Kampung Ramadhan



/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

                Saya sempatkan pulang kampung, meskipun tak lama-lama saya berdiam di gubuk yang pernah dengan tulus sudi untuk saya singgahi. Di tempat itu pula, saya pernah terlahirkan. Terimakasih. Terimakasih yang tak terhingga.
                Di sepanjang perjalanan, saat dimana umat muslim sedang menjalankan buka puasa saya sedang asyik melintasi aspal jalanan. Dari Kaliwates hingga rumah saya. Tak jarang kadang saya mengumpat, karena terlalu seringnya ban sepedah motor saya melindas tepat di lubang yang menganga. Mengingat, jalan aspal yang saya lindasi memang terlalu amburadul. Entah kenapa pada ramadhan yang sudah mencapai  24 harinya, tiba-tiba saya rindu kampung halaman. Tentu lebaran tinggal menghitung beberapa hari lagi. Saya keburu-buru, gas sepedah motorpun saya tarik. Mengingat saya waktu itu kebetulan sedang puasa dan belum melakukan buka puasa. Seakan ada yang menunggu di kediaman rumah, bukan lain semua itu ialah keluarga dan segala hal macam masakan ibu tercinta. Yang saya rindukan dari masakan ibu ialah sayur bayam, sambal trasi dan tempe goreng. 
                Tibalah saya tepat di halaman rumah. Suasana sepi, keluarga sedang bepergian untuk menunaikan sholat taraweh. Pintu terkunci, dan kunci tersebut di simpan di tempat seperti biasanya. Saya paham, kunci itu dimana, karena saat dulu saya sering pulang malam bapak selalu meletakkan kunci pintu rumah di tempat itu. Ya, itu dulu. Sebelum saya merantau jauh dan ngontrak nyambi nguliah di Jember. Waktu dulu saat saya keseringan pulang larut malam bahkan hingga pagi, bapak selalu dengan rutin meletakkan kunci pintu itu di tempat yang sengaja kami rahasiakan. Maka dari itulah, kebiasaan kami. 
                Pintu saya buka, bergegaslah saya ke dapur. Tentu hendak buka puasa dengan menu sisa yang sudah terlanjur apa adanya. Dan malam pun semakin berlarut dan penuh kabut. Ini musim dingin, di bulan Agustus yang sedang di dera hawa dingin. Keadaan di desa, tak sama seluruhnya dengan keadaan di kota. Apalagi jika bulan ramdhan tiba, desa tak ada sepinya. Katakana saja, suasana tersebut berbeda dengan suasana bulan-bulan biasa. Entahlah, keadaan ini di pengaruhi oleh apa. Selama saya hidup dan besar di desa ini, hal semacam it uterus menerus terjadi. Bulan ramadhan selalu tak ada sepinya. Barangkali itu tepatnya. Teringat dulu, dulu sekali. Saat saya masih duduk di kelas M.I, saya selalu melakukan ritual patrol jika waktu menunjukan saat sahur. Ya, itu waktu dulu, saat dimana waktu hanya di gunakan untuk sekedar kumpul-kumpul bersama teman-teman. Sangat mengingat, tak mudah di lupa. Kisah-kisah di waktu tempo dulu.
                Saat ini keadaan semakin lain. Lain dari yang dulu, patrol sudah jarang, namun tergantikan dengan iringin musik yang di arak keliling. Tepatnya barangkali lebih modern. Betapa tidak, jika waktu dulu saya dan teman-teman menggunakan kendaraan becak dan alat kentongan, dan kini sudah menggunakan mesin dan alat musik. Fungsinya jelas sama, yaitu untuk membangunkan orang-orang yang lelap untuk bergegas menunaikan santab sahur. Masih ingat pula, saat bagaimana waktu dulu secara bergantian mengayun becak. Keliling-keliling kampung hingga puas. Berpatrol ria, sembari menabuh kentongan denagn irama yang lucu dan seru, tentu nada itu tak sebagus nada grup band ST12 dan sejenisnya. Bahkan patrol merupakan kebudayaan, yang sudah mulai tergilas dari kerasnya alat canggih dewasa kini. Namun, pada ritual patrol itu pula, saya selalu mengingat, dan tak lupa bahwa itu alat yang konon di buat oleh sesepuh-sesepuh di desa saya. Entah tak paham, dan tak mengerti sejak kapan alat-alat zaman dulu itu sempat terlahirkan. Dan saat ini alat-alat patrol itu sudah meredup, tepatnya saya tak tau alat itu ada di mana. Barangkali sudah terlampau lama, dan saya pun jarang pulang kampung. Setidaknya bagi saya, ada yang selalu merindu, tentu hal itu tentang segala macam kampung halaman.
                Dan di desa saya, saat ini sedang marak musim layang-layang malam. Layang-layang tersebut di dandani dengan aksesoris lampu yang beraneka ragam warna, tentu sangat panjang jika saya mencatatkan warna tersebut. Yang jelas, ini sangat kreatif. Pada musim layang-layang ini pulalah dalam kehidupan kota tak dapat saya jumpai. Kehidupan di desa pun tak seruwet dengan kehidupan di kota, mau tak mau, bisa atau tidak bisa kekuatan kota berada pada desa. Hal itu saya amini, tepatnya saya akui. Entah anda, itu pun terserah.
Iklan

