Monthly Archives: Agustus 2011

Kesakitan


                Tiba-tiba saja saya mendadak meriang. Saat setelah bangun tidur, sore itu saya sungguh tak menyangka. Padahal besok tanggal 31 Agustus 2011 sudah ketiban hari raya idul fitri. Sore itu, saya bergegas mandi. Tak mau tau, meskipun badan panas dingin karena meriang. Saya tekatkan saja untuk membasuh sekujur badan ini dengan air. 
                Malam pun mendadak datang. Suara agung takbir lantang di teriakkan. Dari surau., masjid, sampai jejalanan orang-orang memekikkan suara takbir itu. Sungguh meriah. Tapi ada yang berbeda dengan saya, betapa tidak. Di saat malam seperti ini, saat malam takbir saya sedang di landa sakit. Dari meriang sampai sakit perut yang sungguh kepayang. Saya tak kemana-mana, selain mendengkur di ranjang kamar. Untung ada ibu, karena ibulah yang merawat saya dengan penuh kasih sasang. Meskipun usia sudah berkepala 2, jika sakit ibu selalu merawat saya dengan ketulusan. Jangankan sakit, sehatpun beliau tak henti-hentinya untuk merawat saya. Terimakasih ibu. Mohon maaf lahir dan batin. 
                Saat pagi datang, sebenarnya saya tak ada rencana untuk menunaikan sholat ied. Pagi ini tanggal 31 Agustus 2011 saya masih meriang dan sakit perut. Tapi entahlah, kenapa tiba-tiba saja saya bergegas untuk mandi dan langsung pergi ke masjid untuk menunaikan sholat ied. 
                Sungguh lebaran tahun ini sangat berbeda dengan tahun yang kemarin. Saya masih tak lupa, tepatnya masih ingat saat dimana saya tidak pulang saat lebaran. Lebaran tahun kemarin saya sengaja berdiam di kontrakan. Meskipun akhirnya hari ke 2 saya berniatan untuk mudik ke kampung halaman. Lebaran tahun ini ada yang lain dalam pengalaman saya. Tak ada yang nikmat, ketika mudik di saat-saat suasana lebaran. Saya mengaku kalah, kalah tak dapat membendung tetesan air mata ini. sungguh tak saya rasa. Entah akibat apa ini semua.
                Akhirnya saya ingin mengucapkan sesuatu kalimat. “Mohon maaf, lahir dan batin”.    
Iklan

