Pengamen dan Lebaran


                Seorang pengamen , yang menawarkan jasa suara dan kreatifitas yang keluar dan masuk dari angkot satu ke angkot yang lain. Hidupnya penuh dengan cacian, tepatnya ia selalu di pandang hina. Tiap hari hanya gitar tua dan sedikit lapuk yang sudi untuk setia di pelukannya. Tak ada yang lain, selain itulah jalan hidupnya. Sejak kecil ia di tinggal minggat oleh bapaknya. Entah, tanpa alasan yang jelas. Barangkali ia frustasi, kecewa dengan keadaan. Maka dari itulah ia meninggalkan rumah, dan tanpa pamit ibunya untuk menjadi pengaman di jejalanan. 
                Waktu itu, tanpa pamit ia bergegas meninggalkan rumah dan ibunya. Hasrat kecewa yang di pendamnya memuncak kala itu. Ia panik, tepatnya tak ada pilihan lagi. Barangkali pergi dari rumah lah yang di rasakannya dapat merubah keadaan. Lalu ia pergi. Dan berjalan menyusuri sepanjang jalan. Di tangannya tak lepas sebuah gitar tua yang di gunakannya untk meraup uang, tentu dengan hal inilah ia dapat bertahan hidup yang serba pahit bagi dirinya. Kelakuannya hanya itu, ngamen dari satu angkot ke angkot yang lainnya, berharap akan ada seseorang yang sedang baik hati melemparkan uang recehan ke tempat yang telah ia sediakan. 
                Tak pernah berpikir untuk ia bergegas pulang dan menemui ibunya. Bahkan saat ibunya sedang sakit keras ia tak lagi ada di sampingnya. Hidupnya hanya di jalan, trotoar dan tempat-tempat malam. Barangkali ini di akuinya serupa kutukan nasib. Nasib yang tentu sedang ia jalani, dengan susah, dan bahagia. Dari hasil ngamennya, ia masih saja menyisihkan sedikit uang (tepatnya recehan) untuk ibunya yang sedang berada di rumah. Ia sesungguhnya tak mempunyai keinginan seperti ini, namun keadaanlah yang memaksa dan mendukungnya. Bukankah, dimana kita ada lingkungan pula yang ikut campur .
                Tiap hari-harinya ia kerja keras untuk mencari uang recehan. Pada suatu hari ia mengingat kembali ibunya yang sedang berada di rumah. Ada sesuatu yang akan ia perbuat. Tentu untuk ibu tercintanya. Dengan susah payah ia mengumpulkan uang recehan dari hasil ngamennya. Ia berharap, ada sesuatu yang akan ia berikan kepada ibunya pada tahun kali ini. Entah, ia belum menangkap apa sesuatu tersebut.  
                Tahun terus melaju dengan tersendirinya, tak ada yang mampu untuk sejenakpun untuk menghentikan lajunya. Suatu malamiIa teringat pada sosok ibu yang pernah melahirkan dirinya. Ia sedih, gelisah yang berlipat-lipat. Tak ada yang mampu ia perbuat, selain menyisihkan uang (dari hasil ngamennya) untuk membelikan ibu tercintanya sehelai kerudung putih. Ya, kerudung putih yang bernilai tak besar. Ia  beranikan  pulang kampung, meskipun ia sudah tak diterima di lingkungan sekitar rumahnya. Orang lain menganggap hina, sosok pemuda yang malas dan tak tau diri.
                Tak ada yang tau sebelumnya, selain dirinya. Ia membelikan sehelai kerudung untuk ibunya pada saat lebaran tiba. Saat dimana kebanyakan orang berkumpul-kumpul dan saling memaafkan. Ia pun pulang ke rumah. Memeluk ibunya penuh maaf. Di hari yang orang lebih sering menyebut dengan hari fitri.
                Apakah ada seseorang yang pernah berpikir, bahwa sesungguhnya dia (pengamen tadi) tak ingin menjalani sebuah kehidupan yang di anggap hina oleh orang lain?. Tak ada yang tau, jelasnya tak ada yang mau tau. Kadang memang seringkali manusia mendadak berkata, tanpa melihat apa sesungguhnya yang terjadi. !
                Selamat lebaran.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s