Monthly Archives: September 2011

Sekedar Cerita, Menolak Lupa Untuk Hari Kelahiran Mitra.


Malam itu kami duduk setengah melingkar. Tepat di sebelah timur, di ujungselatan gedung rektorat di sebuah lahan kosong berpaving yang di gunakanbermain futsal oleh hampir mahasiswa Universitas Islam Jember saat sore tiba.Hampir dari seluruh keluarga besar Lpm Mitra berkumpul malam itu. Di mana saatmemperingati hari lahir Mitra yang ke III. Kegiatan ini di hadiri pulakawan-kawan UKM dan HMJ yang ada di uij, meskipun hanya beberapa perwakilanyang datang. 
                Di buka dengan kata “BUKA” kamimelanjutkan rentetan acara. Pembacaan puisi, diskusi, dan potong tumpeng. Tentupenuh nuansa nostalgia malam itu. Meskipun pelaksanaan peringatan hari lahirMitra yang tak tepat waktu, kegiatan nyaris tanpa kendala. Tak ada yangistimewa, memang kegiatan sangat sederhana. Seiyanya kegiatan yang bertema“Mitra, Bebas Berkarya, Semakin Berwarna” ini dilaksanakan pada tanggal 18September 2011. Mengingat tertanggal dan bulan itu pula Mitra di kutuk untuk lahir. Namun, karena masalah klasik sehingga waktupun sedikit di undur, sehingga tanggal 24 September tahun ini peringatan hari lahir Mitra selesai di laksanakan.
                Selain di malam yang dingin. Adayang terasa hangat, saat dimana tersisih jeda waktu untuk sekedar  pembacaan puisi. Setidaknya, kita masihsaling mendengar malam itu. Rentetan acara selanjutnya ialah diskusi. Sebuahobrolan yang bertema “Mitra, Dahulu, Kini dan Esok”. Hal ini menunjukkan adanyasebuah tali hubungan sejarah berdirinya Mitra, Mitra dewasa kini dan tentu mimpi Mitra kedepan. Diskusi secara langsung di punggawai olehMahrus Sholih, yang merupakan pimpinan umum Lpm Mitra pertama kali. Malam terasa pekat. Pertanyaan-pertanyaan mulai di sodorkan di hadapan Mahrus malamitu. Mulai dari sejarah blaa…blaa..blaaa.
   Malam kian larut, tentu sajasemakin menyepi. Namun obrolan semakin menghangat. Gagasan-gagasan munculberluber kemana-mana. Sampai saya –malam itu- tak tahu lagi, akan saya kemanakan gagasan tersebut. Pertanyaan dan jawaban saling bertegur sapa. Menyambar dan disambar. Setidaknya pada malam itu pula ada pembuktian bahwa semua individuberhak berpendapat. Masih dalam keadaan setengah melingkar, diskusi malam itutak hanya membahas Lpm Mitra kedepan. Melainkan mengulas hampir tuntasbagaimana Mitra hadir sebagai media berproses dan mampu  mencerahkan sekitar.  
                Kegiatanpun hampir menujupuncak. Saat sebagaimana pemotongan tumpeng siap di laksanakan. Kali ini tugassaya. Jujur saya kaget, saat M.C menyebut nama saya untuk memotong tumpengtersebut. Maklum, ini pertama kali dalam riwayat hidup saya. Tentu saja sayamerasa celingukan malam itu. Saya sempat berpikir. Bahwa hal ini merupakansejarah dalam hidup saya. Tumpengpun saya potong. Tak banyak pikir, potongantersebut langsung saya persembahkan untuk Mahrus Sholih. Ia lah salah satuorang yang berjasa karena telah melahirkan Lpm Mitra di Universitas IslamJember. Selain dia, ada pula Nurfitri Amina, Fathurrahman, Nurul Syamsiah danAfandi, yang hanya dengan bersisa semangat untuk menghidupkan literasi dikawasan kampus uij tersebut. Tentu perjuangan mereka-mereka tak dapat –tepatnyatak mampu- dibalas oleh apapun. Dan saya, ikut berterimakasih. Barangkali tanpamereka, entah di tempat seperti apa orang kolot macam saya ini dapat belajarbanyak dan banyak belajar, setidaknya di Mitra pulalah saya mendapatkan sebuahketeguhan batin, dan sebuah ketabahan. Terimakasih. Terimakasih telah di lahirkan.
 