Detik-Detik Lebaran


                “Lebaran tahun ini kamu apa enggak pulang”. Bunyi sms itu
                “Masih belum tau, sebenarnya kepingin pulang, tapi gimana ya”.
                “Pulanglah, bapak dan ibu berharap kamu bisa pulang”. Imbuh sms tadi.
                Masih dari keluarga. Maksud saya, sms tersebut masih saja dari ibu saya yang sedang berada di rumah. Tentu, saya kira beliau sangat menanti kepulangan anaknya yang sedang tak berada di sampingnya saat detik-detik hari raya idul fitri. 
                Jika sebuah keluarga sedang merindukan kedatangan anaknya dari jarak kejauhan saat waktu lebaran, apa yang di rasa. Entah, saya tak bisa berkata banyak. Saya seolah kalah. Kalah dengan segala tetesan air mata yang (jujur) tak mampu saya tahan. Mengusapnya pun terasa lemah. Tak ada rasa lain, selain tentang segala hal kerinduan terhadap kampung halaman.  
Tak ada yang dapat mengobati rindu, selain berjumpa atau mengalihkan pada setiap kenangan-kenangan. Setidaknya itu perasaan saya, ketika mudik ke kampung halaman. Meskipun lebaran belum dapat di tentukan, saya tegaskan bahwa hari Senin tanggal 29 2011 ini saya harus sampai di rumah. Keluarga sedang menanti, tentu tak lain khususnya bapak dan ibu. Terimakasih kampung halaman.
                Setelah pada lebaran tahun kemarin saya tak berada di rumah –tepatnya tak mudik-, namun berbeda dengan lebaran tahun ini (2011). Saya mudik, tepatnya kembali ke kampung halaman. Sungguh tak tertahan rindu ini, ingin sekali berteriak puas, lantang menjerit sekuat-kuatnya. Memang betul, kampung dan kontrakan saya tak sejauh yang anda pikirkan. Jika harus di tempuh berkendaraan sepedah motor kira-kira hanya 40menit, itupun paling lambat. Dekat bukan? Tapi, hal itu membuat saya malah semakin malas pulang. Entah barangkali memang sudah tidak kerasaan. Atau mungkin orang yang gak tau diri.
                Saat tiba di rumah, sudah menunggu masakan ibu. Keluarga senang menengok tivi dan berburu informasi tentang jatuhnya hari raya idul fitri. Bermacam-macam kabar, spekulasi membludak kemana-mana. Intinya tetap, saat itu hari raya idul fitri masih belum dapat di tentukan. Barangkali tak hanya di layar kaca televisi saja, bahkan jejaring sosial macam fecebook dan ‘bisingnya kicauan” burung twitter ikut berame-rame untuk sebuah spikulasi. Berpendapat, atau mengira-ngira. Bahagia dan atau cemas. 
                Perbedaan hari lebaran bagi saya bukan masalah. Bukankah kita memang perlu suatu perbedaan, apapun itu. Jika tidak, maka apakah anda juga akan mau apabila kita sama, satu jenis kelamin, satu agama sama, dan lain sejenisnya. Tidak bukan. Ah, terlalu ribet jika saya harus membahas perbedaan di laman tak penting ini. Bagi saya pula, menghormati perbedaan adalah sikap yang bijak. Entah dengan anda. 
                Meskipun penetapan tanggal lebaran ada perbedaan –sekali lagi- bagi saya hal itu bukan soal. Titik. Apalagi hal ini menyangkut tentang keyakinan. Bukankah pada sebuah keyakinan tak ada batasan. Dan itu, (wilayah itu) urusan masing-masing. Mohon maaf lahir dan batin. Entah kapan, dan dimana anda berada.
               

