Monthly Archives: Oktober 2011

Punk In Love. Bagaimana Saat Tertindas Keadaan


Diawali dengan bunyian musik berjudul “Angggur Merah”, betapa saya terkejut jika sedikit mengingat judul filmnya “Punk In Love”. Punk yang saya ketahui ialah sebuah identitas anak yang hidup di jalanan. Tak hanya itu, kehidupan punk ada didalam jiwa. Barangkali begitu sepengatahuan saya (maaf jika anda berbeda). Setidaknya awalan musik tadi telah memutar balikkan pengetahuan saya tentang kehidupan anak punk. Yang rock’ n roll itu.

Sebagaimana yang saya tahu. Setidaknya saya pernah melihat bahwa kehidupan seorang punk yang berpenampilan serampangan dan menepikan nasibnya di jejalanan. Hidupnya selalu ngumpul. Persahabatan menjadi motto hidup mereka. Ialah Arok (Vino G. Bastian) yang hendak berangkat ke kota Jakarta dengan tujuan menggapai cintanya. Arok tak seorang diri. Ia dibarengi oleh tiga sahabatnya yakni; Mojo (Yogi Finanda), Yoji (Andika Pratama) dan Almira (Aulia Sarah). Hidup penuh dengan kebersamaan membuat mereka terasa nyaman. Meskipun hal itu –barangkali- tak mereka kehendaki. Arok yang frustasi karena akan ditinggal menikah oleh Maia (Girindra Kara) sempat melakukan aksi percobaan bunuh diri. Dengan tingkah laku konyol menaiki gedung departemen agama yang ada di kota Malang.

Film yang di sutradarai oleh Ody C. Harahap ini juga mempertontonkan cerita lelucon. Setidaknya hal itu mambuat saya tertawa. Saat sebagaimana adegan buang air besar didalam sebuah bus yang sedang melaju kencang. Film yang beralur perjalanan ini juga menggambarkan sebuah persahabatan. Empat pemuda-pemudi yang meringsek maju untuk menuju Jakarta, dengan menempuh perjalanan yang sangat menarik. Melalui rute-rute yang salah alamat. Jalan menuju kota Jakarta tak semudah yang mereka bayangkan. Belum lagi bekal mereka sangat pas-pasan. Selama didalam perjalanan mereka harus dihadapkan dengan rintangan demi rintangan. Kawan dan teman saling datang dan pergi begitu saja.

Pada film ini pula terdapat sikap persaudaraan yang hebat. Adalah Mojo, yang dalam perjalanan harus terluka di bagian kaki. Dapat kita tengok pula, pada adegan Arok, dan Yoji saat memanggul Mojo untuk melewati sebuah genangan air yang cukup tinggi. Dalam keadaan apapun mereka masih berusaha tetap bersama. Dalam keadaan tak sehat, Arok, Yoji dan Almira tak sudi untuk meninggalkan Mojo. Kesemua-muanya enggan dipisahkan oleh keadaan apaapun.

Kisah mengejar cinta ke Jakarta yang di alami oleh Arok adalah salah satu alur dalam film. Barangkali benar dengan apa yang di ucapkan oleh emak si Mojo dalam adegan film yang berkata “Kejarlah cintamu sampai kenegeri cina”. Berupa penyelewengan dari kata-kata pepatah. Seberapa kuat sesungguhnya tertindas oleh keadaan. “Punk In Love”, film serba terbentur oleh keadaan.

Selamat menengok.!

Mitra;Kini dan Esok


Kenapa harus ber-Lpm Mitra?. Jujur -kacang ijo-, saya bingung saat pertanyaan itu menyambut saya. Toh, mau tak mau, suka atau tidak, hal itu tidak ada hubungannya dengan secangkir kopipahit pak pojok, sepiring nasi pecel buatan ibu belakang gor, maupun pisang goreng yang ada di kantin mbak Ho. Dan sudahbarangtentu, ini pula tidak ada hubungannya dengan kuliah kita. Lalu?