        Sesaat potongan tumpeng sudah dibagikan. Ada sisa waktu untuk Samsi yang akan membacakan sebuahpuisi di antara tamu-tamu undangan dan keluarga Lpm Mitra yang sedang menikmati hidangan.Samsi bergeliat malam itu. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan dalam puisinyayang berjudul “terjerat kemunafikan”. Samsi, hanya ingin menyampaikan,setidaknya bergeming perihal banyak kemunafikan yang bertameng keberjuangan.Barangkali, Samsi pelupa, bahwa banyak orang yang berpura tuli dalam pendengaran sebuahpuisi di antara lingkungan yang kita huni. Ah, setidaknya kita masih bergeming. Di usia yang ke sekian kalinya ini, tentu banyak pihak yang berharap agar Mitra mampu segera berbenah. Semoga.!

               Acara sederhana pun memang harusbetul-betul di sudahi. Mengingat malam semakin larut. Dengan kata “TUTUP”kegiatan pun selesai.

Salam Persma.!

September – Oktober, yang Tak Nyambung


Barangkali saya terlaluke-pede-an. Tersengat semangat yang susah saya tahan. Malam itu sedangberkumpul di kontrakan, ada  tiga kawan, empatdengan saya. Imam Efendi, Viky Ari Pradana dan Rizal Fariz. Ketiganya adalahkeluarga besar Lpm Mitra, termasuk saya juga. Tak sengaja, tiba-tiba salahseorang dari mereka mendadak ingin menuliskan kalimat “selamat hari jadi” didinding facebook Lpm Mitra. Orang itu Viky, salah satu dari sedikit anggotamagang yang masih sudi bertahan. Tiba-tiba saja saya menjingkat. Saya harusmenulis malam ini juga. Setidaknya bergeming, untuk sebuah hari kelahiran LpmMitra. Masak saya harus teriak-teriak, saat Mitra sedang memperingati harijadi. Ah, nulis sajalah. Toh, di lembaga ini pula saya belajar menulis. 
            Pikiranbuntu. Jangan ditiru. Entahlah saya akan menulis seperti apa. Jarum jam dindingmenunjuk kearah tepat pada angka 01.30, untuk wilayah saya dan sekitarnya. Padahalwaktu itu jam dinding kontrakan sedang mati. Tak ada inspirasi, untuk menuliskansesuatu. Kekurangan bahan, atau sebut saja melarat referensi. Lantas saya mengajakRizal Faris ke warnet, sekedar untuk mencari refrensi tentang hari-hari yangbersejarah. 
            Dengansemangat yang membabi buta. Saya tak kenal dingin, apalagi petangnya dini hari,sungguh saya tak mengenal itu. Saya sudah terlanjur berani pada malam. Saya danRizal pun lalu pergi ke warnet. Di dekat kontrakan warnet sudah tutup. Terpaksaharus pergi ke daerah Talangsari. Sungguh tengik saya ini. Betapa tidak. Tanpasadar, saya nyelonong saja menuliskan sebuah tulisan yang gak nyambung. Tulisanyang saya peruntukkan Lpm Mitra karena sedang memperingati hari lahir, sungguhtak nyambung. Lpm Mitra yang sejatinya memperingati hari lahir pada tanggal 18September dengan kenyelonongan saya, tanpa kesadaran malah saya mempersembahkantulisan yang subtansinya mengarah pada tanggal 18 Oktober. Betul-betul sebuahkecerobohan.
            Denganpenuh ke-pede-an, meskipun hanya lelap dengan durasi waktu yang pendek, sayausahakan bangun agak pagi. Pinjam laptop, untuk menulis, dan sedikit meng-edittulisan yang sedari tadi malam saya coretkan di kertas buku kecil saya. Lalu taklupa, tepatnya selalu ingat. Mempublikasikannya ke beberapa sesama kawan yang ada diLpm Mitra. 
            Tentusaja persembahan saya tak jelas. Gak nyambung dan sejenisnya. Tapi tetap, saya simpan.Dan saya buang ke tempat sampah yang bernama catatanbusuk. Saya tidak sadar. Lebihtepatnya tak ingat, bahwa saat saya menulis untuk Lpm Mitra, hanya sekedaringin mengucapkan “selamat hari lahir” masih bulan September. Dengan penuhsemangat saya menulis, dan saya berikan sebuah judul “Di Bulan Oktober, Adayang Selalu Mengingat”. Sekali lagi saya dalam keadaan tak sadar, bahwasesungguhnya Lpm Mitra memperingati hari jadi pada setiap tanggal 18 September.Bagi saya, meski tak nyambung, setidaknya ada yang saya lakukan. Dan memangharus saya lakukan. Saya hanya hanya bisa menulis. Bagaimana dengan anda.Khususnya yang ngakunya pernah dan atau sedang berproses di Lpm Mitra. Bah.!