Pengamen dan Lebaran


                Seorang pengamen , yang menawarkan jasa suara dan kreatifitas yang keluar dan masuk dari angkot satu ke angkot yang lain. Hidupnya penuh dengan cacian, tepatnya ia selalu di pandang hina. Tiap hari hanya gitar tua dan sedikit lapuk yang sudi untuk setia di pelukannya. Tak ada yang lain, selain itulah jalan hidupnya. Sejak kecil ia di tinggal minggat oleh bapaknya. Entah, tanpa alasan yang jelas. Barangkali ia frustasi, kecewa dengan keadaan. Maka dari itulah ia meninggalkan rumah, dan tanpa pamit ibunya untuk menjadi pengaman di jejalanan. 
                Waktu itu, tanpa pamit ia bergegas meninggalkan rumah dan ibunya. Hasrat kecewa yang di pendamnya memuncak kala itu. Ia panik, tepatnya tak ada pilihan lagi. Barangkali pergi dari rumah lah yang di rasakannya dapat merubah keadaan. Lalu ia pergi. Dan berjalan menyusuri sepanjang jalan. Di tangannya tak lepas sebuah gitar tua yang di gunakannya untk meraup uang, tentu dengan hal inilah ia dapat bertahan hidup yang serba pahit bagi dirinya. Kelakuannya hanya itu, ngamen dari satu angkot ke angkot yang lainnya, berharap akan ada seseorang yang sedang baik hati melemparkan uang recehan ke tempat yang telah ia sediakan. 
                Tak pernah berpikir untuk ia bergegas pulang dan menemui ibunya. Bahkan saat ibunya sedang sakit keras ia tak lagi ada di sampingnya. Hidupnya hanya di jalan, trotoar dan tempat-tempat malam. Barangkali ini di akuinya serupa kutukan nasib. Nasib yang tentu sedang ia jalani, dengan susah, dan bahagia. Dari hasil ngamennya, ia masih saja menyisihkan sedikit uang (tepatnya recehan) untuk ibunya yang sedang berada di rumah. Ia sesungguhnya tak mempunyai keinginan seperti ini, namun keadaanlah yang memaksa dan mendukungnya. Bukankah, dimana kita ada lingkungan pula yang ikut campur .
                Tiap hari-harinya ia kerja keras untuk mencari uang recehan. Pada suatu hari ia mengingat kembali ibunya yang sedang berada di rumah. Ada sesuatu yang akan ia perbuat. Tentu untuk ibu tercintanya. Dengan susah payah ia mengumpulkan uang recehan dari hasil ngamennya. Ia berharap, ada sesuatu yang akan ia berikan kepada ibunya pada tahun kali ini. Entah, ia belum menangkap apa sesuatu tersebut.  
                Tahun terus melaju dengan tersendirinya, tak ada yang mampu untuk sejenakpun untuk menghentikan lajunya. Suatu malamiIa teringat pada sosok ibu yang pernah melahirkan dirinya. Ia sedih, gelisah yang berlipat-lipat. Tak ada yang mampu ia perbuat, selain menyisihkan uang (dari hasil ngamennya) untuk membelikan ibu tercintanya sehelai kerudung putih. Ya, kerudung putih yang bernilai tak besar. Ia  beranikan  pulang kampung, meskipun ia sudah tak diterima di lingkungan sekitar rumahnya. Orang lain menganggap hina, sosok pemuda yang malas dan tak tau diri.
                Tak ada yang tau sebelumnya, selain dirinya. Ia membelikan sehelai kerudung untuk ibunya pada saat lebaran tiba. Saat dimana kebanyakan orang berkumpul-kumpul dan saling memaafkan. Ia pun pulang ke rumah. Memeluk ibunya penuh maaf. Di hari yang orang lebih sering menyebut dengan hari fitri.
                Apakah ada seseorang yang pernah berpikir, bahwa sesungguhnya dia (pengamen tadi) tak ingin menjalani sebuah kehidupan yang di anggap hina oleh orang lain?. Tak ada yang tau, jelasnya tak ada yang mau tau. Kadang memang seringkali manusia mendadak berkata, tanpa melihat apa sesungguhnya yang terjadi. !
                Selamat lebaran.

