Hanya Sukar Lelap


“Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur”. (Muhidin M Dahlan)

            Sebelumnya perkenankanlah mulut saya mengujarkan kata maaf. Belum apa-apa sudah minta maaf. Atas catatan saya ini, barangkali ada sedikit bahkan banyak yang mengganjal. Tapi jujur, sejujurnya saya pun tak bermaksud untuk sebegitunya. Saya hanya mampu mencatat apa-apa yang ada di benak pikiran saya, atau apa-apa saja yang saya lihat. Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer pernah berucap; Tulislah apa-apa yang kamu lihat saja, Jangan kamu menulis apa-apa yang tak pernah kamu lihat. Mungkin begitu kalimat tersebut. Ah, saya ini terlalu banyak membual. 
            Malam itu, sebagaimana saat malam ramadhan yang ke sekian kalinya saya sukar lelap, susah terlelap tepatnya. Entah, ada apa. Sebenarnya hal ini sudah tak asing lagi bagi kehidupan malam saya. Sekali lagi sukar terlelap. Pada malam itu pula, tak sengaja saya membuka dan membaca kembali sebuah buku karangan Muhidin M. Dahlan yang berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur”. Banyak kalangan sastrawan menilai karya Gus Muh (begitu ia di tulis di dalam buku yang saya baca) ini merupakan karya sastra selangkang. Karya sastra yang konon di benci oleh Taufiq Ismail. Tidak. Saya tak bermaksud mengulas sastra selangkang. Saya tak paham apa itu karya sastra selangkang. Tapi bagi saya buku yang telah Gus Muh catatkan ialah salah satu karya terbaik yang pernah saya baca. Bukan memuji, bukan pula mencaci. Bukan berpendapat bukan pula menggugat. Setidaknya saya memberi apresiasi. Dalam setiap kata saya temukan kalimat-kalimat yang menggugah. Entah, barangkali ini kelainan saya dalam sebuah nafsu atau hasrat atau apalah. 
            Saya tak bermaksud menulis resensi atau sejenisnya itu. Dalam buku itu –buku yang saya baca- memunculkan sosok wanita yang bernama Nidah Kirani. Sosok yang terluka oleh Tuhannya –barangkali- atau orang-orang yang memang ia benci. Nidah gagal menemukan apa yang ia cari. Dalam organisasi mahasiswa yang di ikutinya ternyata ia  dihadapkan oleh kepalsuan yang –bagi Nidah- munafik. Justru dalam buku yang saya baca –Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur- terdapat pesan bahwa tak ada yang hebat selain menjadi diri sendiri, pembual sekalipun. Entah malam itu, kenapa saya juga terus berkeinginan membaca karya Gus Muh (begitu ia di tulis di buku itu).
            Di dalam buku itu pula menjelaskan bahwa buku tersebut dapat terbit dengan di danai dari hasil uang patungan anak-anak muda pecinta buku di Yogya. Jelas karya ini  berhadapan dengan pro dan kontra. Belum lagi manusia yang berpijak di bumi Indonesia ini sangat sensitive. Dari paha sampai agama pun betul-betul sensitive. Barangkali tepatnya mudah meng-kafirkan orang lain tapi  tak mau tau kafirnya sendiri.
            Bukankah sejak dari awal saya sudah katakan. Saya bukan hendak merisensi. Entahlah apa ini. Saya hanya susah lelap.Saya hanya iseng. Dalam penutupnya pula Gus Muh (begitu dalam buku ia di tulis) mengucapkan kalimat terakhir. Maaf saya bukan pembunuh. !  Selamat membaca. !
           
             
           
Iklan

4 responses to “Hanya Sukar Lelap

  1. wah blogku ndak di link cah…

  2. Sadam ; Gampang iku cak.wkwkwkwkkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s