ganjil


Terasa ada hal yang ganjil pagi hari ini. Selain saya lupa menyeduh kopi dan tak pejamkan mata pula. Duh, apa sih yang saya rasakan ini. pernahkah anda mengalaminya?. Saat dimana ada yang agak ganjil di pagi hari anda. Jelas saya tak ada maksud untuk mengingatkan “mungkin belum lempar kata-kata di facebook, atau suit-suitan sama burung twitter”. Tidak, saya sudah jarang menggunakan duo akun jejaring lempar-lemparan tersebut. Barangkali keganjilan batin saya berbeda dengan prasangka batin anda. Malah, pada pagi ini saya luangkan waktu untuk membuka akun facebook saya. Oh, ramainya. Riuh. Belum lagi sangkar burung “twitter”. Tapi ogah ah, kayaknya saya tak ketiban selera kicau-kicauan pagi ini. 
Mula-mula tangan saya ingin menuliskan sebuah kata-kata lalu melemparnya ke jalan trotoar beranda teman. Tapi saya ragu, ragu dengan kata-kata saya yang cenderung -mungkin lebay-. Keganjilan itulah yang sekiranya saya rasakan. Melempar kata-kata, sejenak lalu di tengok mungkin ada yang akan membalas atau tanda jempol tahayul. Tak lama kemudian, saya menombol tanda log out pada akun facebook. Lalu yang saya rasakan ialah malah ketiban kecemasan. Ngapain juga saya malu, atau takut pada zaman kebebasan ini. Bukankah pagi ini saya menghirup udara di era kebebasan berpendapat. “Banci loe”, umpat teman saya. Tidak. Teman saya sedikit selip berpendapat. Pada keraguan dan kecemasan tadi, malah saya ketiban berkah. Setidaknya saya telah melakukan ritual panjang ngeblog pada pagi hari ini atau sekedar nge-milis. 
Pada era kebebasan berpendapat kadang kita memang memilih membungkam diri. Yang mengartikan bebas malah keblabasan berkora-koar di layar kaca televisi. Hantam sana, ngebacot sini. Dan setidaknya saya tak lupa dengan jargon “mulutmu adalah harimaumu”. Tak usah susah-susah anda bayangkan, segawat apa jargon tersebut. Terlampau bebas sehingga seseorang malah tak dapat mengartikulasikannya. Setelah berbuat lalu lari dan sembunyi di kamar yang pengap.
Pada kecemasan itu saya lebih melarikan kegelisahan saya pada aktifitas internet. Sebut saja dengan cara membuat catatan di blog saya. Karena akhir-akhir ini saya sudah meletakkan nafsu untuk mencolak-colek kan mouse komputer saya pada beranda, profil dan sejenisnya. 
Kawan yang tadinya mengejek saya dengan kata “banci loe”, mungkin sedikit selip. Logika “hantam duluan urusan belakangan” rupa-rupanya sedang menghampiri teman saya tadi. Dan mungkin ia lupa apa yang pernah dikatakan bung Sawung Jabo “pemberani sejati bukan ia yang berteriak di keramaian orang, tapi pemberani sejati ialah ia yang mampu berbisik di antara orang-orang yang diam”. Saya tak berkata bahwa saya seorang pemberani loh, tapi saya juga bukan “banci”. Kata-kata yang di lontarkan teman saya tadi. Hanya saja hari-hari ini saya lebih memilih mengasah kemampuan nyorat-nyoret. Untung kalau dengan coretan saya lalu saya di hukum untuk menggantikan Irfan Bachdim di timnas Indonesia. 
Malah kadang rasa keganjilan saya yang tak serupa muncul saat membaca kata-kata seorang kawan saya yang lain. Yang pada pagi hari seusai bangkit dari lelap melempar kata-kata di trotoar beranda facebook. “sayang aku pingin, kangen sekali dengan kamu pagi hari ini”. Barangkali begitu kata-kata panjang itu.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s