Sepakbola, Menendang Sekat-Sekat Perbedaan.


Sepakbola bukan hanya soal permainan. Di dalamnya banyak aspek yang duduk bersendeku. Setidaknya itu. Sebelas pemain dalam satu tim bahu-membahu di dalam sebuah laga pertandingan. Dalam sejarah yang saya ingat, olahraga sepakbola juga banyak menelurkan kekerasan. Mulai dari bentrok suporter sampai perkelahian antar pemain di tengah lapangan tak dapat di elakkan. Sepakbola telah menyatu menjadi peraturan, pengikut fanatik dan ritual nilai. Setidaknya itu yang pernah di katakan Robert N Bellah, sosiolog asal A.S.

Saya harus mengaku bahwa sepakbola merupakan olahraga yang bersifat timbal balik. Dengan sifatnya terebut jelas sepakbola tidak bisa dimainkan sendiri. Dalam prakteknya, sepak bola merupakan interaksi dua pihak yang saling berlawanan dalam sebuah permainan untuk merebutkan hadiah tertinggi, yaitu kemenangan. Dalam babakan yang lain kehadiran supporter memang diakui banyak membantu untuk sebuah tim. Suporterpun dikenal dengan sebutan pemain ke dua belas. Keberadaan pendukung atau suporter merupakan salah satu pilar penting dalam sebuah pertandingan sepak bola, agar suasana tidak terasa hambar dan tanpa makna. Keberadaan suporter dapat menjadikan energi tambahan, sebut saja sebagai doping untuk para pemain.

Kehadiran supporter dalam sebuah pertandingan sepakbola tak dapat dipisahkan. Mereka mendukung tim kesayangan dari segi moral dan mental, tentu dengan meneror tim lawan. Ketika dua suporter bertemu di dalam sebuah pertandingan tak luput dari teriak saling ejek bahkan tumpah menjadi akhir kekisruhan. Dalang urgent kekisruhan sebenarnya dipacu oleh tidak puasnya pendukung terhadap peformen pemain, atau wasit yang dituduh tak bersikap adil, dan berujung dengan kekalahan tim kesayangannya.

Bila dicermati, dari suporter tersebut, suporter – suporter yang memiliki karakter keras dan cenderung bertindak anarkis sebagain besar adalah suporter yang berasal dari kota. Karena dalam masyarakat perkotaan yang cenderung hidup secara individu kriminalitas dan pengangguran, maka konsep solidaritas mereka belum tertata dengan bagus, sehingga suporter – suporter kota menjadi ganas dan mudah terpancing emosinya.(Wahyudiyono 2004). Parahnya dari aspek ekonomi, dan pendidikanpun mereka merasa termarjinalkan. Sebenarnya mereka juga merasa bagian dari masyarakat yang ingin teraktualisasi. Disini mereka seolah-olah menjadikan stadion sebagai tempat menumpahkan permasalahan tersebut (Dwi W. Prasetiono).

Jika mengutip pendapat Machiavelli bahwa, kekerasan menjadi absah untuk mempertahankan ancaman dan dapat dipraktekkan oleh penguasa. Barangkali supporter sepakbola sedang landas menuju teori ini. Jika tim kesayangannya mendapat perlakuan kurang adil, maka seolah-olah kekisruhan menjadi pemanis sebuah pertandingan. Supporter tak dapat di ceraikan dari sepakbola. Meski pengadilan negeri mana pun, yang mengadili.

Pada sepakbola pulalah aktifitas kehidupan manusia tidak dapat di pisahkan. Menyatu dalam sebuah kecintaan. Tak usah jauh-jauh, lihat saja pada gelaran piala AFF 2010 lalu. Saat Indonesia tampil memukau –meski gagal juara-, bagaimana masyarkat termenung oleh penampilan timnas. Setiap sudut kota maupun desa di bisukan oleh atribut-atribut timnas. Seolah lebih dari arti kemerdekaan pada bangsa ini. Wajah berlukisan bendera atau rambut bercat merah-putih sebagai bentuk dukungan terhadap timnas. Para supporter yang semula membentuk kotak-kotak perbedaan telah usai. Setidaknya mereka tak menggunakan atribut klub saat mendukung timnas Indonesia.

Sepakbola telah membredel sekat sosial, etnis, agama, ideologi dan Negara. Bahkan Jerman pun harus luluh, saat perang dunia ke II bangsa Jerman yang merupakan keturunan ras arya memandang bahwa ras-nyalah yang di atas segala-galanya. Dengan kebangsatan Hitler yang bercita-cita menghancurkan ras lain. Sekali lagi Jerman harus luluh, pada timnas Jerman terdapat pemain berkulit hitam kelahiran Ghana, ialah Gerld Asamoah. Jepang, yang bersikukuh atas kemurnian rasnya harus tunduk. Setidaknya hal ini terbukti dengan terdapatnya pemain kelahiran Brazil di sekuat timnas Jepang pada piala dunia 2006 silam. Hal itu bentuk pembuktian bahwa sepakbola mampu menendang sekat-sekat perbedaan.

Sepakbola mampu menendang keluar sebuah sekat-sekat perbedaan. Kekerasaan hanya simbul pengertian kecintaan buta. Dari kecintaan memang manusia mendapatkan rasa kemanusiawiannya, setidaknya letak kasih sayang. Tetapi berangkat dari kecintaan pulalah manusia berubah menjadi ganas, brutal bahkan mematikan –fanatisme buta-.

Sepakbola bukan soal pertandingan 2 X 45 menit (plus extra time dan adu pinalti). Dalam sepakbola terdapat banyak aspek kultur, agama, ras, ideologi, etnis atau barangkali perbedaan yang lainnya. Sudah barangtentu perbedaan tersebut duduk bersendeku dan tak dapat di ganggugugat.

Nb;Catatan ini juga di lempar ke catatanbusuk.com

Iklan

9 responses to “Sepakbola, Menendang Sekat-Sekat Perbedaan.

  1. Sepak bola adalah tentang kebersamaan (kerja sama) dan masih banyak lagi filosofi di dalamnya..

  2. @Masbro; makasi telah mampir. Iya mas, sepakbola memang memiliki sejarah panjang.

  3. saya dulu termasuk gibol sampai tahun 2000.
    Memang benar di dalam sepak bola ada banyak hal terkait. Diantara kebersamaan, terselip fanatisme buta yang justru berbanding terbalik dari itu.

  4. @Djangan Pakies: banyak aspek yang duduk yang bung. hehehhee

  5. semoga sepak bola kita sekarang sudah bisa berjalan dengan hati yang jernih dari semua unsurnya…terima kasih

  6. Hidup SEPAKBOLA!!!!! hehehhehe

    Bisa nulis catatan gini, disebut catatan busuk???? ckckckckckck

    Salam kenal ya mas,,,, :))

  7. @terap qolbu; semoga saja,sepakbola kita membaik

    @Nadia Meutuah; Viva sepakbola, Salam Kenal juga, ini hanya catatan busuk.hehehehehe

  8. semoga persepakbolaan Indonesia makin maju.. makin bisa punya makna seperti yang masnya bilang.. gag hanya 2×45 menit pertandingan yang saling adu jegal dsb dst dll apalagi rebutan duit mau jadi sekjen pengurusnya 😦

  9. @Belajar Photosop: Sip sepakbola memang terdapat banyak aspek. Bukanlagi soal permainan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s