Kampung Ramadhan



/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

                Saya sempatkan pulang kampung, meskipun tak lama-lama saya berdiam di gubuk yang pernah dengan tulus sudi untuk saya singgahi. Di tempat itu pula, saya pernah terlahirkan. Terimakasih. Terimakasih yang tak terhingga.
                Di sepanjang perjalanan, saat dimana umat muslim sedang menjalankan buka puasa saya sedang asyik melintasi aspal jalanan. Dari Kaliwates hingga rumah saya. Tak jarang kadang saya mengumpat, karena terlalu seringnya ban sepedah motor saya melindas tepat di lubang yang menganga. Mengingat, jalan aspal yang saya lindasi memang terlalu amburadul. Entah kenapa pada ramadhan yang sudah mencapai  24 harinya, tiba-tiba saya rindu kampung halaman. Tentu lebaran tinggal menghitung beberapa hari lagi. Saya keburu-buru, gas sepedah motorpun saya tarik. Mengingat saya waktu itu kebetulan sedang puasa dan belum melakukan buka puasa. Seakan ada yang menunggu di kediaman rumah, bukan lain semua itu ialah keluarga dan segala hal macam masakan ibu tercinta. Yang saya rindukan dari masakan ibu ialah sayur bayam, sambal trasi dan tempe goreng. 
                Tibalah saya tepat di halaman rumah. Suasana sepi, keluarga sedang bepergian untuk menunaikan sholat taraweh. Pintu terkunci, dan kunci tersebut di simpan di tempat seperti biasanya. Saya paham, kunci itu dimana, karena saat dulu saya sering pulang malam bapak selalu meletakkan kunci pintu rumah di tempat itu. Ya, itu dulu. Sebelum saya merantau jauh dan ngontrak nyambi nguliah di Jember. Waktu dulu saat saya keseringan pulang larut malam bahkan hingga pagi, bapak selalu dengan rutin meletakkan kunci pintu itu di tempat yang sengaja kami rahasiakan. Maka dari itulah, kebiasaan kami. 
                Pintu saya buka, bergegaslah saya ke dapur. Tentu hendak buka puasa dengan menu sisa yang sudah terlanjur apa adanya. Dan malam pun semakin berlarut dan penuh kabut. Ini musim dingin, di bulan Agustus yang sedang di dera hawa dingin. Keadaan di desa, tak sama seluruhnya dengan keadaan di kota. Apalagi jika bulan ramdhan tiba, desa tak ada sepinya. Katakana saja, suasana tersebut berbeda dengan suasana bulan-bulan biasa. Entahlah, keadaan ini di pengaruhi oleh apa. Selama saya hidup dan besar di desa ini, hal semacam it uterus menerus terjadi. Bulan ramadhan selalu tak ada sepinya. Barangkali itu tepatnya. Teringat dulu, dulu sekali. Saat saya masih duduk di kelas M.I, saya selalu melakukan ritual patrol jika waktu menunjukan saat sahur. Ya, itu waktu dulu, saat dimana waktu hanya di gunakan untuk sekedar kumpul-kumpul bersama teman-teman. Sangat mengingat, tak mudah di lupa. Kisah-kisah di waktu tempo dulu.
                Saat ini keadaan semakin lain. Lain dari yang dulu, patrol sudah jarang, namun tergantikan dengan iringin musik yang di arak keliling. Tepatnya barangkali lebih modern. Betapa tidak, jika waktu dulu saya dan teman-teman menggunakan kendaraan becak dan alat kentongan, dan kini sudah menggunakan mesin dan alat musik. Fungsinya jelas sama, yaitu untuk membangunkan orang-orang yang lelap untuk bergegas menunaikan santab sahur. Masih ingat pula, saat bagaimana waktu dulu secara bergantian mengayun becak. Keliling-keliling kampung hingga puas. Berpatrol ria, sembari menabuh kentongan denagn irama yang lucu dan seru, tentu nada itu tak sebagus nada grup band ST12 dan sejenisnya. Bahkan patrol merupakan kebudayaan, yang sudah mulai tergilas dari kerasnya alat canggih dewasa kini. Namun, pada ritual patrol itu pula, saya selalu mengingat, dan tak lupa bahwa itu alat yang konon di buat oleh sesepuh-sesepuh di desa saya. Entah tak paham, dan tak mengerti sejak kapan alat-alat zaman dulu itu sempat terlahirkan. Dan saat ini alat-alat patrol itu sudah meredup, tepatnya saya tak tau alat itu ada di mana. Barangkali sudah terlampau lama, dan saya pun jarang pulang kampung. Setidaknya bagi saya, ada yang selalu merindu, tentu hal itu tentang segala macam kampung halaman.
                Dan di desa saya, saat ini sedang marak musim layang-layang malam. Layang-layang tersebut di dandani dengan aksesoris lampu yang beraneka ragam warna, tentu sangat panjang jika saya mencatatkan warna tersebut. Yang jelas, ini sangat kreatif. Pada musim layang-layang ini pulalah dalam kehidupan kota tak dapat saya jumpai. Kehidupan di desa pun tak seruwet dengan kehidupan di kota, mau tak mau, bisa atau tidak bisa kekuatan kota berada pada desa. Hal itu saya amini, tepatnya saya akui. Entah anda, itu pun terserah.

Tak Penting.



