Dua Ribu Tujuh dan Dua Ribu Delapan


            Entah sudah seberapa lama saya tak sempat pulang ke rumah. Adapun pulang, itupun hanya satu atau dua hari. Paling lambat. Saya dilahirkan di Jember bagian selatan. Orang lebih mengenal daerah ini dengan daerah laut dan pertanian. Daerah saya memang dekat dengan pantai selatan, juga sawah teramat lebar di daerah saya. Sejak sekitar lima tahun yang lalu, saya berniatan hijrah ke kota Jember. Sejak itu masih kelas 2 SMA, tahun 2007 silam. Pada waktu itu pulalah saya untuk pertama kalinya hidup jauh dari kedua orang tua. Meskipun kerap mudik ke kampung halaman. 
            Saya hijrah ke kota Jember saat duduk dibangku kelas 2 SMA, awal mulanya saya kos di salah satu rumah warga di Kaliwates Jember. Jarak antar rumah dan kota Jember lumayan jauh. Kira-kira harus ditempuh dengan durasi waktu 1 jam. Sore itu bapak yang mengantar saya ke kosan dari rumah. Begitu sedihnya saat bapak berpamitan untuk kembali ke rumah. Dalam hati tak dapat saya tahan, bagaimana untuk pertama kalinya harus jauh dari kehidupan orang tua. Waktu itu saya membuntuti bapak dari belakang karena hendak menghantarnya ke jalan raya. Sungguh sedih pada waktu itu, saat tahun masih 2007. Cita-cita saya hengkang ke kota Jember sesungguhnya ingin menjadi pemain sepakbola. Di desa tak dapat banyak berkembang. Saya pun ikut sebuah SSB (sekolah sepak bola) yang ada di sekitar kota Jember. 
            Di kosan saya tak pernah betah. Pagi sekolah, pulang sekolah keliling-keliling. Maklum pada waktu itu saya tak banyak kenalan, bahkan tak ada yang kenal sama sekali. Hanya warung dan tempat ibadahlah saya kerap kali singgah. Kebetulan tak jauh dari kosan terdapat sebuah masjid, disitulah saya kerap melaksanakan ibadah dan sekedar melepas kesepian. Diwarung-warung kopi saya mencari tempat dimana seorang kawan bisa saya ajak untuk sekedar bercakap-cakap. Saat tahun 2007 lalu, saya bagaikan orang yang terbuang dan terdampar disebuah tempat yang begitu asing. Untuk mengusir rasa sunyi saya punya tujuan untuk membeli radio, itung-itung ada yang didengarkan. Tiga atau paling lama empat hari saya selalu pulang ke rumah. Tak betah, di kosan hanya saya sendiri, pemilik kosanpun sudah tua, malah jarang terlihat.
            Sekitar tiga bulan usai saya berniat untuk berhenti berlangganan kos. Waktu itu musim hujan, dalam keadaan yang dingin saya berpamitan pada ibu kos dan minta izin bahwa saya sudah berhenti kos. Sesudah itu untuk urusan sekolah saya harus pulang pergi meski tak setiap hari. Kebetulan tempat dimana saya sekolah terletak di dalam kampus (perguruan tinggi). Malah dari kehidupan mahasiswalah saya mendapat banyak kenalan. Tak jarang, saya nginap di sebuah ruangan bersama mahasiswa yang saya kenal.
            Tahun 2008 telah tiba. Saya pun sudah menaiki kelas 3 SMA. Saya tidak kos ataupun tak pulang pergi lagi. Saya ngontrak di daerah tempat dimana saya sekolah. Banyak pengalaman setelah saya tinggal di kota Jember ini. awal-awal yang keseringan pulang kampung, tapi saat itu sudah tidak. Malah, tak betahlah yang ada di rumah. Saat semasa kelas tiga, waktu lebih saya gunakan untuk sekedar jalan-jalan, untuk memahami lebih jauh kehidupan kota. Saat itu pula saya ketagihan keramaian. Dimana ada keramaian hampir pasti saya kunjungi. 
            Saat itu tepat pada bulan Agustus 2008. Jember melakukan ritual kegiatan, orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan singkat BBJ (Bulan Berkunjung Jember). Hajat kota Jember yang sekaligus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia ini terdapat banyak acara. Mulai dari musik, olahraga dan sebagainya. Di alun-alun kota Jember tak pernah sepi dari keramain hampir setiap pagi hingga malam hari. Yang tak dapat saya simpulkan ialah betapa girangnya kehidupan anak desa yang mencoba memasuki kota, pada saat itu. 
            Hari-haripun terus menerus berganti dan berputar-putar. Semakin banyaklah teman akrab yang saya dapat. Tak terkecuali sahabat-sahabat mahasiswa. Saya jarang pulang, bahkan jarang satu minggu kembali ke halaman rumah. Ibu dan bapak sesungguhnya sangat was-was, karena saya tak berada di sampingnya. Namun, keluarga sudah percaya bahwa saya tak akan kenapa-kenapa. 
            Itulah tahun 2007 dan 2008. Tahun sejarah bagaimana saya terdampar dan hidup tegak sampai tahun berikutnya. Rasa asam dan manis seperti acapkali menghampiri pada setiap kehidupan yang terlanjur hidup ini. 
            Radio pun saya putar kembali terdengar saat Iwan fals melantunkan lagu “Galang Rambu Anarki”. Pada malam itu, saat menati hari esok datang kembali.
Iklan

2 responses to “Dua Ribu Tujuh dan Dua Ribu Delapan

  1. Salam kenal…..
    nitip anakku yang kuliah di unej Jember
    mungkin seusiamu/ 18,5 th
    tepatnya smt 5 FMIPA (fisia)
    nyantri di ponpes al jauhar jl nias
    tetap semangat menaap masa depan, ok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s