Lalu memang tak ada hubungan antara kita berproses di Mitra dengan sebungkus nasi, secangkir kopipahit dan pisang goreng di warung manapun juga. Kenapa harus menyibukkan diri. Toh, saya sadar, di sebuah Lpm, saya soksibuk. Khususnya pada Lpm Mitra. Sebuah Lpm yang sejak tahun 2008 silam saya singgahi. Namun banyak hal yang dapat saya ketemukan. Setidaknya hal tersebut membuat saya nyaman untuk belajar banyak, dan banyak belajar. Didalam kesibukan nguliah dan urusan pribadi. Seharusnya kita menyadari, bahwa berproses pada organisasi ialah; sebuah pilihan masing-masing. Memang harus diakui, kesadaran untuk berkomunal dan belajar haruslah di teguhkan.

Seharusnya lagi kita paham, ditempat seperti apa kita harus singgah disaat waktu hujan turun. Ada yang lain saat saya menjejakkan kaki di Mitra. Di Mitra saya diketemukan dengan perlunya menghargai keberagaman. Bahwa –setidaknya- di Mitra tak hanya berdiskusi soal golongan. Tak hanya itu-ituan. Sudah barangtentu, media harus mampu hadir dan berdiri di atas semua golongan. Toh saya memang mennyadari, bahwa orang baik bukan karena ia ber-agama apa, ber-ideologi apa, bersuku apa, berjenis apa. Tapi apa yang ia lakukan. Saya kira, teologi sudah selesai. Urusan masing-masing.

“Fanatik iku oleh-oleh wae lee…, tapi ojo fanatik buta, itu goblok jenenge” (Fanatik itu boleh-boleh saja nak, tapi jangan fanatik buta, itu bodoh namanya)”. Ucap kakek saya.

“opo maneh seng taklid buta, iku ciloko”. (apalagi yang taklid buta, itu bahaya). Imbuh kakek saya yang kadang memang sok tau.

Suatu hari ada seorang kawan saya yang bertanya “Masbro, ideologi Mitra apa?” Tanyanya. Ma’af, saya bukan penjual ideologi.

“Terus mas bro, Mitra memakai teori politik apa”. Tanya kawan saya lagi. Tujuan saya hanya ingin belajar. Setidaknya masih ada tempat untuk orang semacam saya ini. Saya semakin menemukan dunia saya. Berkumpul dengan orang-orang yang gemar merawat ingatan. Saya juga menyadari. Bahwa ini suatu pilihan. Saya harap, -meskipun sesungguhnya saya tak mau tau- ada yang memahami tentang arti sebuah pilihan. Tak mau tau apa kata orang pintar –tepatnya sokpintar-.

Ngapain harus ber-Lpm Mitra?. Seharusnya pertanyaan itu harus di jawab oleh masing-masing individu yang telah menyibukkan diri untuk berproses di lembaga ini. Saya kira sudah tak asing, tepatnya kita sudah paham apa konsekuensi diri mengikuti organisasi. Lagian tahap itu sudah selesai. Dan bagaimana sejarah akan mencatat. Saya kira kalian ngerti.

Ber-Lpm Mitra banyak pengalaman yang tak dapat kita ketemukan di ruang bangku kelas nguliah. Dari hal kecil. Saat saya membutuhkan buku “Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur” karya Muhidin M. Dahlan seharian saya mumet, sampai mata panas mencari di perpustakaan kampus. Akhirnya toh memang tak ada. Saya dapat tersenyum, buku tersebut, saya dapatkan dari hasil pinjam kawan persma saya. Aaasss(sensor untuk melindungi korban) tenan.!!


Mitra Sebuah Organ yang Terus Bersolek.

Tanggal 15-16 Oktober 2011 kemarin. Lpm Mitra melaksanakan hajatan perdana, ialah Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD I). Di ikuti oleh 8 anggota yang rata-rata angkatan tahun 2010. Lalu turut serta 1 orang anggota 2009 yang masih mempunyai kemauan. Kegiatan sebesar apapun, masih tetap saja sangat sederhana. Itulah Lpm Mitra. Tak sok prosedur. Nyantai tapi tak sudi seperti tai. Kalah lalu terbuang.

Dengan durasi waktu dua hari, kegiatan ini di ikuti oleh peserta dengan penuh semangat. Satu hari teori ruangan dan satu harinya langsung aplikasi dilapangan. Pada babakan aplikasi lapangan, para peserta langsung di terjunkan di pasar Tanjung. Sebuah pasar tradisional yang ada di kota Jember. Dengan penuh kesah anggota dan beberapa redaksi dari lpm Mitra harus berjalan kaki. Itupun yang sudi. Yang tidak, ya tidak.