/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

            Dalam keadaan bagaimana pun, bukankah setiap orang berhak untuk memperjuangkan apa yang di anggapnya benar. Begitu pula pada sosok Marmo, yang dengan sengaja memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi, baginya semua tengik. Tak ada yang tau, tepatnya tak ada yang pernah mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Marmo. Barangkali sebagian orang (bahkan banyak) menganggap Marmo ialah seorang yang tolol. 
            Pada sosok Marmo di ketemukan salah satu pemuda yang gemar membaca dan menulis. Tentu, kerjaannya bukan saja hanya hal itu. Pada diri Marmo pulalah lahir sebuah kesaksian, bahwa membisu adalah perbuatan yang tolol. Setidaknya bagi dirinya masih ada yang ia perbuat, meskipun hanya sekedar mencatat. Menulis baginya bukan persoalan yang gampang, meski dalam tingkatan tertentu banyak orang mengganggapnya tak terlu sulit. Tak luput, ia kadang harus di hujat, perihal kerjanya hanya membaca dan menulis. Namun dalam dirinya pula terdapat sifat yang tabah. Ia berangkat dari nol, tepatnya merangkak dari bawah. Marmo berangkat dari desa, barangkali hal itu yang membut ia selalu tabah.
            Tak secuil pun ada niatan untuk menjadi penulis. Bagi Marmo, barangkali menulis adalah sebuah kutukan. Jelas awal mula ia tak begitu menghendaki akan hal itu. Betapa tidak, dengan ritual kegiatannya tersebut ia harus tersisihkan dari hiruk-pikuk keramaian. Banyak yang menggunjing. Tepatnya tak sepakat. Ada saat yang di ingat saat Marmo di gugat kawan-kawannya. Ia di cemo’oh karena hanya gemar bercumbu dengan buku dan pena. Bahkan, keluarganya (sebagian) tak menghendaki jalan Marmo. Mereka berharap Marmo menjadi seorang guru, ataupun pekerja kantoran dengan bayaran besar. Tapi Marmo yang memang terkenal dengan keras kepalanya tak menggubris hal itu, dalam dirinya hanya ada “dirinya sendiri”. Bukankah tak ada yang nikmat, selain menjadi diri sendiri, pembual sekalipun. Malah, ia ingin sekali menjadi seorang pegiat. Yang sudah tentu berseberangan dengan pola pikir keluarganya. 
            Sedari dulu Marmo sangat mengagumkan kebebasan, tentu dengan batas-batas yang wajar. Sejak masih duduk di bangku ruang kuliah (meski akhirnya ia tak lulus), ia begitu di kenal dengan mahasiswa yang ramah. Ia kecewa terhadap system yang ada, tepatnya barangkali di kecewakan. Entahlah letak kekecewaan tersebut di sebelah mana. Menjadi sebuah rahasia nasib baginya, bagi diri dan hidupnya. Ia tau, jalannya menjadi seorang penulis tak di restui oleh banyak orang. Mengingat semua juga ngerti, bahwa barangkali menjadi penulis akan melarat. Tapi bagi dirinya, itu tak penting.  
 
            Bahkan pada suatu masa Marmo harus mengalami masa-masa sulit. Ia terasingkan di dalam gerumulan pergaulan masa mudanya. Tentu hal itu membingungkan bagi dirinya. Mengingat semasa usianya yang masih muda, tentu hal semacam yang ia jalani jauh dalam sebuah kehidupan anak muda. Ia tau, tepatnya ia sadar bahwa hal itu sulit. Masa-masa yang sulit dan sudah menjadi pilihan bagi jalan kehidupannya. Dan ia rasa, bahwa setiap manusia berhak menentukan jalan pilihannya. 
            Belum lagi, saat dimana ia harus berseberangan dengan komunitas di sekitarnya. Sebuah komunitas yang tentu tak sepakat dengan apa yang di jalani Marmo. Ia menulis di antara orang-orang yang buta aksara, barangkali tepatnya malas membaca. Tapi bagi dirinya pula itu hal yang tak penting. Entah kutukan apa yang berdiam dan mengendap pada diri Marmo. Barangkali serupa sebuah pilihan, pilihan yang ia memang pilih. Marmo tak kecewa, bahkan ia bangga. Meskipun banyak orang yang tidak sepaham dengan jalan yang ia pilih. Apalagi di sisi yang lain, banyak orang yang menghendaki revolusi sampai mati, dengan turun jalan dan berduel dengan banyak kerikil-kerikil besar itu.
            Marmo sadar, karya tulisannya memang tak dapat berbuat banyak, bahkan tak dapat berbuat apa-apa. Sebuah catatan yang sebenarnya ingin ia didikasikan untuk kehidupannya. Ia berpaham, memang hal itu saat ini tak penting, tapi siapa yang tau untuk lusa. Entahlah.!