****
Sebuah Catatan Anak Hilang. Yanggak nyambung. (Ini catatan busuk yang saya maksud)
Di bulanOktober seperti ini. Di lain musim dingin yang menggigil, saya tak tahu harusberbuat apa. Lantas, terlampau banyak pikirpun hanya berdampak pada semakindedelnya otak saja. Mengingat kita sudah keseringan gagal dalam wilayahmentalitas atau barangkali buta realitas. Dan menyudahinya pada wilayahmenggagas. Lalu ambil pena. Tentu saja saya ingin menulis malam ini. “Selamathari jadi Lpm Mitra”. Sesingkat itukah kamu kedatangan sebuah hari yang bernamahari kelahiran? Ah, saya merasa masih belum cukup lama, saat di mana beberapawaktu lalu kita memotong tumpeng atas rasa syukur di hari kelahiranmu. Sayasemakin harus mengakui, bahwa beberapa hal yang sulit dalam hidup ialah melawanlupa. Dan waktu ini begitu melaju cepatnya, barangkali kita semua akan terbunuholeh waktu itu sendiri.
           Di bulan Oktober seperti ini. Setidaknya ada saat yang tak pernah selesai untuksaya mengingatnya. Pada tanggal 18 Oktober 2011. Entahlah. Di sisi lain padatanggal 18 Oktober 1851 terdapat sebuah peristiwa di mana sebuah novel karyaHerman Melville yang berjudul Moby-Dick, pernah di terbitkan. Sebuah novel yangdi ambil dari julukan seekor ikan paus, yang menceritakan seorang tokoh yangbernama Ismael dalam berpetualang bersama pelayaran kapal demi memburu ikanpaus. Pada novel ini pula, banyak yang mengakui bahwa salah satu karya novelklasik dunia.
           Di bulan Oktober seperti ini. Barangkali rakyat Ajerbaijan berpesta pora,berdo’a memperingati atau sejinisnya. Mengingat pada tanggal 18 Oktober 1919tahun silam, negara Kaukus tersebut memerdekakan dirinya. Dalam kepekaaningatan saya yang lemah, saya masih dapat mengingat setidaknya tak lupa, bahwasebuah radio besutan Inggris (BBC) juga pernah di lahirkan di tanggal 18Oktober. Tepatnya pada tanggal 18 Oktober 1992.
           Di bulan Oktober seperti ini. Di mana saya sukar lelap. Sekali lagi, ada yangharus –setidaknya dapat- saya tuliskan “Selamat Hari Jadi”, barangkali serupakalimat tersebut. Dan saya pun harus terpaksa terbawa dalam sebuah nuansanostalgia pada tahun 2008 silam. Tentu saya paham, tepatnya memahami. Bahwa ditahun 2008 itulah saya belajar bersamamu. Ingin rasanya saya mencipta sebuahpuisi di malam seperti ini. Namun sungguh saya gagal terjegal soal mentalitasdiri. Malu pada Sapardi, Tarji dan juga Zaki. Setidaknya saya tak berhentibergeming. Tak pernah usai untuk bergeming.
           Dalam tradisi kita bukankah tak pernah mengulang-ngulah sebuah hari kelahiran.Entahlah. Barangkali sudah selayaknya kita meniru pada tumbuhan padi. “SemakinBerisi kian menunduk”. Refleksi diri, setidaknya memahami apa arti sebuah lembagaini. Bukankah pada setiap hari kelahiran selalu menyisakan sebuah kesaksian.Buruk, dan baik bercampur seperti lumpur. Sudah seharusnya lembaga iniberbenah, barangkali bersolek.
           Saya dan kamu selayak sepasang kekasih yang berjalan di tepian sungai. Tentukamu paham saat kita berjalan di tepian sungai itu.  Saya masih belum lupasaat kita sedikit di cela oleh orang-orang di luar sana. Semua tahu, barangkalipaham kita sama-sama terlahir dalam keadaan telanjang. Primitif, purba dan sebangsanya.Barangkali juga ada yang pernah menghujat. Mengingat kita berdiri tegak didalam lingkungan kampus yang kecil, dan kampus klaim. Ah, bagi saya itu takpenting. Kiri belum pula seksi, kanan belum pula tampan.
           Terimakasih. Terimakasih atas kesemuanya. Di saat seperti ini, sesungguhnya adaingatan yang selalu melekat. “Kau telah mengajarkanku”. Apa yang telah kamuberikan, tak dapat saya balas seluruhnya. Dan di usiamu yang kesekian kalinyaini, saya masih saja mengingat. Setidaknya saya tak pernah selesai untukbelajar. Apalagi jika itu bukan menulis.
           Muhidin M Dahlan pernah menuliskan kalimat di salah satu karya novelnya. “MaafSaya Bukan Pembunuh”, barangkali begitu kalimat tersebut. 
18 September 2011

