Pergi


Ia berdiri tegak di bibir pintu itu. Tangannya mengepal dan matanya memerah. Barangkali ada sesuatu yang tak ia kehendaki.
                “Brengsek”. Umpatnya bebarengan dengan menendang pintu. Lelaki itu pergi begitu saja, tanpa jejak yang ia sisakan. Pagi itu tak terang, kelihatannya akan turun hujan lebat.
“Dengar kabar anak kita bu, tentu jasadnya telah mengapung di tengah lautan dermaga itu”. katanya.
“Pak, adakah yang lebih pedih dari kehilangan”.  Berbalik tanya.
“ingin sekali rasanya aku menyusulnya”. Tangisan itu tak henti, air mata mengunyah tanah hingga berlumpur. Di kursi yang di duduki, laki itu melipatkan amarah saat menanti yang telah pergi.
                “Di negeri itu. Di negeri itu” kata yang terus di ulang-ulang saat malam datang. Di kamar yang pengap mereka tak pernah usai merapalkan do’a. Di kamar kecil berdinding bambu itu pula yang pergi sempat dilahirkan. Darah dan air tangisan kebahagian pernah tumpah. Di tanah itu, bahkan, yang pergi berujar akan pulang dengan segumpal kebahagian. keberangkatan menghapus semua itu, merampas tanpa tanda sisa.
Malam itu sempat aku larang ia untuk pergi. Tapi kenapa atap genting yang bercela itu di terobosnya. Kini ia hilang, pergi tak akan kembali. Kertas surat putih yang tak lama ia layangkan, bahkan belum sempat berdebu. Bekas tinta hitam itu masih belum kering. Itukah yang terakhir kalinya?
Air tangis itu tak berhenti jatuh mengalir. Entah barangkali itu bukti serupa do’a. Untuk yang pergi kemudian tak dapat kembali.   
                Lalu pada pagi, yang menanti menitipkan kata terbata-bata. Sudahlah bu, relakan yang hilang itu pergi. Ia bagaikan senja yang tak pernah temaram.
Iklan

2 responses to “Pergi

  1. Air tangis itu tak berhenti jatuh mengalir. Entah barangkali itu bukti serupa do’a. Untuk yang pergi kemudian tak dapat kembali.

    Aku suka kalimat ini,. hampir sama dengan kalimat yang diucapkan oleh Gibaran pada May ziadah lewat tulisannya disaat rindunya tak tertahan lagi,.

    pernah juga terkatakan oleh seorang sufi Jalaluddin Arrumi yang merasakan kehilangan jiwa dan kembali lagi bersemi,.

    Nice kawan,.

    Lebaran aku di jember lo,.

  2. Arti Blogger; Salam kenal bung. Nasib adalah kesunyian masing-masing.

    Mampir ke gubuk saya. Lebaran kembali pulang.hehehehe,

    Jember mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s