Nak, Pulanglah Ke Rumah Pada Ramadhan Tahun Ini.


“Nak, pulanglah kerumah pada Ramadhan nanti”. Bunyi sms itu
“InsyaAllah Bu, saya akan pulang pada awal puasa nanti”.
“Nenek kangen , apa kamu juga enggak kangen”. Balas sms tadi. 
“Iya saya juga rindu”.
            Sudah ramadhan. Ramadhan datang kembali. Sms itu dari ibu di rumah beberapa hari sebelum ramadhan tiba. Ibu berharap saya akan berdiam di rumah saat ramadhan tahun ini. Setidaknya jika memang saya gak mau, awal puasa saya dapat pulang kerumah. Mengingat pada saat bulan ramadhan musim kemarin saya tak berada di rumah. Bahkan saat akhir ramadhan, atau lebih tepatnya hari raya saya tak pulang, anak yang tak tau diri. Barangkali begitu.
            Kali ini ramadhan jatuh pada tanggal 1 Agusutus. Tepat dimana selisih 19 hari sesudah tanggal kelahiran saya. Sebelum itu, saya pun menjalankan nasehat ibu yang ingin anaknya pulang kerumah saat ramadhan tiba. Awal sahur pun saya di rumah. Berkumpul bersama keluarga. Keluarga dan tetangga pun heran melihat tubuh kurus kering melimping ini. Bahkan saya di vonis sebagai pemabuk berat. Astaga, padahal saya gak kepingin sama sekali semacam itu. Bukan berarti saya gak doyan, tapi memang mulut ini sudah terlanjur nyandu pada air kopi. Yang pahit, manis dan kental itu. Enggak minum itu saja saya sudah mabuk kok. 
“Kamu di sana suka gak tidur malam ya, rokok dan ngopi terus ”. Tanya ibu, sambil mengaduk secangkir kopi. Saya hanya diam, sesekali sambil tersenyum. 
“Di jogo kesehatane kui nak” (di jaga kesehatannya itu nak)”. Nasehat ibu lagi, sesekali berlogat jawa. 
“Iya Bu,”.
            Malam pun jatuh di halaman rumah dan sekitarnya. Malam yang dimana sholat taraweh di mulai untuk pertama kalinya. Surau yang tak jauh dari jarak rumah telah terdengar mengumandangkan suara adzan. Terlihat para orang-orang yang bergegas hendak akan menunaikan ibadah sholat taraweh pada malam itu.
            Di desa saya petasan sudah meredup. Dilarang meledak tepatnya. Padahal di desa ini pada sekitar empat tahun silam ada semacam ritual petasan, dimana ritual ini di adakan secara bersama-sama. Entah pada saat ini pesta yang hampir menjadi budaya itu telah di tiadakan. 
            Malam semakin larut. Terdengar sayup-sayup suara seorang yang sedang tadarus. Dimana suara itu mengingatkan saya pada saat empat tahun silam. Saat itu saya masih gemar datang ke surau dan tadarus sampai dini hari. Tapi kali ini empat tahun silam sudah tak ada lagi, sejak saya hijrah di perantauan jauh di sana saya sudah jarang berkunjung ke surau itu. Bahkan menginjakkan kaki ke halaman pun tak pernah. Ini mungkin salah satu ciri orang yang biadab. 
            Di desa ini saya sempat terlahirkan. Dengan telanjang tanpa secuil dosa pada waktu itu, katanya. Saya sebenarnya rindu, rindu dengan segala hal halaman rumah. Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Bapak dan ibu asli pribumi sini. Bercocok tanam itulah hasil kehidupan kami. Musim ini sedang marak layang-layang malam. Di kota perantauan tak dapat saya jumpai kreatifitas semacam ini. Saya harus katakan masyarakat kota lebih ahli dalam membeli dari pada membuat. Layang-layang malam itu sangat indah di langit pada malam hari. Lampu kelap-kelip menghiasi sekujur tubuh layang tersebut. 
            Jam dinding pun terus berputar. Tibalah waktu sahur perdana. Ibu telah menyediakan santab sahur, membuat secangkir kopi untuk saya. Saya pun mengawali ibadah puasa ini di tempat di mana saya pernah di lahirkan. 
Nb; Kadang pengalaman yang tak istimewa jika kita catat seadanya akan menjadi sangat lebih dari sekedar istimewa, atau bahkan terjadi sebaliknya. Selamat Ramadhan.

01 Agustus 2011
           
             
Iklan

9 responses to “Nak, Pulanglah Ke Rumah Pada Ramadhan Tahun Ini.

  1. duuh sedih bacanya, kalo sampe gak bisa sahur bersaama ibu sekeluarga. emang enaknya ramadhan selalu bersama keluarga. selamat menikmati ibadah ramadhan

  2. saya berhenti puasa di sekitar tahun 2004, tetapi saya tidak pernah berhenti mengenang masa-masa ketika saya masih rajin berpuasa — sebagaimana yang ditentukan syariah: takjilan, khataman, melek di masjid, taraweh.

  3. selamat musim dingin mas An Ismanto

  4. enak kang santab saurnya masih dibuatin kupi 😦 bikin ngiri 😦

  5. Tulisane menyentuh..

    jadi kangen sama secangkir kopi racikan ibuk di waktu berbuka..

  6. Belajar Photoshop: ngiri buat sendiri kang. Kopi Pahit,hehehehhe

    Masbro; bukankah setiap pengembara selalu rindu akan tanah kelahirannya.heheheh

  7. terharu hehe
    kunjungan pertamaaa:)

  8. Mengingatkan saya sama nenek yg sudah seperti ibu saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s