Di Bulan Agustus, Sri Selalu Sulit Melupa.


            Di saat bulan Agusutus seperti ini, dimana 3 tahun yang silam. Sri seorang gadis desa yang pernah menjadi pejuang devisa di negeri jauh di sana selalu mengingat. Ia belum lupa, tepatnya ia tak akan pernah sudi untuk melupanya. Saat dimana Sri, di hampiri oleh nasib yang sudah tentu di rasakannya sangat pahit, dan buruk. 
            Malam telah larut. Bintang tak berpendar malam itu. Sri, gadis desa yang 3 tahun lalu masih ada di tanah orang lain. Ada saat yang ia tak akan pernah lupa dalam riwayat hidupnya. Saat bagaimana Sri, (gadis desa itu) harus merelakan kehormatannya di rampas oleh sifat bejat majikannya. “Tujuanku pergi dari halaman rumah, bukan untuk menjual kehormatan”. Geming Sri, mengingatnya. Aku di paksa, aku di paksa. Gugatnya. Maafkan aku ibu, bapak dan semuanya. Sesungguhnya cita-citaku, ingin membahagiakan kalian, tapi apa daya semua telah usai, kesemuanya terlanjur terjadi. Biarlah ini menjadi garis kisah yang sumbing di tubuhku. 
            Sri, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga yang sangat tekun beribadah. Sebuah keluarga yang kesehariannya di lumuri oleh amal-amal kebaikan. Sebuah keluarga yang suci, bagaikan tak berasa ada sebintik noda kotor dalam kehidupan dalam detikan jarum jam. Sri sangat gembira, ia telah bekerja di sebuah keluarga yang tepat. Setidaknya Sri bersyukur saat itu, mengingat ia di terima dengan sangat baik di dalam  keluarga dimana ia di pekerjakan. Sebelumnya, ia memang tak pernah kenal dengan keluarga tersebut, bahkan ia sedikitpun tak tau kehidupan keluarga itu. 
            Sudah tak terasa, Sri telah mencapai usia 2 tahun masa baktinya dalam bekerja. Ia sangat bahagia, bahagia sekali. Siapa yang betah di negeri orang, sesungguhnya itu yang ada dalam benak pikirannya. Pada malam, ia selalu titipkan salam atas semua kerinduan yang ada pada tanah kampung dimana ia pernah di lahirkan. Ia selalu tak berhenti merapalkan do’a untuk keluarga yang jauh berada dalam kehidupannya. 
            Malam itu. Malam itu 3 tahun silam, tepat di bulan Agustus. Saat dimana Sri harus merasakan nasib buruk. Ia di paksa untuk melepaskan keperawanannya, sebuah kehormatan yang ia rawat dari sejak lahir. Juragan yang bejat. Juragan yang hanya bertameng pada segala keberpura-puraan. Luarnya saja yang baik, namun di dalam hatinya terdapat kehidupan binatang. Sri berontak malam itu. Namun ia tak dapat berbuat banyak, ia di ancam akan di bunuh jika tak mau mengiyakan kehendak nafsu bejat majikannya. Di dalam rumah itu hanya ada ia dan majikannya seorang, mengingat istri majikan berketepatan sedang liburan di luar kota bersama kedua anaknya. Sungguh ia tak dapat berbuat apa-apa. Selain permohonan kata “Jangan”, yang keluar dari mulutnya dengan nada memberontak.
            Malam itu dimana malam 3 tahun yang silam. Sri tak pernah untuk selesai mengingat. Selalu tak akan pernah lupa, oleh perbuatan bejat dan tak berkeperimanusiaan  yang di lakukan oleh majikannya. Jelas ia sedih, gelisah yang berlipat-lipat. Di dalam benak pikirannya ia selalu bertanya-tanya, kenapa majikannya yang tekun dan baik itu setega-teganya melakukan hal hina macam itu kepadanya. Sejak itu pula ia memahami, bahwa kebaikan luar, bukan pula kebaikan dalam. Banyak kepalsuan, yang sejatinya tak pernah ia mengerti selama ini. Berengsek, umpat Sri menggerutu. Luarnya saja yang baik, tapi di dalamnya tersimpan sikap binatang yang bejat. Bejat sekali. Bayangkan siapa sangka seorang majikan yang tekun dan banyak melakukan kebaikan, ternyata tega merenggut kehormatannya. Sungguh nista.