Rumah Berkamar Dua


                Di dalam ruangan sesempitapapun, setidaknya kita masih mempunyai hak untuk bergerak yang luas. Seluasluasnya. Malam ini saya benar-benar sedang galau. Selain mimikirkan nasibtimnas di Pra Kualifikasi piala dunia 2014, ada yang menelisik. Kontrakan. Ya,saya sedang memikirkan keadaan kontrakan yang jauh dari jarak badan yang kurusini. Sudah seminggu lebih saya mudik. Berdiam di rumah, dan di manjakan olehbeberapa fasilitas yang –saya rasa- itu tidak ada di kontrakan. 
                Di rumah berkamar dua–kontrakan- itu lah saya berdiam. Tentunya saya menyadari, di kontrakan itupula saya terhindar dari hawa dingin, berteduh dari air hujan dan lainsebagainya. Di rumah berkamar dua itu pulalah saya berteduh. Menghindar daripanasnya terik sinar matahari yang menyengat di siang hari. Setiap hari saya bercandadengan para teman-teman. Memutar music dari winamp komputer. Di kontrakan kamihidup enam orang. Sama-sama masih berstatus mahasiswa. Meskipun, akhirnya sayamenyudahi status tersebut.
                Dalam tingkatan tertentu kamisejenis manusia purba. Soal tempat, kami masih nomaden (dari tempat satu ketempat yang lainnya). Semacam mahkluk purba dahulu kala, yang sering kaliberpindah-pindah. Namun, jika manusia purba dahulu berpindah karena persoalanpangan, akan tetapi tidak dengan kami. Kami berpindah, atau bertempat tinggaldimana rumah tersebut murah untuk di kontrak dan layak di singgahi. Namunsayang, sungguh saya menyayangkan tak ada photo kontrakan untuk saya letakkandi laman putih ini. Kami ngontrak selama dua tahun. Saya lupa harganya. Seingatsaya, kami masing-masing orang merogoh kocek sebesar kira-kira Rp.350.000. Ituseingat saya. Meskipun rumah sangat kecil, namun kami merasa bahagia dapatbertempat tinggal di kontrakan tersebut. Satu kamar, di huni tiga manusia. Setidaknyamasih ada tempat untuk melepas lelah.
                Seperti apa yang saya tuliskandi awal. Di dalam ruangan sesempit apapun, kita masih mempunyai hak untukbergerak seluas-luasnya. Sama halnya dengan kami. Meski kontrakan kami takbesar atau tak luas, kami cukup bahagia. Kami dapat bergerak seluas-luasnya.Datang dan pergi kami dapat sesuka mugkin. Memang hampir seluruhnya hampirsempit, kamar, ruang tamu dan bak air mandi. Bahkan, dapur pun tak ada tempat. Apalagitempat sepedah motor, kami harus menyeting sedemikian hingga untuk memanfaatkanruangan yang masih ada. Meskipun hampir seluruhnya berkapasitas sempit, takdapat di pungkiri banyak teman-teman lain kontrakan yang sering berteduh ditempat kami ini. Ya, setidaknya masih dapat kami pergunakan untuk melepas kelelahan.
                Pada kontrakan ber kamar dua inipulalah kami juga menganggap tempat yang sangat berjasa. Meski tempat takmewah, kami merasa bersyukur, sangat menikmati. Merawatnya bak seperti rumahsendiri. Membersihkan dari kotoran, melindungi dari rayap-rayap yang nakal. Membersihkansawang-sawang yang bergelantungan di atap hingga pojok-pojok dinding. Halaman kontrakanpun tak luas. Namun rumput-rumput hijau saangat suka hidup di halaman tersebut.Kami, khususnya saya orang yang paling malas membersihkan halaman rumah. Namun,teman-teman tak ada kata malas untuk sekedar mencabuti rumput yang sudahterlampau sesak tumbuh di halaman kontrakan. 
                Tahun yang akan datang, masaaktif kontrakan akan habis. Tak terasa sudah hampir 2 tahun kami bersinggah disini. Banyak kenangan yang melekat, dan itu tak dapat secara detail sayajelaskan seluruhnya di sini. Seingat saya pada bulan Maret 2012 akhir kontrakantersebut akan habis masa aktifnya. Entah kami masih belum berunding, untuktetap lanjut atau malah menyudahi perjanjian yang baru. 
                Bagi saya kontrakan juga rumah. Meskihanya berkamar dua, kami cukup bahagia pernah bertempat tinggal di rumah yangtak besar ini. Sudah selayaknya saya mengucapkan banyak syukur, setidaknyamasih ada tempat untuk singgah bagi perantau macam kami. Kontrakan ini duhuniorang-orang dari berbagi tempat. Ada yang dari Palembang (Suhamdani), KelahiranBlitar (Zaenal Muklisin), dan lainnya termasuk saya berasal dari Jember. Kami hidupbersama, dari banyak ragam yang di bawa dari masing-masing daerah. Dankami , yang selalu berpindah-pindah tempat. Mencari tempat kontrakan yangtak terlalu menguras kedalaman kantong. Bagi saya pula, kontrakan juga rumah. Tempatyanga nyaman di gunakan untuk berteduh. Meski hanya berkamar dua. Kontrakan kamijuga rumah, yang harus selalu di rawat. Meski kontrakan ini berkamar dua.

