Bola


            Jelas sedikit yang menduga, bahwa timnas sepakbola Indonesia mampu lolos ke babak kualifikasi piala dunia 2014. Di saat persiapan tim mepet belum lagi persoalan PSSI yang baru saja rehat dari segala macam perselisihan para atasan elite. Stadion gelora Bung Karno menjadi saksi, saksi mata dimana pada 28 Juli 2011 ini, timnas berhasil menekuk Turkmenistan dan sekaligus lolos ke babak selanjutnya. Yaitu babak kualifikasi piala Dunia 2014 zona AFC.  
            Di lain waktu saat setelah pada leg pertama timnas mampu menahan imbang 1-1 di kandang Turkmenistan beberapa waktu lalu, Firman dkk sukses menenggelamkan Turkmenistan dengan sokre 4-3 di gelora Bung Karno. Praktis hal ini membuat aggregate goal menjadi 5-4, sekaligus meloloskan Indonesia ke babak fase selanjutnya. Yang sudah barangtentu babak tersebut sangatlah berat. Dalam persiapan yang hanya lebih kurang 14 hari –pasca Riedl di pecat PSSI- ini hal yang cukup memuaskan masyarakat Indonesia. Wim yang di dapuk menggantikan Riedl tak banyak pilihan dalam menghadapi pertandingan melawan Turkmenistan. Ini barangkali di sebabkan persiapan yang –sekali lagi- sangat mepet. 
            Siapa yang tak gemetar saat menyaksikan timnas Indonesia berlaga. Di samping was-was nama baik bangsa harus tetap di junjung tinggi. Sebobrok apapun Negara ini, disinilah kita pernah dilahirkan. Jangankan kalah, mundur sejengkal pun barangkali pantang. Biarlah saya bicara di kejauhan –sejauh sekedar melihat dari layar kacara televisi-. 
            Lagu kebangsaan itu berkumandang kembali. Penuh semangat dan rasa nasionalisme seakan menggelora di stadion Bung Karno malam itu. Lantas kebayang pada akhir tahun lalu saat timnas Indonesia gagal menjadi juara piala AFF 2010 untuk kali yang pertamanya. Pada era Nurdin si kuasa tak tau diri itu. Siapa yang tak gerah melihat tingkah penguasa yang bercita-cita membawa sepakbola tanah air ke ranah kepentingan politik golongan. Sudahlah, bukankah era Nurdin sudah terkubur? Terkubur bersama kebusukannya.
            Pada babak baru era kepengurusan PSSI, timnas menampilkan permainan terbaik. Tak lupa dan yang harus kita ingat, tim ini bentukan Alfert Riedl. Pria asal Austria itu mampu merubah gaya permainan sepakbola Indonesia. Tapi sayang, Ridl harus dengan terpaksa tak lagi menjadi bagian dari tim dengan alasan yang tak cukup jelas. Barangkali ulah politik, atau yang lain. Entahlah. Setidaknya timnas mampu bangkit dari keterpurukan beberapa tahun belakangan ini.
            Adalah Ahmad Bustomi, gelandang penyeimbang itu. Akselerasi yang memukau membuat permainan timnas menjadi padu. Alur bola dari lini belakang ke tengah dan ke depan selaras saling bahu membahu. Saling bertanggungjawab atas posisinya masing-masing, hal yang sangat jarang kita temui di wakil-wakil kita yang duduk di gedung tinggi di singgahsana. Barangkali, jungkirbalik ditanah yang tak empuk harus di tiru, bukan duduk dan menduduki dengan segala macam yang empuk. Apakah kita tak lihat, bagaimana Gonzales dengan berlari mengejar bola sampai ter-engoh-engoh. Itu demi bangsa, bangsa yang sejatinya bukan tanah kelahirannya. Mengingat Gonzales ialah pemain hasil naturalisasi. Tapi disini saya tak melihat asal muasal dia pemain dari mana, kerja keras dan tau tanggunggungjawablah yang sekiranya perlu untuk kita contoh. 
            Subtansinya sama, pemain timnas adalah wakil bangsa. Tepatnya  mewakili rakyat. Perban dikepala yang didapat oleh M.Nasuha pada leg pertama setidaknya membuktikan, bagaimana para pemain timnas mempunyai ketulusan dalam membela bangsanya. Atau kita dapat belajar dari pengorbanan Fery Rotinsulu yang rela berjibaku dan menahan sakit akibat berbenturan dengan lawan saat berusaha mengamankan gawangnya. 
            Membangun sebuah tim yang handal bukan perkara mudah. Kepaduan, ketekunan dan ketulusan ikut andil dalam setiap lini diluar maupun di dalam pertandingan. Setidaknya kita sudi belajar dari mereka-mereka. Dari keberkorbanan, dan tentu bukan hanya dari sekedar membangun politik dan retorika yang LEBAY.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s