Mitra;Kini dan Esok


Kenapa harus ber-Lpm Mitra?. Jujur -kacang ijo-, saya bingung saat pertanyaan itu menyambut saya. Toh, mau tak mau, suka atau tidak, hal itu tidak ada hubungannya dengan secangkir kopipahit pak pojok, sepiring nasi pecel buatan ibu belakang gor, maupun pisang goreng yang ada di kantin mbak Ho. Dan sudahbarangtentu, ini pula tidak ada hubungannya dengan kuliah kita. Lalu?

Lalu memang tak ada hubungan antara kita berproses di Mitra dengan sebungkus nasi, secangkir kopipahit dan pisang goreng di warung manapun juga. Kenapa harus menyibukkan diri. Toh, saya sadar, di sebuah Lpm, saya soksibuk. Khususnya pada Lpm Mitra. Sebuah Lpm yang sejak tahun 2008 silam saya singgahi. Namun banyak hal yang dapat saya ketemukan. Setidaknya hal tersebut membuat saya nyaman untuk belajar banyak, dan banyak belajar. Didalam kesibukan nguliah dan urusan pribadi. Seharusnya kita menyadari, bahwa berproses pada organisasi ialah; sebuah pilihan masing-masing. Memang harus diakui, kesadaran untuk berkomunal dan belajar haruslah di teguhkan.

Seharusnya lagi kita paham, ditempat seperti apa kita harus singgah disaat waktu hujan turun. Ada yang lain saat saya menjejakkan kaki di Mitra. Di Mitra saya diketemukan dengan perlunya menghargai keberagaman. Bahwa –setidaknya- di Mitra tak hanya berdiskusi soal golongan. Tak hanya itu-ituan. Sudah barangtentu, media harus mampu hadir dan berdiri di atas semua golongan. Toh saya memang mennyadari, bahwa orang baik bukan karena ia ber-agama apa, ber-ideologi apa, bersuku apa, berjenis apa. Tapi apa yang ia lakukan. Saya kira, teologi sudah selesai. Urusan masing-masing.

“Fanatik iku oleh-oleh wae lee…, tapi ojo fanatik buta, itu goblok jenenge” (Fanatik itu boleh-boleh saja nak, tapi jangan fanatik buta, itu bodoh namanya)”. Ucap kakek saya.

“opo maneh seng taklid buta, iku ciloko”. (apalagi yang taklid buta, itu bahaya). Imbuh kakek saya yang kadang memang sok tau.

Suatu hari ada seorang kawan saya yang bertanya “Masbro, ideologi Mitra apa?” Tanyanya. Ma’af, saya bukan penjual ideologi.

“Terus mas bro, Mitra memakai teori politik apa”. Tanya kawan saya lagi. Tujuan saya hanya ingin belajar. Setidaknya masih ada tempat untuk orang semacam saya ini. Saya semakin menemukan dunia saya. Berkumpul dengan orang-orang yang gemar merawat ingatan. Saya juga menyadari. Bahwa ini suatu pilihan. Saya harap, -meskipun sesungguhnya saya tak mau tau- ada yang memahami tentang arti sebuah pilihan. Tak mau tau apa kata orang pintar –tepatnya sokpintar-.

Ngapain harus ber-Lpm Mitra?. Seharusnya pertanyaan itu harus di jawab oleh masing-masing individu yang telah menyibukkan diri untuk berproses di lembaga ini. Saya kira sudah tak asing, tepatnya kita sudah paham apa konsekuensi diri mengikuti organisasi. Lagian tahap itu sudah selesai. Dan bagaimana sejarah akan mencatat. Saya kira kalian ngerti.

Ber-Lpm Mitra banyak pengalaman yang tak dapat kita ketemukan di ruang bangku kelas nguliah. Dari hal kecil. Saat saya membutuhkan buku “Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur” karya Muhidin M. Dahlan seharian saya mumet, sampai mata panas mencari di perpustakaan kampus. Akhirnya toh memang tak ada. Saya dapat tersenyum, buku tersebut, saya dapatkan dari hasil pinjam kawan persma saya. Aaasss(sensor untuk melindungi korban) tenan.!!


Mitra Sebuah Organ yang Terus Bersolek.

Tanggal 15-16 Oktober 2011 kemarin. Lpm Mitra melaksanakan hajatan perdana, ialah Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD I). Di ikuti oleh 8 anggota yang rata-rata angkatan tahun 2010. Lalu turut serta 1 orang anggota 2009 yang masih mempunyai kemauan. Kegiatan sebesar apapun, masih tetap saja sangat sederhana. Itulah Lpm Mitra. Tak sok prosedur. Nyantai tapi tak sudi seperti tai. Kalah lalu terbuang.

