Bukan sekedar sepakbola.


            “Saya tak berharap liga kembali pada perserikatan. Saya hanya butuh ketenangan saat menonton nyaman di dalam stadion tanpa kegaduhan. Atau saya berharap bisa tertib damai saat mengambil kendaraan di tempat parkiran. Saya bukan sekedar ingin mendengar tim saya kalah atau menang, atau kegirangan saat menatap papan skore 2-0 kemenagan untuk tim saya”. 
            Entah mengapa secara tiba-tiba ingatan saya mengarah pada tahun belakangan. Saat saya duduk diam, riang, senyum menghisap rokok di dalam stadion Notohadinegoro. Saat tim kesayangan saya berhasil mengalahkan Gresik United pada waktu itu.
            Sepakbola. Siapa yang tak kenal dengan olahraga nomor wahid di dunia ini. Pada kawasan benua biru olahraga ini seperti agama, atau sejenis aliran. Apa yang telah di ungkapkan oleh Robert N. Bellah ahli sosialog A.S, bahwa sepakbola menyatu menjadi peraturan, pengikut fanatik dan ritual nilai. Sudah  tentu yang saya maksud disini bukan soal bicara agama Islam, Kristen, Budha, Katolik dan lainnya. Dalam sebuah negara sepakbola bukan perihal permainan dua tim lawan, kalah dan menang atau permainan yang menghibur. Sepakbola mempunyai sejarah panjang dalam arus jeram sebuah bangsa. 
            Bangsa Jerman setidaknya sudah diluluhkan dengan sepakbola. Saat perang dunia ke dua Jerman yang merupakan keturunan ras arya mengaku bahwa ras merekalah yang ada diatas segala-galanya dan kebangsatan Hitler kala itu yang ingin memusnahkan ras lain. Barangkali tidak dengan akhir-akhir ini, Jerman harus luluh. Terlihat bahwa timnas Jerman pada piala dunia 2006 silam terdapat pemain kulit hitam kelahiran Ghana siapa lagi kalau ia bukan Gerald Asamoah. Jepang pun harus mengaku, bahwa dalam sepakbola sudah seharusnya tak mengenal ras, ideologi, agama atau perbedaan yang lainnya. Jepang yang terkenal bersikukuh dengan kemurnian rasnya haruslah luluh pula, Alex Santos pemain kelahiran Brazil pernah memperkuat timnas Jepang pada piala dunia 2006. Setidaknya ini membuktikan bahwa sepakbola tak mengenal batas.
            Siapa yang tak sorak-sorai saat berada di dalam stadion? Gila, gila sekali orang-orang berambut gimbal itu. Rambutnya bercat merah, wajahnya tampak berkibar lukisan-lukisan bendera negara. Saya gemetaran saat melihat permainan timnas Indonesia pada setiap pertandingan piala AFF 2010 kemarin. Saya tak mau bicara ketampanan Irfan Bachdim. Di lain sisi, saya memang pecinta bola yang pekat, pengap dan lupa ingat. Dari arah layar kaca tivi, saya menyaksikan bagaimana perdamaian di dalam stadion itu. Nasionalisme bersatu tanpa perbedaan. Stadion bergelora menjadi lautan merah dan putih. Para supporter meletakkan atribut klub, bersatu untuk mendukung timnas Indonesia. Jangan ngelantur, ini tak ada hubungannya dengan PSSI. Pada babakan kuasa busuk Nurdin yang bercita-cita sepakbola sebagai kekuasaan golongan. Akhirnya runtuh, runtuh oleh kebusukannya sendiri. 
            Sepakbola seharusnya sudah tak lagi sebagai penyokong kekuasaan golongan. Sepakbola lahir dari aspek kesadaran kultur yang dalam, dari diri setiap batin lalu di aktualisasikan di tengah-tengah pertandingan sampai pada ruang obrolan di warung kopi. Sepakbola tak mengenal kelas atau batas. Dapat kita saksikan, betapa semangatnya seorang tukang becak yang bersedia bertato burung garuda saat timnas Indonesia tampil memukau di piala AFF akhir tahun 2010 lalu. Bukankah ini sekaligus membuktikan, bahwa nasionalisme belum mati. 
            Sekali lagi saya ingin katakan. Bahwa sepakbola bukan sekedar permainan kalah dan menang. Banyak aspek yang duduk di dalamnya. Ras, ideologi, jenis kelamin, agama dan sejenisnya. Saya hanya ingin duduk, mengamati pertandingan bersama gadis-gadis di tribun penonton, dan sekali-kali menghela nafas panjang ketika tendangan keras Firman Utina menerpa tiang gawang. Atau saat saya berdiri tegak sambil bertepuk tangan saat melihat Boas Salosa mengocek bola sambil meliuk-liukkan badannya.
22 Juli 2011
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s