terjadihari esok. 
Begitulah sedikitgumam. Ini pengobat rindu saya.

Timnas Masih Bisa


            Saya salah satu pecinta bola,pendukung timnas Indonesia kalah, seri, maupun menang. Dan saya merupakan salahsatu –dari kesekian banyak pecinta bola-, yang sangat menyukai permainanatraktif, kreatif, satu dua sentuhan ala “tiki taka Barcelona”, menyerang, danbukan umpan-umpan panjang yang cenderung bertahan. Yang paling saya sesalkanialah; saat sebuah tim bermain tanpa pola. Permainan Indonesia VsIran –dan hampir seluruhnya- misalnya. Sebut saja begitu. Okelah kalau begitu,lupakan pertandingan Pra Piala Dunia 2014, yang –sekali lagi- timnas kita tanpapola. Kita menuju timnas U-23 yang beberapa waktu lalu harus –lagi-lagi- kalahdi partai penentu. 
            Semua mata tertuju, para facebookersdi penuhi oleh tulisan-tulisan saling mendukung tim kesayangan dan menjatuhkan timlawan –relitanya begitu- yang saya tahu. Bahkan, seorang lelaki tetangga sayapun harus berebut remote tivi dengan sang istri untuk mendapatkan siaran langsung di layartelevisi. Saya semakin yakin, bahwa dari Sabang sampai Meraoke sepakat. RCTItelah tepat dengan tidak menyairkan sinetron “Putri Yang Tertukar”, dan beralihmenyiarkan secara live pertandingan final Sea Games cabang sepakbola antaraIndonesia Vs Malasysia  malam tadi.Siapkan secangkir kopi, sebungkus kretek, pisang goreng –bila ada-,  mari melotot demi sebuah gengsi. 

<div Baca lebih lanjut

Mereka Menduga, Aku Kafir


Judul Novel; Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur. 
Memoar Luka Seorang Muslimah.
Penulis; Muhidin M Dahlan.
Penerbit; ScriPtaManent bekerjasama dengan Melibas.
Tebal Hlm; 264; 12 x 19 cm.
ISBN; 979-99491-1-5 

“Biarlah aku hidup dalam gelimanganapi dosa, sebab terkadang melalui dosa yang dinikmati, seorang menusia bisabelajar dewasa”.(TuhanIjinkan Aku Menjadi Pelacur). Muhidin M Dahlan.
            Sebuah karya novel yang dilahirkanoleh Muhidin dan mampu merobek misteri-misteri tentang teologi, kemunafikan danlain sejenisnya. Kiran –nama perempuan dalam novel itu- seorang perempuan yangmulanya tekun dalam beribadah. Cara hidupnya dalam keseharianpun dipenuhidengan serba ibadah. Banyangkan berjalan menundukpun ia pandang sebagaipenggalangan pahala. Bajunya serba berjubah, panjang-panjang. Sudah barangtentutempatnya berada pada sebuah tempat ibadah yang suci dari najis kecil maupunbesar. Memandang lawan jenis pun di labeli sebagai pezina mata. Kiran mengikutisebuah pengajian. Dari Rahmi –salah satu kawannya- itu ia tahu tentang adanyasebuah pengajian disalah satu kampusnya. Sebelum dari itu, kiran sudah beradadi lingkungan pondok. Perihal ia memang tercatat sebagai anggota pondok KiAgeng.
            Dalam sebuah pengajian tersebut,terdapat kajian-kajian yang menurut kiran sangatlah bagus. Bagus sekali. Kajiantersebut selalu merujuk kepada Qur’an dan Sunnah. Baca lebih lanjut

Tuhan Ijinkan Aku Memeluk Buku


“Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur”.“Memoar Luka Seorang Muslimah”. (Muhidin M Dahlan).
Tentangwaktu saya memang lupa. Barangkali yang masih saya ingat ialah; saat waktu itusaya ngopi bersama Hari Wibowo di warung kopi cak Ipul. Malam itu, malamselepas bubaran atas sebagaimana diselenggarakannya bedah novel mbak WinaBojonegoro yang di adakan oleh kawan-kawan Tikungan yang bertempat di gedungMultimedia (kalau gak salah, ya benar). Sebagaimana yang saya ingat, saya danHari pun bergegas untuk memesan secangkir kopi pahit di warung cak Ipul malamitu. Ramai dan ramai.

Sebuah Konggres


            Setelah melalui beberapa ritualperdamaian dan kesunyian. Baca lebih lanjut