Dari alumni PJTD I ini pulalah ada secuil harapan untuk mempersiapkan jangka panjang. Mau atau tidak, kaderisasi di Lpm sangat dibutuhkan. Saya akui itu. Hal ini dapat kita pelajari dari ranah persepakbolaan Indonesia. Yang gagal dalam pembinaan usia dini. Ujungnya, sepakbola Indonesia tak mampu mempertontonkan sebuah karakter permainan. Sama halnya pada pembinaan yang ada di Lpm (lpm mitra khususnya) ini sangat penting. Karena, jika suatu hari sebuah Lpm di huni orang-orang yang tak paham betul apa fungsi pers (persma), maka yang terjadi salah satunya ialah; larinya sebuah nilai yang tak nyambung, kebablasan, dan cenderung bergesar pada sebuah media profokator tengik. Ujung-ujungnya politik. Politik tai kucing.

Dengan ngopi-ngopinya Mitra tak melepaskan untuk mendiskusikan sebuah lingkungan kampus. Tulis lalu di pampang. Kami tak butuh tahu, siapa yang akan membacanya. Meski hal ini masih jauh dari harapan kita. Ada bulletin Mitra, Selembaran Insidental, Mading Lepas, Mitra Pers Online. Kesemuanya masih sangat terbatas. Terbata-bata dalam wilayah penggarapan. Setidaknya kita masih bergumam. Entah ditempat seperti apa pula. Dengan segala hal keterbatasan itu, kami mencoba untuk selalu berbenah. Meski harus ada yang menulis di antara orang-orang yang buta aksara. Selain Lpm Mitra ini berdiri tegak, sudah seharusnya dapat mencerahkan.

Di Lpm Mitra kita berangkat dari niatan belajar. Diskusi, membaca lalu berkarya, -sebut saja karya itu menulis-. Berdiskusilah sebelum kita didiskusikan. Membacalah sebelum kita dibacakan. Menulislah sebelum kita di tuliskan. Tantangan berproses di Lpm Mitra masih berkutat pada wilayah mau atau tidak. Belum menyentuh pada ranah berani atau takut. Maka, tak harus takut untuk ber-Lpm Mitra.

Saya rasa perubahan sudah terjadi berulang-ulang dan kegagalanpun terus saja di sukseskan. Saatnya menuju era pencerahan. Saya bukan hendak menuntut anda untuk selalu berdiskusi, membaca atau menulis. Karena setiap insan ada keterbatasan, dan penuh pilihan. Namun jika di ijinkan saya akan mengutip pernyataan Mahatma Gandhi bahwa kenikmatan itu terletak pada sebuah proses. Dari itu kita maka saling paham. Di Lpm Mitra pulalah kita berdiri tegak untuk berproses. Sama halnya dengan kengawuran saya dengan menulis ini. Membutuhkan proses. Lalu mana proses kawan-kawan yang ada di Lpm Mitra?

#Edisi Ngawur.

