Rumah Berkamar Dua


                Di dalam ruangan sesempitapapun, setidaknya kita masih mempunyai hak untuk bergerak yang luas. Seluasluasnya. Malam ini saya benar-benar sedang galau. Selain mimikirkan nasibtimnas di Pra Kualifikasi piala dunia 2014, ada yang menelisik. Kontrakan. Ya,saya sedang memikirkan keadaan kontrakan yang jauh dari jarak badan yang kurusini. Sudah seminggu lebih saya mudik. Berdiam di rumah, dan di manjakan olehbeberapa fasilitas yang –saya rasa- itu tidak ada di kontrakan. 
                Di rumah berkamar dua–kontrakan- itu lah saya berdiam. Tentunya saya menyadari, di kontrakan itupula saya terhindar dari hawa dingin, berteduh dari air hujan dan lainsebagainya. Di rumah berkamar dua itu pulalah saya berteduh. Menghindar daripanasnya terik sinar matahari yang menyengat di siang hari. Setiap hari saya bercandadengan para teman-teman. Memutar music dari winamp komputer. Di kontrakan kamihidup enam orang. Sama-sama masih berstatus mahasiswa. Meskipun, akhirnya sayamenyudahi status tersebut.
                Dalam tingkatan tertentu kamisejenis manusia purba. Soal tempat, kami masih nomaden (dari tempat satu ketempat yang lainnya). Semacam mahkluk purba dahulu kala, yang sering kaliberpindah-pindah. Namun, jika manusia purba dahulu berpindah karena persoalanpangan, akan tetapi tidak dengan kami. Kami berpindah, atau bertempat tinggaldimana rumah tersebut murah untuk di kontrak dan layak di singgahi. Namunsayang, sungguh saya menyayangkan tak ada photo kontrakan untuk saya letakkandi laman putih ini. Kami ngontrak selama dua tahun. Saya lupa harganya. Seingatsaya, kami masing-masing orang merogoh kocek sebesar kira-kira Rp.350.000. Ituseingat saya. Meskipun rumah sangat kecil, namun kami merasa bahagia dapatbertempat tinggal di kontrakan tersebut. Satu kamar, di huni tiga manusia. Setidaknyamasih ada tempat untuk melepas lelah.
                Seperti apa yang saya tuliskandi awal. Di dalam ruangan sesempit apapun, kita masih mempunyai hak untukbergerak seluas-luasnya. Sama halnya dengan kami. Meski kontrakan kami takbesar atau tak luas, kami cukup bahagia. Kami dapat bergerak seluas-luasnya.Datang dan pergi kami dapat sesuka mugkin. Memang hampir seluruhnya hampirsempit, kamar, ruang tamu dan bak air mandi. Bahkan, dapur pun tak ada tempat. Apalagitempat sepedah motor, kami harus menyeting sedemikian hingga untuk memanfaatkanruangan yang masih ada. Meskipun hampir seluruhnya berkapasitas sempit, takdapat di pungkiri banyak teman-teman lain kontrakan yang sering berteduh ditempat kami ini. Ya, setidaknya masih dapat kami pergunakan untuk melepas kelelahan.
                Pada kontrakan ber kamar dua inipulalah kami juga menganggap tempat yang sangat berjasa. Meski tempat takmewah, kami merasa bersyukur, sangat menikmati. Merawatnya bak seperti rumahsendiri. Membersihkan dari kotoran, melindungi dari rayap-rayap yang nakal. Membersihkansawang-sawang yang bergelantungan di atap hingga pojok-pojok dinding. Halaman kontrakanpun tak luas. Namun rumput-rumput hijau saangat suka hidup di halaman tersebut.Kami, khususnya saya orang yang paling malas membersihkan halaman rumah. Namun,teman-teman tak ada kata malas untuk sekedar mencabuti rumput yang sudahterlampau sesak tumbuh di halaman kontrakan. 
                Tahun yang akan datang, masaaktif kontrakan akan habis. Tak terasa sudah hampir 2 tahun kami bersinggah disini. Banyak kenangan yang melekat, dan itu tak dapat secara detail sayajelaskan seluruhnya di sini. Seingat saya pada bulan Maret 2012 akhir kontrakantersebut akan habis masa aktifnya. Entah kami masih belum berunding, untuktetap lanjut atau malah menyudahi perjanjian yang baru. 
                Bagi saya kontrakan juga rumah. Meskihanya berkamar dua, kami cukup bahagia pernah bertempat tinggal di rumah yangtak besar ini. Sudah selayaknya saya mengucapkan banyak syukur, setidaknyamasih ada tempat untuk singgah bagi perantau macam kami. Kontrakan ini duhuniorang-orang dari berbagi tempat. Ada yang dari Palembang (Suhamdani), KelahiranBlitar (Zaenal Muklisin), dan lainnya termasuk saya berasal dari Jember. Kami hidupbersama, dari banyak ragam yang di bawa dari masing-masing daerah. Dankami , yang selalu berpindah-pindah tempat. Mencari tempat kontrakan yangtak terlalu menguras kedalaman kantong. Bagi saya pula, kontrakan juga rumah. Tempatyanga nyaman di gunakan untuk berteduh. Meski hanya berkamar dua. Kontrakan kamijuga rumah, yang harus selalu di rawat. Meski kontrakan ini berkamar dua.
Iklan