Komentar


            Pascakekalahan 0-2 timnas Indonesia dari tamunya Bahrain, saya mendadak malasmelakukan apa-apa. Mandi, terasa sudah tak segar lagi. Hanya secangkir kopipahit yang terasa nikmat di konsumsi. Entahlah, mengapa secara mendadak sayaberubah nafsu. Saya luapkan saja dengan mengumpat-umpat atas buruknyapenampilan anak asuh Wim Risjbergen tersebut. Belum lagi itu persoalanmeledaknya petasan di dalam stadion gelora Bung Karno. Yang lagi-lagi mencorengcitra persepakbolaan tanah air ini. Jujur saya geram. Geram atas ulah katroksupporter di malam itu. malam di mana timnas tertunduk lesu.
             Siapa yang tak merasa geram coba. Tampilsebagai tuan rumah, Bambang Pamungkas dkk seolah telah habis pikir. Malam itubagi saya Indonesia tak pantas untuk menang. Sepakbola bukan persoalanmenendang bola saja. Melainkan harus melahirkan sebuah keatraktifan permainan.Saya tak melihat, pada malam itu penampilan timnas menunjukkan sebuah permainanyang atraktif. Lini tengah tak dapat di kuasai. Pemain mudah begitu sajakehilangan bola. Bustomi gelandang energik tak dapat tampil maksimal malam itu.Begitu pula dengan permainan Boas. Akhirnya C.Gonzales tak sering mendapatsuplay bola dari lini tengah. 
            Sedarikekalahan timnas tersebutlah saya malas untuk mengerjakan sesuatu. Jujur sayaseorang pendukung timnas kalah atau menang. Namun, saya juga geram jikapenampilan timnas tidak mempunyai alur yang jelas. Srampangan dan asal tendingbola. Saya kecewa, sangat-sangat kecewa. Saya paham, timnas Indonesia memangtergolong tim terlemah. Namun jika kita melihat penampilan apik Firman Utinadkk saat perhelatan piala AFF 2010 kemarin, barangkali lawan akan ketar-ketir.Saat dimana timnas basih di besut oleh pelatih berkebangsaan Austria AlferdRiedl. Namun sayang, nasib Riedl di tendang oleh PSSI periode Djohar Arifin. Sesungguhnya,mau atau tidak komposisi pemain yang ada pada saat ini adalah warisan dariRiedl. Karena alasan bermasalah persoalan kontrak, Riedl harus hengkang darikursi kepelatihan. Tentu publik menilai hal tersebut keputusan yangkontrofersial. 
            Setidaknyamasih ada peluang untuk Indonesia lolos ke babak selanjutnya. Mengingatpertandingan masih juga akan di gelar. Dalam beberapa saat ini Wim harusmenemukan, setidaknya memunculkan permainan yang berkarakter terhadap permainantimnas Indonesia. Tak ada yang mustahil. Dan bola pun sedari saya belum dilahirkan sudah berbentuk bundar. Terus menunggu apa lagi. !
            Sejakitu pulalah –sejak timnas mengalami kekalahan- saya semakin malas untukmelakukan sesuatu. Namun, dalam tingkatan tertentu masih saja saya luangkanuntuk sekedar menulis. Setidaknya pada pagi ini pula, masih ada yang dapat sayaperbuat hal itu menulis meskipun terlampau sedikit. Selain menikmati secangkirkopi pahit di pagi yang penuh embun. Tentu dengan timnas, kalah atau menangsetidaknya pula mereka mempertontonkan permainan yang atraktif yang menghibur. Dansudah barangtentu, para pecinta sepakbola di seluruh tanah air merindukanpenampilan yang menawan dari Hamka Hamzah dkk. Bukan persoalan kalah danmenang.
             

