Tak Penting.



/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

            Dalam keadaan bagaimana pun, bukankah setiap orang berhak untuk memperjuangkan apa yang di anggapnya benar. Begitu pula pada sosok Marmo, yang dengan sengaja memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi, baginya semua tengik. Tak ada yang tau, tepatnya tak ada yang pernah mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Marmo. Barangkali sebagian orang (bahkan banyak) menganggap Marmo ialah seorang yang tolol. 
            Pada sosok Marmo di ketemukan salah satu pemuda yang gemar membaca dan menulis. Tentu, kerjaannya bukan saja hanya hal itu. Pada diri Marmo pulalah lahir sebuah kesaksian, bahwa membisu adalah perbuatan yang tolol. Setidaknya bagi dirinya masih ada yang ia perbuat, meskipun hanya sekedar mencatat. Menulis baginya bukan persoalan yang gampang, meski dalam tingkatan tertentu banyak orang mengganggapnya tak terlu sulit. Tak luput, ia kadang harus di hujat, perihal kerjanya hanya membaca dan menulis. Namun dalam dirinya pula terdapat sifat yang tabah. Ia berangkat dari nol, tepatnya merangkak dari bawah. Marmo berangkat dari desa, barangkali hal itu yang membut ia selalu tabah.
            Tak secuil pun ada niatan untuk menjadi penulis. Bagi Marmo, barangkali menulis adalah sebuah kutukan. Jelas awal mula ia tak begitu menghendaki akan hal itu. Betapa tidak, dengan ritual kegiatannya tersebut ia harus tersisihkan dari hiruk-pikuk keramaian. Banyak yang menggunjing. Tepatnya tak sepakat. Ada saat yang di ingat saat Marmo di gugat kawan-kawannya. Ia di cemo’oh karena hanya gemar bercumbu dengan buku dan pena. Bahkan, keluarganya (sebagian) tak menghendaki jalan Marmo. Mereka berharap Marmo menjadi seorang guru, ataupun pekerja kantoran dengan bayaran besar. Tapi Marmo yang memang terkenal dengan keras kepalanya tak menggubris hal itu, dalam dirinya hanya ada “dirinya sendiri”. Bukankah tak ada yang nikmat, selain menjadi diri sendiri, pembual sekalipun. Malah, ia ingin sekali menjadi seorang pegiat. Yang sudah tentu berseberangan dengan pola pikir keluarganya. 
            Sedari dulu Marmo sangat mengagumkan kebebasan, tentu dengan batas-batas yang wajar. Sejak masih duduk di bangku ruang kuliah (meski akhirnya ia tak lulus), ia begitu di kenal dengan mahasiswa yang ramah. Ia kecewa terhadap system yang ada, tepatnya barangkali di kecewakan. Entahlah letak kekecewaan tersebut di sebelah mana. Menjadi sebuah rahasia nasib baginya, bagi diri dan hidupnya. Ia tau, jalannya menjadi seorang penulis tak di restui oleh banyak orang. Mengingat semua juga ngerti, bahwa barangkali menjadi penulis akan melarat. Tapi bagi dirinya, itu tak penting.  
 
            Bahkan pada suatu masa Marmo harus mengalami masa-masa sulit. Ia terasingkan di dalam gerumulan pergaulan masa mudanya. Tentu hal itu membingungkan bagi dirinya. Mengingat semasa usianya yang masih muda, tentu hal semacam yang ia jalani jauh dalam sebuah kehidupan anak muda. Ia tau, tepatnya ia sadar bahwa hal itu sulit. Masa-masa yang sulit dan sudah menjadi pilihan bagi jalan kehidupannya. Dan ia rasa, bahwa setiap manusia berhak menentukan jalan pilihannya. 
            Belum lagi, saat dimana ia harus berseberangan dengan komunitas di sekitarnya. Sebuah komunitas yang tentu tak sepakat dengan apa yang di jalani Marmo. Ia menulis di antara orang-orang yang buta aksara, barangkali tepatnya malas membaca. Tapi bagi dirinya pula itu hal yang tak penting. Entah kutukan apa yang berdiam dan mengendap pada diri Marmo. Barangkali serupa sebuah pilihan, pilihan yang ia memang pilih. Marmo tak kecewa, bahkan ia bangga. Meskipun banyak orang yang tidak sepaham dengan jalan yang ia pilih. Apalagi di sisi yang lain, banyak orang yang menghendaki revolusi sampai mati, dengan turun jalan dan berduel dengan banyak kerikil-kerikil besar itu.
            Marmo sadar, karya tulisannya memang tak dapat berbuat banyak, bahkan tak dapat berbuat apa-apa. Sebuah catatan yang sebenarnya ingin ia didikasikan untuk kehidupannya. Ia berpaham, memang hal itu saat ini tak penting, tapi siapa yang tau untuk lusa. Entahlah.!
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s