Yang Manis, Pahit dan Getir.


Di anggap fiksi terserah, di anggap non fiksi juga tak apa. Silahkan.!!!

           Siang waktu itu tak sedang hujan. Tapi langit setengah temaram. Namun aku tetap yakin, bahwa tak akan terjadi hujan pada waktu itu. Entahlah aku lupa, pada waktu itu tepat hari apa. Saat aku belum usai mengeringkan keringat setelah beberapa menit sedang rehat bermain bola. Kamu mendadak mengirim pesan via sms. Isinya tentu, soal bahwa akan terjadi peristiwa yang sangat penting. Sebuah peristiwa itu yang akan menentukan perjalanan kita. Ya, kita berdua. Memang perjalanan kita hanya seumur jagung dan berbau kencur, kata orang. Tapi  apa kamu tau, buatku itu tak penting. Tak penting sama sekali. 
            Aku kira waktu itu kamu sedang bercanda, karena kamu memang gemar bercanda denganku. Setidaknya ingin menakar keseriusan ku terhadapmu. Mungkin kamu masih terasa ganjil, akan bagaimana sikap yang aku ambil setelah hanya beberapa minggu mengenalmu. Bukankah aku selalu bilang, bahwa soal yang satu ini aku tak pernah main-main. Setidaknya itu. Tapi garis takdir berbicara lain, nasib pahit menghampiriku waktu itu. Intinya kita berdua berbeda, ya berbeda. Barangkali memang harus berbeda. Kamu penikmat air putih sehat, sedangkan aku hanya penikmatkopipahit. Cara hidup kita pun berbeda, sangat berbeda. Entah lah, mula-mula aku berpikir kamu hanya seoarang yang berwajah manis, pembawa segala yang pahit dan getir. 
“Materi itu bagi ku tak penting, memetakan nasib sendirilah yang harus kita lakukan”. Bukankah kita masih sama-sama muda, dan ukuran kedewasaan bukan di tengok dari hasil jumlah kepala angka umur, akan tetapi penentuan nalar berpikir. Sekali lagi nalar berpikir. 
“Kamu terus-menerus memikirkan prosesmu, akan sampai kapan prosesmu selesai”. Katamu sedikit mengejek aku.
            Aku memang tolol, tapi tak setolol kamu. Kuliah saja aku tak lulus-lulus. Bukan karena apa, aku memang sudah tak sudi melanjutkan semuanya itu. Bukankah itu urusanku. Urusan masing-masing. Kamu pun juga masih punya urasan sendiri. Mencari kemapanan. Oh, itulah perbedaan di anatara kita. Bagiku, dalam sebuah proses tak akan pernah usai. Di tempat, dan apapun itu. Apalagi aku, yang sedang bergiat mencari jati diri ini. 
            Entah siang itu hari apa aku lupa. Jujur aku lupa. Tapi yang masih melekat (barangkali) sampai mati, saat itu tanggal 1, tanggal 1 Januari 2011. Saat kamu berucap, semua sudah berakhir. Katamu dulu. Sesinggat itukah, aku tak tau. Tak menyangka bahkan aku menganggap sedang menghadapi mimpi. Sesaat memang tak pernah terjadi pertikaian antara kita. Bukankah kita tak pernah bertikai. Perbedaan jelas, karena kita memang harus berbeda. 
            Aku tak berharap cerita di antara kita menjadi cerita dongeng-dongeng kisah keple Romeo dan Juliet. Cukuplah, cukup. Bukankah aku sudah mengaku hanya seorang penikmat kopi pahit? Sedangkan kamu, kamu selalu mengasumsi susu. Aku akui aku memang belum minat untuk melakukan sesuatu dan di bayar, setidaknya aku mampu menciptakan lahan itu sendiri. Dan sedangkan kamu gila akan semua itu. Tentu semua orang butuh itu, namun sebuah persiapan menuju itu yang paling lebih penting. Aku memang tak tau diri, karena hanya selalu menopang hidup dari kedua orang tuaku. Tapi, setidaknya  aku bangga karena tak sudi belas kasihan dari tangan orang lain.
            Kamu memang memberi kelonggaran atas tingkah lakuku di kampus ku. Menyibukkan diri di dalam sebuah kesibukan yang bagimu itu tak penting, kamu cukup pengertian. Pengertian yang berhenti. Ah, aku sudah tak percaya akan kesetiaan. Bukankah Adam dan Hawa juga pernah di pisahkan. Itulah romantika kehidupan, mungkin. Ya, itu mungkin. Belum pasti kan?. Aku juga bukan seorang macam Seno Gumira Ajidarma, yang mempersempahkan sebuah karya yang berjudul “Sepotong Senja Untuk Pacarku”. Aku ya aku, seorang penikmatkopipahit. Barangkali hanya itu, entahlah. Bukankah setiap penilaian pada diri kita hanya orang yang menilai. Aku juga bukan seperti Sapardi Djoko Darmono, lihai dan pandai dalam berpuisi. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, bukankah tak ada yang nikmat di nunia ini selain menjadi diri sendiri. Pembual sekalipun, itu bagiku. Bukankah dari masing-masing kita berhak untuk menentukan sebuah nasib. 
