Sekedar Cerita, Menolak Lupa Untuk Hari Kelahiran Mitra.


Malam itu kami duduk setengah melingkar. Tepat di sebelah timur, di ujungselatan gedung rektorat di sebuah lahan kosong berpaving yang di gunakanbermain futsal oleh hampir mahasiswa Universitas Islam Jember saat sore tiba.Hampir dari seluruh keluarga besar Lpm Mitra berkumpul malam itu. Di mana saatmemperingati hari lahir Mitra yang ke III. Kegiatan ini di hadiri pulakawan-kawan UKM dan HMJ yang ada di uij, meskipun hanya beberapa perwakilanyang datang. 
                Di buka dengan kata “BUKA” kamimelanjutkan rentetan acara. Pembacaan puisi, diskusi, dan potong tumpeng. Tentupenuh nuansa nostalgia malam itu. Meskipun pelaksanaan peringatan hari lahirMitra yang tak tepat waktu, kegiatan nyaris tanpa kendala. Tak ada yangistimewa, memang kegiatan sangat sederhana. Seiyanya kegiatan yang bertema“Mitra, Bebas Berkarya, Semakin Berwarna” ini dilaksanakan pada tanggal 18September 2011. Mengingat tertanggal dan bulan itu pula Mitra di kutuk untuk lahir. Namun, karena masalah klasik sehingga waktupun sedikit di undur, sehingga tanggal 24 September tahun ini peringatan hari lahir Mitra selesai di laksanakan.
                Selain di malam yang dingin. Adayang terasa hangat, saat dimana tersisih jeda waktu untuk sekedar  pembacaan puisi. Setidaknya, kita masihsaling mendengar malam itu. Rentetan acara selanjutnya ialah diskusi. Sebuahobrolan yang bertema “Mitra, Dahulu, Kini dan Esok”. Hal ini menunjukkan adanyasebuah tali hubungan sejarah berdirinya Mitra, Mitra dewasa kini dan tentu mimpi Mitra kedepan. Diskusi secara langsung di punggawai olehMahrus Sholih, yang merupakan pimpinan umum Lpm Mitra pertama kali. Malam terasa pekat. Pertanyaan-pertanyaan mulai di sodorkan di hadapan Mahrus malamitu. Mulai dari sejarah blaa…blaa..blaaa.
   Malam kian larut, tentu sajasemakin menyepi. Namun obrolan semakin menghangat. Gagasan-gagasan munculberluber kemana-mana. Sampai saya –malam itu- tak tahu lagi, akan saya kemanakan gagasan tersebut. Pertanyaan dan jawaban saling bertegur sapa. Menyambar dan disambar. Setidaknya pada malam itu pula ada pembuktian bahwa semua individuberhak berpendapat. Masih dalam keadaan setengah melingkar, diskusi malam itutak hanya membahas Lpm Mitra kedepan. Melainkan mengulas hampir tuntasbagaimana Mitra hadir sebagai media berproses dan mampu  mencerahkan sekitar.  
                Kegiatanpun hampir menujupuncak. Saat sebagaimana pemotongan tumpeng siap di laksanakan. Kali ini tugassaya. Jujur saya kaget, saat M.C menyebut nama saya untuk memotong tumpengtersebut. Maklum, ini pertama kali dalam riwayat hidup saya. Tentu saja sayamerasa celingukan malam itu. Saya sempat berpikir. Bahwa hal ini merupakansejarah dalam hidup saya. Tumpengpun saya potong. Tak banyak pikir, potongantersebut langsung saya persembahkan untuk Mahrus Sholih. Ia lah salah satuorang yang berjasa karena telah melahirkan Lpm Mitra di Universitas IslamJember. Selain dia, ada pula Nurfitri Amina, Fathurrahman, Nurul Syamsiah danAfandi, yang hanya dengan bersisa semangat untuk menghidupkan literasi dikawasan kampus uij tersebut. Tentu perjuangan mereka-mereka tak dapat –tepatnyatak mampu- dibalas oleh apapun. Dan saya, ikut berterimakasih. Barangkali tanpamereka, entah di tempat seperti apa orang kolot macam saya ini dapat belajarbanyak dan banyak belajar, setidaknya di Mitra pulalah saya mendapatkan sebuahketeguhan batin, dan sebuah ketabahan. Terimakasih. Terimakasih telah di lahirkan.
 
        Sesaat potongan tumpeng sudah dibagikan. Ada sisa waktu untuk Samsi yang akan membacakan sebuahpuisi di antara tamu-tamu undangan dan keluarga Lpm Mitra yang sedang menikmati hidangan.Samsi bergeliat malam itu. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan dalam puisinyayang berjudul “terjerat kemunafikan”. Samsi, hanya ingin menyampaikan,setidaknya bergeming perihal banyak kemunafikan yang bertameng keberjuangan.Barangkali, Samsi pelupa, bahwa banyak orang yang berpura tuli dalam pendengaran sebuahpuisi di antara lingkungan yang kita huni. Ah, setidaknya kita masih bergeming. Di usia yang ke sekian kalinya ini, tentu banyak pihak yang berharap agar Mitra mampu segera berbenah. Semoga.!

               Acara sederhana pun memang harusbetul-betul di sudahi. Mengingat malam semakin larut. Dengan kata “TUTUP”kegiatan pun selesai.

Salam Persma.!

Iklan

13 responses to “Sekedar Cerita, Menolak Lupa Untuk Hari Kelahiran Mitra.

  1. Selamat dan sukses buat keluarga besar Mitra.

    Ow, judulnya sip..

  2. Terimakasih Masbro.

    Iya judulnya banyak yang bilang esip.hehehee

  3. Selamat Kang atas Milad Mitra
    Semoga LPM Mitra semakin bertambah dewasa dan terus menerus memberikan inspirasi dan kemanfaatan untuk lingkungannya

  4. Congratulations..

    Btw, foto Masnya yang merah itu ya??
    yang sama cewe itu ya?
    yang motong tumpeng itu ya??

  5. Terimakasih. Telah sudi berkunjung

  6. DENGAN INI KAMI KELURGA BESAR BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA UI JEMBER 2011/2012 MENGUCAPKAN SELAMAT DIES MAULIDIYAH YANG KE III, SEMOGA LPM MITRA BERTAMBAH JAYA DAN BERKARYA NYATA UNTUK KAMPUS HIJAU INI.

  7. Ada yang harus di ingat, bahwa 1 kalimat tulisan anda akan membawakan dampak yang besar bagi mahasiswa uij, diterima gak diterima tulisan anda akan menghidupkan kami dan akan membunuh kami pula.

  8. xixixixixi…..apa benar orang2 MITRA trlalu eksis yuah 😀 😛

    Gogogogogo MITRA 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s