            Sejak kejadian itu pula, Sri memutuskan untuk berhenti bekerja pada keluarga tersebut. Pernah pada suatu hari ia melaporkan kejadian itu pada pihak yang berwajib. Namun, itu semua omong kosong. Tak pernah ada yang menggubris laporannya. Bahkan ia dituduh memfitnah, mencemarkan nama baik keluarga yang mana ia pernah bekerja. Ia hanya heran, dimana keadilan yang selalu di gembar-gemborkan. Lebih-lebih ia harus membayar uang denda karena ia telah memutus kontrak kerja. Sedangkan di lain sisi, bantuan dari negara sendiri tak banyak. Omong kosong. Hanya omong kosong belaka. Jangankan sebuah tindakan, aku mengajukan agar di adakannya otopsi saja tak di gubris. Barangkali apakah ini nasib yang harus di tanggung oleh orang miskin macam aku. Ucapnya.
            Saat ini, saat dimana 3 tahun telah berlalu, ia harus hidup dengan memelihara anak yang pernah ia lahirkan dari rahimnya sendiri. Anak yang sesungguhnya belum ia kehendaki lahir. Betapa tidak, karena anak itu hasil dari sikap bejat mantan majikannya. Namun, Sri paham, tepatnya sadar bahwa mau tak mau, suka atau tidak anak itu adalah anak kandungnya, di dalam tubuhnya mengalir juga darahnya. Semua telah berlalu, Sri sangat menyayangi anaknya tersebut. Meskipun ia tak pernah menghendaki adanya anak hasil dari keterpaksaan.
            Biarlah kata orang apa, aku harus siap menanggung keadaan ini dengan apa adanya. Meskipun orang-orang menyebut anakku, anak darah dagingku sendiri dengan sebutan anak haram. Bukankah ia juga mempunyai hak untuk di lahirkan juga. Entahlah, orang lain ingin  berkata seperti apa. Dan aku akan menyayangi selalu anakku ini, anak yang aku hasilkan dari merantau jauh, bekerja di negeri, yang awalnya bertujuan ingin membahagiakan keluarga.  
            Pada saat ini Sri hidup dengan berjualan tahu dan tempe di pinggir jalan. Ia berkehidupan secukupnya. Pada anaknya yang sudah beranjak besar, ia selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan yang tentu Sri ketahui apa itu baik dan buruk. Bukankah setiap orang mempunyai cara pandang tersendiri dalam menentukan hal-hal semacam itu. Entahlah, apa kata orang, aku juga tak mau terlalu menggubrisnya. Anakku juga mempunyai hak untuk aku sayangi dan cintai. Anakku juga sudah di takdirkan untuk lahir, menghirup udara bebas sama halnya dengan anak-anak seusianya. Ya, anakku mempunyai hak itu.
            Keluargaku awal mula enggan menerima keadaan ini, tapi akhirnya pun mereka juga terbuka. Karena di dalam sebuah kejadian entah baik dan buruk manusia harus akui bahwa nasib adalah serupa kutukan masing-masing. Barangkali, memang nasib yang paling baik tak pernah di lahirkan. Siapa juga yang tau kan?. Namun, yang terlibih utama ialah; selalu menjalani nasib itu, nasib yang terlanjur basah di lahirkan. Bukankah kita juga sudah terlahirkan ke dalam dunia yang fana ini. Penyesalan adalah serupa sikap bodoh, pasrah pun juga. Menjalani nasib dengan ketabahan barangkali sebuah jalan, jalan yang tak pernah berujung.
         