20 responses to “Rumah Berkamar Dua

  1. ini bisa loh ikutan story pudding…

  2. tapi hrs dimodifikasi dikit, cobalah cari kisah misal ortu, teman, orang lain yang berumahtangga dengan hdp di kontrakan ke kontrakan…^^

  3. @Putri; komen kamu yang di atas maksudnya apa ya? Maaf gak ngerti soal itu.hehehee

  4. wah keren … kecil namun bermanfaat

  5. Jhon Terro; makasih sudi berkunjung brow

  6. rumah sempit bisa terasa luas dan sebaliknya rumah yang luas bisa terasa sempit, semua ini kembali pada bagaimana kita meletakkan rasa syukur dalam sanubari kita. Meski kontrakan, jika kita bersyukur dengan indah, maka Insya Alloh semua terasa indah

  7. pasti seru ya tinggal dg para sahabat, walaupun kontrakannya kecil.
    aku jg pernah ngontrak dengan sobatku,tapi tidak seramai itu. benar2 pembelajaran hidup tentang bagaiman kebersamaan dan toleransi, serta menjalin persaudaraan
    makasih yach dah mampir ke blogku 🙂

  8. @Djangan Pakies; terimakasih mas telah sudi berkunjung..

    @ria haya;tengkiyu. sama-sama terimakasih telah sudi berbagi

  9. rumah, kamar atau apapun cara kita menyebut tempat tinggal kita memang seharusnya berarti. kamarku juga kantornya. aku sering habiskan waktu disana. pasti rindu sekali kalau suatu hari aku harus pindah..
    nice post btw 🙂

  10. sampean Jember mana nih mas aslinya.. sekarang posisi ada di mana? wah ketemu wong Jember lagi nih di ranah blogspher.. salam kenal ya mas

  11. duni kecil indi; Betul setidaknya masih ada tempat untuk bersinggah.
    mas Lozz Akbar; saya aslinya gumukmas.Tapi ngontrak di kaliwates.hehehee

  12. jiaaah ternyata masih tonggo nih.. aku wong Balung mas.. sama-sama Jember Selatannya..

  13. Wah,, terus bertempat tinggal dimana mas??

    Saya ngontrak..di daerah GOR.hehee

  14. jadi ingat masa-masah kuliah dulu mas..hehehe…
    penuh cobaan dan harus pandai bersabar…
    tapi itu kenangan yang sangat berarti loh…
    cuma kalo mengontrak yah segala konsekuensi harus ditanggung bersama, mulai dari menjaga kebersihan, urunan macam-macam, yah begitulah..hehehe
    salam

  15. muamdisini; pas banget. kadang juga harus nanggung denda bayar listrik. karena terlampau terlamabat setor pajak.hehehhe

    salam juga

  16. bener yang dikatakan anda sob, kita harus selalu bersyukur akan semua yang diberikan sang khalik..

  17. Mas Said: Terimakasih telah mampir ya.hehehee

  18. bersyukur, mudah diucap, namun seringkali susah dipraktekkan…

  19. yg penting wawasan / pikiran ngga bisa dibatasi oleh kesempitan rumah ^^

  20. terimakasih, atas kunjungannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s