Ngomel


                “Sayagagal. Saya gagal ketika suatu saat lembaran surat tanda lulus nguliah ini sayapergunakan hanya untuk melenggangkan kepangkatan ke jenjang yang lebih tinggi.Sebut saja itu kemapanan. Dan saya resah melihat surat tanda lulus hanyasebagai penunjang kemapanan”.
                Entah tertanggal kapan sayamenuliskan kalimat di atas. Jujur saya lupa. Yang jelas, kalimat tersebut sayatemukan di kertas putih di dalam tas kecil sayadalam keadaan terlipatberlipat-lipat dan lusuh. Saya mengakui, entah kenapa saya dengan sengajamenuliskan kalimat tersebut. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa tanda suratkelulusan masih saja umum dipergunakan untuk meraih sesuatu. Tentu sayaterlampau  basa-basi. Bahkan ketika adaseseorang membaca kalimat tersebut, barangkali saya akan di ludahi. Dan ataumungkin muak sampai mati terhadap si penulis ini.  
                Dalam lemahnya kepekaan sayauntuk mengingat, untung saya masih belum lupa, bahwa saya pernah menjadimahasiswa, meski belum lulus dan akan memastikan keluar. Tak ada niatan akan kemana,hanya untuk belajar saja. Tahun 2008 silam, saya di baptis menjadi status yangkonon agen perubahan tersebut. Dalam benak pikiran saya hanya kehedonisan yangada di dalam kehidupan mahasiswa. Maklum tubuh kurus kering ini berangkat daridesa yang terpencil. Tak tanggung tanggung saya mengambil jurusan keadilan. Awalnyasaya berharap, akan menjadi seorang pengadil yang seadil-adilnya. Namun cita-cita saya bukan hal itu. 
                Tahun berganti tahun. Apalagihari yang terus saja tanpa ampun melaju begitu cepatnya. Dengan keadaan warassaya mengikuti organisasi yang ada di kampus. Niatan saya hanya belajar, yanglain tak penting. Di tempat itu pulalah saya mengabdi. Belajar bersama dan lainsejenisnya. Sebelumnya saya tak sempat berpikir apa itu organisasi, apa itukuliah. Sekolah saja saya kagak becus. Namun sekali lagi itulah awal mula sayamenjadi mahasiswa, pada tahun 2008 yang lampau. Saya memang tergolong orangyang tak mau tau. Diskusi, demo, membela kaum yang lemah, saya tak mengenal dantak mau mengenal semacam itu. Dan sekali lagi, sekolah saja saya kagak becus.Tak becus.!
                Karena ajakan salah satusahabat, saya juga mengikuti sebuah organisasi kemahasiswaan. Tersesatlah sayadi sebuah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Tentu saya heran. Namun suka tak suka,mau atau tak mau di LPM inilah saya menemukan hal yang baru. Kerjaan sayamemang hanya nyocros, baca buku, menulis, main games dan ngopi. Di LPM ini pulalahsaya terasa menemukan sesuatu. Tentu bukan hubungan pasangan. Karena sayamemang sulit mengeja seorang wanita. Niatan saya belajar, mengingat di sebuahLPM ada satu kesamaan nafsu yaitu menulis. Soal nulis, bukankah sejak kecilkita di ajarkan. Dan saya, menjadi pembohong. Karena saya suka mengarangcerita. Pembohong yang kreatif. Kata kawan.
                Bukan. Saya bukan hendakmembebaskan orang-orang yang tertindas. Saya tak ada jargon, sungguh takmempunyai jargon yang hebat seperti kebanyakan mahasiswa yang inginbercita-cita luhur membela kaum yang lemah. Saya hanya seorang bertubuh kurusdan penikmat kopi pahit, yang dulu menyempatkan hidup menghela nafas di jalan untukmenetapkan nasib. Sekarang sudah berlalu. Dan saya masih seperti itu.
                Saya juga tak habis pikir. Jikaseseorang yang katanya berproses di salah satu organisasi baca tulis ogah untukmembaca dan menulis. Dan saya mengaku, saya telah kesengsem dengan dunialiterasi. Selain saya penikmat kopi pahit, saya juga gemar bermain game disela-sela ketidak rampungnya pekerjaan sehari-hari. Tentu salah beberapa temansaya cukup berang terhadap kelakuan saya. Karena mereka lebih memilihberteriak-teriak revolusi. Revolusi mbahmu sempal kui. 
                Saya hanya bisa menulis. Sayamerasa sejuk jika dapat melakukan hal itu. Jika saya harus di hukum perihalkelakuan saya. Hukumlah saya untuk berduet di lini tengah bersama AchmadBustomi di setiap pertandingan timnas “merah putih”. Hehehe.