Bidadari "(Kenapa Harus)" Jakarta


“Seberapakuat para pendatang mampu bertahan di sebuah kota bernama Jakarta?”
            Sontak pertanyaan itu yang mendadakmenyapa dalam benak pikiran saya. Tentu (barangkali) semua memahami kondisiriuhnya kota metropolitan ibukota Jakarta. Pada tontonan film “Bidadari Jakarta”yang di sutradarai oleh Nanang Istiabudi ini mempertunjukkan gelagat seoranggadis Kalimantan yang mencoba mengadu nasib di kota jejal bernama Jakarta. Jelasniatan berangkat dari tanah kelahiran ingin menjadi orang sukses. Berharapketenaran dapat melekat pada status sosial yang tentu dalam dewasa kini kianmarak di harapkan oleh –barangkali- semua orang.
            Nasib Ulin (Poppy Bunga) bertolakbelakang dengan apa yang ia harapkan. Cita-citanya untuk menjadi penyanyiruntuh di tangan seorang pencari bakat gadungan. Ulin tertipu dan di jualkepada salah seorang bos sebuah night club yang berkedok produser rekaman.Tentunya semua paham, di tempat itu pulalah Ulin dipaksa melacurkan dirinya.Jalan yang ia tempuh di sepanjang perantauannya. Tak jarang Ulin menjadiseorang wanita malam paggilan.
            Sampai pada suatu hari, saat Ulinmelarikan diri dari cengkraman laki-laki hidung belang yang akan memerkosanyadi sebuah gudang, mendadak dalam pelariannya Ulin berjumpa dengan Bert (KeithFoo), yang ketika itu sedang mengendarai mobil. Seorang eksekutif muda,  tampan pula. Mula-mula tumbuhlah benih cintadi antara mereka berdua. Meski mau tak mau, mereka berdua berlatar belakangberbeda. Film yang berdurasi 1 jam lebih ini juga mempertontonkan keadaananak-anak diusia dini yang sedang mengais rezki di sebuah lampu yang sedang memerah.Jelas keterbelakangan status sosial yang terdapat di kota Jakarta tak dapatdipisahkan. Masyarakat yang bercorak, dan datang dari semua penjuru. Kekerasan,narkoba, kemiskinan dan keterbelakangan bercampur. Seolah menjadi penghiasibukota suatu Negara bernama Jakarta. 
            Kehidupan Ulin secara perlahan berubah. Semenjak ia mengenal Bert. Bert yang di perankan oleh Keith Foo ialahseorang pengusaha sukses yang mempunyai niat untuk mendirikan semacam sanggarbelajar untuk anak-anak terlantar. Yang sejatinya, jarang diketemukan dalamkehidupan kota besar. Apalagi kota Jakarta, kota yang terkenal denganpersaingan yang keras. Dan identik dengan “Siapa yang kuat,ialah yang menang”. Dalamkehidupan Ulin yang berubah semenjak dekat dengan Bert, ia mula-mula inginmenyudahi pekerjaan menjadi wanita penghibur. Sesungguhnya, ia hanya frustasi. Tertindasoleh keadaan. 
            Berlalu begitu saja. Ulin menikahdengan Bert. Dan berangkat dari pengalaman hidupnya pulalah Ulin berniat inginmendedikasikan pengalaman kepada kaum muda. Bahwa, dengan tekad yang kuatsemua pasti dapat diraih. Dan kenapa harus Jakarta. Kota ibukota yang jejal danpanas itu.!
            Selamat menengok.!

**Gambar hasil unduh dari google

Kebingungan


            Saya awali tulisan saya ini darisini. Wah, ternyata ini bulan sudah oktober. Saya tak ingat, pada bulan iniblog saya belum terisi coretan sama sekali. Kemana saja saya ya?. Terlampausoksibuk dengan urusan yang lain, berdampak pada sebuah lemahnya kegemaran sayauntuk selalu menulis. Coba bayangkan, pada bulan September kemarin sayamemosting 8 judul catatan. Pada bulan sebelumnya –Agustus- saya berhasilmenempel 14 judul. Nah, di bulan Oktober ini saya malah belum sama sekalimengisi blog yang saya niati menjadi saksi hidup saya selama ini.
            Saya berpikir. Bahwa apa yang sayaperbuat ialah; salah satu pilihan saya. Awal mula, tak ada niatan untuk membuatblog, lagian buat apa. Pikir saya. Namun, saya menyadari, bahwa setidaknya adatempat untuk membuang tulisan-tulisan saya. Memang tak penting barangkali untukhari ini, siapa tahu esok?. Maka dari itu pula saya berniat membuat sebuahblog. Tentunya banyak yang kurang sepakat. Bahkan, mengira saya mengada-ngada.Bahkan sayapun mengakui, atas tulisan saya yang tak dapat berbuat apa-apa. 
            Saya pun harus kebingungan. Akanmenulis apa pada dini hari seperti ini. Sedikit agak lama tak berbuatoret-oretan, berdampak pada kebingungan yang cukup akut. Jari-jemari terasakaku. Otak terasa tak dapat di ajak berpikir. Mata ngantuk, badanpun terasapegal-pegal. Toh akhirnya saya menyadari, bahwa menulis adalah perkara mau dantidak saja. Saya bukan penulis handal seperti penulis-penulis besar yangkarya-karya mereka mampu berdampak pada perubahan. Saya hanya ingin melakukan,kadang juga berpesan melalui sebuah tulisan. 
            Saya kira semua paham. Maaf, pada dinihari ini pula saya bingung.dari kebingungan itu pulalah saya menulis. Meski dirasatak nyambung.