            Sejak itu, sejak kamu berucap tak dapat lagi meneruskan perjalanan panjang kita berdua, saat itu pula semua terasa semakin pahit saja. Memang aku akui, ada beberapa saat mengapa perjalanan tak dapat di lanjutkan. Ketidak cocokan, mungkin. Tapi, apakah kamu juga pernah sudi mengungkapkan apa ketidak cocokan tersebut. Aku hanya bisa bingung, linglung. Ah, sudahlah kamu hanya pembawa segala yang pahit dan getir. Ingin sekali aku persembahkan sajak untukmu, tapi beribu sayang dan malang aku tak pandai membuat sajak itu. 
            Saat ini semua telah usai. Satu yang tak pernah akan selesai, ialah aku tak akan pernah usai untuk selalu mendo’akanmu. Mendo’akan agar lebih baik, tentunya. Biarkanlah saat ini aku memetakan nasib sendiri, tanpa kamu dan jenismu. Kaum mu, barangkali itu tepatnya. Cita-citaku hanya ingin bebas dari keterbelengguan orang lain. Termasuk kamu, kamu yang bagiku  hanya sibuk sendiri memikirkan yang tak penting. Memang kamu baik, baik sekali. Setidaknya kebaikan itu aku rasakan telah mengenal seorang semacam kamu.  
            Teringat dulu saat kita sempatkan waktu untuk berikrar. Berikrar saling berbagi dalam kondisi sesulit apapun, kita akan selalu bergandengan tangan. Semua itu, hanya bualan. Tepatnya itu. Aku dulu sempat menginginkan perubahan pada jati dirimu, lebih dewasa untuk mengambil sikap. Tapi setiap omonganku kamu remehkan, tak pernah kamu gugu. Kamu lipat omonganku lalu kamu selipkan pada kantong kanan dan kiri celena levismu. 
            Apa kamu masih ingat, kita pernha membuat tali ikat berdua. Siang itu di tengah terik sinar matahari yang terang pada sebuah pekarangan tetangga. Aku terasa mimpi, karena itu yang pertama kali dalam hidupku. Kamu tak percaya hal itu juga tak apa, setidaknya aku telah berusaha untuk mengatankannya dengan jujur. Tali ikatan itu lalu kamu potong begitu saja. Darahpun bercucuran ke lantai warung kopi. Ya, warung kopi. Karena pada waktu itu, saat kamu memotong tali itu aku sedang berada di warung kopi. Bahkan aku tak bisa pulang kembali, tidur tak nyenyak dan sejenisnya. Ah, aku ini memang cengeng, masak begitu saja sudah seperti tak berurat. 
            Setiap seseorang pasti pernah mengalami hal yang semacam ini. Tapi ini lain dari pada aku. Barangkali aku belum siap, seperti seseorang yang belum siap kehilangan. Aku sadar, kehilangan hadir selalu mendadak, tanpa aba-aba yang jelas pula. Waktu itu hanya lautlah yang sudi salingberbagi denganku. Meskipun malam, aku sempatkan untuk menghibur dari kepahitan yang cukup getir. Laut, hanya laut di selatan pelataran tempat tinggalku. 
            Kamu yang memberhentikan semua itu. Aku tak pernah sedikitpun menginginkan hal semacam itu. Secuilpun aku tak pernah. Lalu janganlah kamu berpikir akan nyenyak dalam kesendirianmu. Aku berharap, kamu semakin membaik. Baik-baik saja. Pesanku, kepahitan ini jangan terus menerus kamu ulang, meskipun terhadap yang lain. Kegagalan yang hanya selalu kamu sukseskan. Entah kalau hanya itu cita-cita hidupmu, aku tak dapat berkata apa-apa. Aku hanya berpesan, itu saja. 
            Enyahlah dari kehidupanku. Barangkali itu yang aku impikan saat ini. Karena pada saat ini pula kamu hanya ada di benak kenangan. Anggap saja kamu telah mati, sebuah kematian yang kamu sendiri ciptakan. Jangan pernah memintaku untuk melupakanmu, karena itu tak akan pernah terjadi. Aku mengenangmu, tak akan pernah selesai. Barangkali terlalu pahit untuk di lupakan, tapi jika akhirnya manis dengan melupakanmu, kenapa tidak.!
 Terimakasih, terimakasih atas seluruhnya.
            #Efek nonton film lebay.
Iklan

4 responses to “Yang Manis, Pahit dan Getir.

  1. siapa sih yang bilang ini catatan busuk?
    ni catatan agung, penih sukma, merinding bacanya..

    yang sabar, Mas.. 🙂

    Oh ya, aku follow blognya ya..

  2. @Putri; makasih telah sudi mampir. Silahkan follow sepuasnya.hehehee

  3. Bagus kok…..
    lanjut terus dah nulisnya…

    sukseess………. 🙂

  4. cieeeeeeeeeeep
    aasssssssemmmmm
    boleh berguru nie dalam menulis…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s