Dengan durasi waktu dua hari, kegiatan ini di ikuti oleh peserta dengan penuh semangat. Satu hari teori ruangan dan satu harinya langsung aplikasi dilapangan. Pada babakan aplikasi lapangan, para peserta langsung di terjunkan di pasar Tanjung. Sebuah pasar tradisional yang ada di kota Jember. Dengan penuh kesah anggota dan beberapa redaksi dari lpm Mitra harus berjalan kaki. Itupun yang sudi. Yang tidak, ya tidak.

Dari alumni PJTD I ini pulalah ada secuil harapan untuk mempersiapkan jangka panjang. Mau atau tidak, kaderisasi di Lpm sangat dibutuhkan. Saya akui itu. Hal ini dapat kita pelajari dari ranah persepakbolaan Indonesia. Yang gagal dalam pembinaan usia dini. Ujungnya, sepakbola Indonesia tak mampu mempertontonkan sebuah karakter permainan. Sama halnya pada pembinaan yang ada di Lpm (lpm mitra khususnya) ini sangat penting. Karena, jika suatu hari sebuah Lpm di huni orang-orang yang tak paham betul apa fungsi pers (persma), maka yang terjadi salah satunya ialah; larinya sebuah nilai yang tak nyambung, kebablasan, dan cenderung bergesar pada sebuah media profokator tengik. Ujung-ujungnya politik. Politik tai kucing.

Dengan ngopi-ngopinya Mitra tak melepaskan untuk mendiskusikan sebuah lingkungan kampus. Tulis lalu di pampang. Kami tak butuh tahu, siapa yang akan membacanya. Meski hal ini masih jauh dari harapan kita. Ada bulletin Mitra, Selembaran Insidental, Mading Lepas, Mitra Pers Online. Kesemuanya masih sangat terbatas. Terbata-bata dalam wilayah penggarapan. Setidaknya kita masih bergumam. Entah ditempat seperti apa pula. Dengan segala hal keterbatasan itu, kami mencoba untuk selalu berbenah. Meski harus ada yang menulis di antara orang-orang yang buta aksara. Selain Lpm Mitra ini berdiri tegak, sudah seharusnya dapat mencerahkan.

Di Lpm Mitra kita berangkat dari niatan belajar. Diskusi, membaca lalu berkarya, -sebut saja karya itu menulis-. Berdiskusilah sebelum kita didiskusikan. Membacalah sebelum kita dibacakan. Menulislah sebelum kita di tuliskan. Tantangan berproses di Lpm Mitra masih berkutat pada wilayah mau atau tidak. Belum menyentuh pada ranah berani atau takut. Maka, tak harus takut untuk ber-Lpm Mitra.

Saya rasa perubahan sudah terjadi berulang-ulang dan kegagalanpun terus saja di sukseskan. Saatnya menuju era pencerahan. Saya bukan hendak menuntut anda untuk selalu berdiskusi, membaca atau menulis. Karena setiap insan ada keterbatasan, dan penuh pilihan. Namun jika di ijinkan saya akan mengutip pernyataan Mahatma Gandhi bahwa kenikmatan itu terletak pada sebuah proses. Dari itu kita maka saling paham. Di Lpm Mitra pulalah kita berdiri tegak untuk berproses. Sama halnya dengan kengawuran saya dengan menulis ini. Membutuhkan proses. Lalu mana proses kawan-kawan yang ada di Lpm Mitra?

#Edisi Ngawur.

Iklan

10 responses to “Mitra;Kini dan Esok

  1. sek, sebentar. Lagi mau coment foto kamu dulu, Mas..

    kamu, miriip kaya Pacarku.
    🙂 sumpah mirip..

  2. Putri; Waduuhhh.. Phooto yang mana?

  3. hmm. kata busuk-nya kren mas. ini dlm arti ssungguhnya ato prumpamaan? klo prumpamaan brrti FIKTIF BGT! (msih ingat kta2 ini?) 😀 😀 😀 bcnda deh mas. org sby cinta dmai tau 😀 dtggu follback-nya 🙂 mkasi 🙂

  4. oh iya! trnyta mas ini! foto ini! aku inget! pntesan putrie jrs ngmg gtu. aku inget klo aku gak knal sma skli sma mas ini 😀 😀 😀 bcnda lgi kok mas 😀

  5. Waaaah. Maksudnya apa ini ya??

  6. aku kk pengen komen ya mas.. hehehe.. 😀

  7. artikel muw siip jeh…

    komment balik yoo, follow ntuker link

  8. Yang penting terus berproses.. Okey..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s