14 responses to “Kampung Ramadhan

  1. Putri suka Patrol, suka juga sama Layangan warna-warni.
    pasti indah ya Ramadhan disana.
    Subhanallah..

  2. Putri: Saya saja baru tau, lama gak pulang kampung.hehehee

  3. Kalo baca dan denger cerita temen2 yang pulang kampung, pastii banyak cerita yang unik2, jadi iri.. Hmm.. orang Jakarta cuma bersahabat ama debu dan macet paling banter lebaran ke mall. ritual yang tiap tahun membosankan -_-

  4. Belo Elbetawi: terimakasih telah sudi mampir

  5. Kalau ada yang bertanya pada saya, musik apa yang paling membumi di hati, saya akan lugas menjawabnya. Musik Patrol. Entahlah, saya jatuh cinta dengan musik yang rancak ini.

    Tulisane apik, mengalir begitu saja. Ohyo, tentang masalah kunci yang diselipkan di tempat tertentu, kok sama ya? haha.. Dulu biasanya Bapak saya menaruh kunci rumah di bawah pot (yang hanya keluarga saja yang tahu pot manakah itu). Padahal hanya tentang kunci ya, tapi kesannya indah.

  6. @Masbro: Kok sama ya, tentang POT itu sama. Dulu saya kata bapak nakal (bahasa jawanya Beling). Di Larang pulang malam, malah pulang pagi. hehehee.

    Nasib,Nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing. uahahuhaha.

    Makasi mas, telah sudi berkunjung

  7. pengen pulkam.. tapi tahun ini ngga bisa lagi.. hikhik

    penasaran ama layangan malem2 kea gimana.. enak tuh kayaknya, kan ngga bikin item ama bikin rambut jadi bule.. hehehe 😛

  8. Saiaenno: Kalau item kan sudah bawaan.hehhee

  9. Hmm..saya juga mudik ke Sragen, meski rumah di Cirebon. 🙂

    Wah, lahir di gubug ya? Serem amat… hehehe…

  10. Saya tidak punya desa….
    hwwaaaa…….

    :ngiri

  11. ano … salam kenal yah
    selamat pulang kampung lah

  12. wahhh pake alat musik segala.. mantepan di sana iia kalu gitu.. di sini masih gedombrengan gtu kang 😦

  13. Happy Lebaran's day..

    Takabbalallahuminna waminkum..
    Minal aidzin wal faidzin.. mohon maaf lahir batin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s