Lagi-Lagi Bola


                Jika Negara Brazil terkenaldengan “Samba”nya, Argentina dengan “Tango”nya, Spanyol dengan “Matador”nyalalu sebutan  apakah yang pantas untuksebuah tim sepakbola negara bernama Indonesia. Tentu tak dapat di alingi bahwa sepakbola pada setiap negera memiliki cirikhas masing-masing. Barangkali cirri khas tersebut dengan begitu saja disematkan sebagai sebutan tim sepakbola (Negara) tersebut. Indonesia lebihsering di sebut dengan tim “garuda”, atau yang lain tim “merah putih”.Darimanakah sebutan tersebut di peroleh?
                Saya salah satu orang yangsepakat, bahwa setiap tim (Negara) dalam hal sepakbola haruslah tersematkanjulukan. Prancis dengan ‘ayam jantan’, Jerman dengan “tim panser” dan tim-timyang lainnya. Indonesia mempunyai sejarah panjang dalam persepakbolaan. Bahkantim yang berjuluk “Garuda” ini mengaku bahwa merekalah Negara pertama kali yangmewakili Asia dalam ajang piala dunia pada tahun 1938 waktu itu bertempat diPrancis, meski nama  Negara ini masihbernama Hindia-Belanda. 
                Tahun 2011 ini, Alferd Riedldatang sebagai tactician. Sejumlah pemain tua di buang begitu saja oleh pelatihberkebangsaan Austria tersebut. Ponaryo Astaman pun harus menjadi penontonsemenjak apiknya penampilan Ahcmad Bustomi bersama timnas garuda. Formasi danberbagai gaya permainan di rubah oleh Riedl. Tak pelak, timnas mampu tampilmenawan di sepanjang pertandingan Piala AFF 2010 kemarin, meski Firman dkk harusgagal juara karena kalah oleh tim Negara tetangga Malaysia. Saat Riedl hadirtimnas garuda mengalami perubahan yang sangat positif. Permainan berkarakterlahir. Alur permainan mendadak di pertontonkan oleh para punggawa timnasIndonesia. Meski pada saat itu pula PSSI yang di tengarai sebagai badantertinggi sepakbola tanah air mengalami kegaduhan yang amat serius. Belum lagipersoalan adanya liga tandingan macam LPI yang di gagas oleh bung ArifinPanigoro cs. 
                Pada tahun 2011 ini pulalahkekisruhan PSSI berakhir. Nurdin Halid harus lengser sebagai ketua umum. Karenadinilai gagal memimpin PSSI. Meskipun Nurdin telah lengser, kegaduhan takberhenti begitu saja menerpa persebakbolaaan tanah air –sebut saja PSSI-. Inidapat di lihat dari gagalnya kongres PSSI yang di warnai kisruh. Lahirnyakelompok 78 yang di cium sebagai kelompok tandingan. Hal ini memaksa badantertinggi sepakbola dunia (FIFA) ikut campur dalam kekisruhan tersebut. 
                Badaipun berlalu. PSSI punmembuka lembaran baru. Setidaknya itu terlihat setelah Bung Djohar Arifinterpilih sebagai ketua umum PSSI yang baru. Namun problem tak berhenti begitusaja menghampiri persepakbolaan tanah air. Pasca Djohar terpilih, tanpa tendengaling PSSI memecat Alferd Riedl dari jabatan pelatih timnas Indonesia denganalasan “masalah kontrak”. Bukan hanya Riedl, namun asisten pelatih pun PSSItendang keluar lapangan. Entah apa yang ada di benak pikiran PSSI saat itu.Yang mengambil langkah miring memecat pelatih di saat timnas akan tampil di PraPiala Dunia 2014 melawan Turkmenistan di babak ke empat. 
                Setelahnya, setelah PSSI eraDjohar menendang keluar lapangan Riedl PSSI mendatangkan pelatih asal NegaraBelanda yang bernama Wim Rijsbergen. Mantan pelatih PSM tersebut mengaku dikontrak PSSI selama dua tahun. Dengan tim dan materi pemain tinggalan Riedl,Wim mampu membawa timnas Indonesia memukul mundur Turkmenistan. Alhasil, timnaspun mampu maju ke babak ke tiga pada pra Piala Dunia 2014 zona Asia berada satugroup dengan tim-tim Negara teluk yakni Iran, Bahrain dan Qatar. Jelas semuamengakui bahwa langkah tim garuda sangat berat di babak ke empat ini. Lawan-lawantimnas di atas kertas memang  lebih bagusdi banding Bambang Pamungkas dkk. Hanya Bahrain yang mau tak mau dapat kitasetarakan dengan timnas Indonesia. Sedangkan Iran. Siapa yang tak kenal Iran.Tim kuat timur tengah tersebut. Terakhir timnas Indonesia bertemu Bahrain padababak penyisihan piala asia 2007, dan Indonesia mampu unggul tipis 2-1 untukkemenangan Firman Utina dkk. Namun semua pasti berharap. Dengan kemampuanseadanya dan visi-misi bermain, punggawa-punggawa timnas optimis mampu melewatisemua itu. 
                Wim Risjbergen datang pada saatPSSI sedang mengalami awalan yang baru. Wim harus mampu terlebih dahulumembentuk karakter tim. Karena itu penting, sebelum melangkah lebih jauh lagi.Nah, sudahkah timnas Indonesia memiliki karakter atau barangkali cirri khaspermainan yang menawan. Saya kira itu perlu di bentuk. Sebelum bermimpi disiang bolong tampil di kancah piala dunia.  
               