   Lalu, pada sebuah bulan Agustus, Sri selalu mengingat. Selain terdapat peristiwa besar bulan kemerdekaan, ia juga menyimpan nasib pahit. Saat dimana pula, pada bulan Agustus seperti ini ia harus terjajah.
           

Ramadhan dan Kontrakan


-Sedikit cerita, yang akan saya lanjutkan.

            Di saat sebagaimana ramadhan tiba, hampir setiap kegiatan kampus rehat, maka yang terjadi ialah pulang kampung. Tepatnya mudik, barangkali apalah anda menyebutnya. Akan tetapi hal itu berbeda dengan kami, yang dengan cara bertahan di sebuah kontrakan yang tak terasa masa usianya sudah akan berakhir. Lain dengan mahkluk yang bernama  Suhamdani, saudara kami yang lain, yang melakukan ritual pulang ketanah dimana ia pernah dilahirkan dengan telanjang. Selamat mudik Dan, setidaknya masih ada yang selalu merindukanmu di sana, akan tetapi selalulah ingat bahwa mau tak mau kedekatan kita dengan orang tua akan menimbulkan kendurnya sikap kekritisan kita, dan berubah bentuk menjadi sikap manja. Hal itu, saya rasa tak dapat di ganggugugat.
            Di kontrakan ini, kami selalu hidup bersama, dimana kami selalu melakukan ritual-ritual semacam menanak nasi, membuat bumbu sayuran, menyambal dan sejenis itu. Saya harus mengaku, bahwa salah satu seseorang kelahiran Kebumen memang jago untuk hal masak-memasak, barangkali ia memang di takdirkan untuk hgal itu. 
            Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat di rindukan oleh umat muslim, setidaknya itu yang saya tau. Saat sebagaimana pernah pula terjadi peristiwa-peristiwa penting (katanya) yang sempat terjadi dalam sejarah Islam dahulu kala. Mulai dari malam seribu bulan dan lain sejenisnya. Di kontrakan ini, kami selalu bertahan. Dari terik sinar matahari di siang hari, dan hawa dingin di malam hari yang dingin.
            Ramadhan sudah mencapai ke 20 harinya. Kami belum mudik, entah pulang ketanah kelahiran atau tidak pada lebaran yang akan datang. Syukur, saya masih bertahan untuk menjalankan puasa ke 20 hari ini, di lain sisi memang banyak godaan yang datang dan pergi dan datang kembali. Yah, bukan apa. Saya hanya ingin menyelesaikan ibadah ramadhan tahun ini. 
            Di kontrakan ini, kebersamaan ialah pegangan hidup. Barangkali sudah saling merasa, bahwa kami memang jauh dari sanak keluarga. Maka dari itu, kami di kontrakan sini sudah seperti keluarga sendiri. Keluarga yang sebagaimana di ketemukan sudah saling sama dewasa. Perbedaan berlalu lalang begitu saja, mulai dari sudut pandang dan lain sebagainya. Buklankah kita memang terlahir dari perbedaan-perbedaan tersebut, dan sudah barangtentu hal itu menjadi keindahan bagi kami. 
            Entah sampai kapan kami bertahan di kontrakan ini. Belumlah ada pikiran, lebaran tahun ini hendak melakukan ritual pulang ke tanah kelahiran atau tidak. Biarlah saya menceritakan detik-detik dari sisa waktu bulan ramadhan yang masih ada dan sempat saya catatakan, tentu dengan sedikit demi sedikit.
Bersambung.