                Bravo timnas. !

Warung Pojok


                Sudah sedikit agak lama takpergi ke warung pojok. Tempat saya ngopi bersama teman-teman. Pojok ialahtempat ngopi. Sematan kata pojok sering di gunakan oleh teman-teman (khususnyateman kontrakan). Hampir setiap malam kami menghabiskan waktu di sana. Selainrasa kopi yang pas, tempat juga lumayan strategis. Maksud saya adalah, warung pojoksebenarnya berada di posisi perempatan jalan pasar tanjung Jember. Selainmenikmati secangkir kopi pahit, kami juga di manjakan dengan keramaian kotaJember ini. betapa tidak, tontonan ramainya kendaraan berhulu hilir begitusaja. 
                Di pojok saya kira merupakansalah satu tempat favorit. Selain menyeruput secangkir kopi pahit mata memangdi manjakan oleh ramainya jalan raya. Motor saling berjejeran jika sedang waktulampu memerah. Di pinggir jalan itu pula dapat kita lihat para pedagang bungayang di gunakan untuk bepergian ke makam dan sejenisnya. Terlihat pula banyakpedagang sayuran yang bejejer mengais rejeki.
                Kembali ke warung pojok. MasPor, begitulah ia akrab di sapa. Pemilik warung pojok kelahiran Kencong. Orangyang satu ini saya kenal sangat ramah dan humoris. Ia bagi saya orang yang disiplin dan tekun dalam mengerjakan sesuatu yang menjadi tanggungjawabnya.Selain saya sebagai pelanggan, ia (mas Por) juga sering kali saya ajak sebagaiteman curhat. Lebih-lebih ia lebih suka jika di ajak ngbrol tentang pengalamanhidup maupun berdagang. Saya dan mas Por, mempunyai keedekatan emosional. Halini saya kira di tengarai saya dan ia sama-sama berasal dari Jember Selatan.Setidaknya hal itu nyambung jika ngobrol tentang daerah, kejadian dan sejenisnya. 
                Saat ini saya cukup lama sudahtak berkunjung ke tempat pojok itu. Tak lama-lama amat, kira-kira masih sekitarlebaran kali ini. Mengingat saya dan teman-teman kebanyakan mudik. Kami tidakbisa meninggalkan kenangan manis bersama warung pojok begitu saja. Warung pojokhanya malam hari dapat di singgahi. Mengingat warung tersebut buka pada saatmalam tiba. sedangkan jika siang warung pojok tutup. Warung setengah lesehanyang bertempat di dekat lampu merah Pasar Tanjung tersebut lumayan ramai. Warungini sangat sederhana, kecil tapi berpenghasilan lumayan besar. Begitulah katamas Por. “ya meskipun warung ini kecil, kalau hasil ya syukur lumayanlah buatmakan sehari-hari”. Kata mas Por suatu ketika. Warung besutan Mas Por inisejatinya punya mertuanya. Mas Por hanya melanjutkan mertua yang sudah tua. “Sebelumsaya yang di jualan disini, dahulu mertua saya”. Ucap mas Por. Tapi sayang, masPor benar-benar tidak mau menyebutkan secara detail penghasilannya. “cukuplahkalau hanya buat makan keluarga”. Ujarnya sambil tersenyum.
                Saya mengetahui dan mengenalwarung pojok ini kira-kira tahun 2008-an. Saat itu saya masih kuliah semestersatu. Sahabat senior sayalah yang memperkenalkan bahwa ada tempat ngopi yangsangat nyaman. Sejak sedari itu pula saya semakin akrab dengan mas Por danwarung pojoknya itu. Harga pas, rasa kopi nikmat sampai ke ampas. Bagi sayapula, tempat warung kopi pojok sudah membuat kenangan tersendiri dalamkehidupan saya. Warung kopi pojok, saya mengenalnya. Di mana mas Por lahsebagai empu penjaga warung tersebut. Di tempat ini pula –tempat warung pojok-hampir setiap malam saya berada. Kadang juga bergeming, bersama teman-teman. Setidaknyamasih dapat bergeming dari malam kadang juga sampai pagi.