Selembar kertas


“Apa jadinya jika suatu saat nanti, ketika saya pulang ke rumah hanya membawa selembar kertas putih, tertulis hasil karangan-karangan cerita saya lalu kertas itu saya berikan pada ibu dan bapak tentunya”.
Tulisan di atas, saya tulis sekitar tiga bulan yang lalu, tak sengaja kemarin saya menemukan lagi, terlipat lusuh di dalam tas kecil hitam saya.
“Diam adalah sebagian dari pemberontakan”. Ungkap Mahrus Sholih, saat di warung kopi waktu itu. Mengapa? Tanya ku, tertegun sambil menyrutup secangkir kopi.
“Coba kamu tak suruh beli rokok, tapi kamu diam, gak bicara ataupun berangkat. Apakah itu bukan merupakan dari bentuk protes atas perintahku”. Tegas Mahrus Sholih, penuh tatapan mata yang tajam.
“Aiih. Asem, saya tersipu malu, melunglai lagi, dan lagi”. Gemingku pelan penuh keterpurukan.
Memanglah arti diam berjamak makna.
Sedikit saya akan bercerita, berwacana sepintas perihal tentang Mahrus Sholih. Sekitar tiga tahun silam, sebelum saya (ngu)liah, saya tak berfikir akan menjadi seperti ini. Hampir setiap malam saya berkumpul “gak ada loe gak rame”, begitulah kiranya bung.! Sebenarnya saya enggan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sebut saja seperti macam (ngu)liah. Bosen setiap hari di kekang, mungkin itu salah satu alasan saya. Oh tapi ternyata tak begitu, saya cukup terkagum dengan kata-kata mahkluk yang bernama Ahmad “brekele” Ubaidillah. Sosok yang berani, gila,nan bertanggung jawab, namun beralasan.
Malam itu, (saat masih saya belum (ngu)liah), saya bertanya lowongan pekerjaan kepada mas Ubaid.
“Mas, carikan saya kerja dong, setelah saya lulus SMA nanti”. Ungkapku meskipun akhirnya tak lulus.
“Wong saya saja belum kerja, kok malah kamu suruh carikan kerja kamu”. Tutur lelaki berpostur pendek dan kurus tadi.
            “Cari ilmu dulu saja, kerja itu gampang”. Sabda Ubaid, senada menasehati.
          Sambil berlalu, akhirnya saya ikut mereka (baca:Mahrus dan Ubaid). Saya terdampar di dunia mereka, sungguh mengagumkan. Ada yang bilang saya (ngu)liah tersesat di jalan yang benar. Entah kalimat mana yang tepat. Meskipun Ubaidillah dewasa ini melakukan ritual pulang kampung ke tanah sucinya, tapi masih sering menghubungi saya. Hanya untuk sekedar ngobrol tanya keadaan dan tanya keadaan rumah yang pernah di huninya. Tak pelak, di hari itu ketika mas Ubaidillah menelphon saya, dengan nada menasehati membuat saya sadar bagaimana cara hidup. Toh, tak banyak kata, “terimakasih”.
            Perubahan itu saya yakini memanglah ada. Semisal sekret yang di dalam, sekarang habis termakan belatung “kebijakan”, rumah kontrak Jl. Nusantara No (lupa) sekarang sudah lenyap masa haknya. Di sisi lain, masih saja ada yang tak berubah, semisal penyakit saya yang sulit (ngu)liah, kebiasaan saya merokok, ngopi dan jail tentunya, pun rumah kopi ibu belakang gor masih saja sudi saya hutangi. Toh, masih ada juga yang masih tabu, sifat wak-wok saya, ada yang bilang hangus, dan ada yang bilang tambah parah, satu lagi yang masih tabu, rumah yang pernah mas Ubaidillah tempati sekarang hampir sekarat masa haknya. Tapi saya tak diam mas, saya akan mencoba, selagi saya bisa. Ya, maaf jika suatu hari nanti mengecawakan, tapi juga maaf saya tak bermaksud itu.
             Ada kabar bahagia mas dari seberang selatan sana, telah lahir pula anak mas Mahrus Sholih, berkelamin laki-laki. Dan sampai detik ini, saya belum memastikan benarkah kelamin itu benar. Saya hanya terdengar kabar dari manusia, dan hari-hari ini penyakit saya kambuh yakni tak begitu percaya dengan manusia. Sampai saat ini, saya hanya bisa berdo’a agar sijabang bayi “apalah arti sebuah nama”, menjadi anak yang berbakti. Amin.
            Kabar bahagia lainnya datang dari wanita bernama  Khoirurrohmatul Masruroh, tersiar kabar bahwa wanita penuh ke ibuan ini telah habis masa aktifnya  sebagai mahasiswi. Saat saya ucapkan selamat di wisuda via SMS, mbak Ruroh (saya sering sapa), agar di do’akan semoga cepat menjadi mahasiswi lagi. Ada pula kabar perubahan lainnya, nama-nama seperti Nurfitri Amina, Zaenal Arief dan Abdul Rasit sekarang berpindah jalan, yang dulu penghuni Jl. Kyai Mojo 101, saat ini berbelok arah ke Jl. Semeru. Saya ucapkan selamat berproses kepada mereka-mereka. Ada yang tertinggal dan saya tak mau meninggalkan kabar Kang Heri S, yang memilih pulang dengan kepala tegak, ke tanah dimana ia di lahirkan. Hasil pendengaran saya konon kang Heri akan membangun rumah baru. Tak lupa pula saya ucapkan selamat kepada kang Heri.
            Jika ada kabar bahagia dan kabar tabu, alangkah lebih sehatnya saya mencantumkan hasil pendengaran saya perihal kabar tak bahagia. Kabar ini sekaligus cerita saya. Tempat di mana saya (ngu)liah yang tak ada ubahnya. Empat hari yang lalu (Senin, 22 November 2010), saya datang ke tempat di mana saya (ngu)liah. Saat itu nuansa sedang UTS (ujian tengah semester). Tak habis pikir saya, ketika pertanyaan yang menjurus pada harus menghafal dan mengulang. Aiih, kenapa saya harus di suruh menghafal,dan  mengulang. Kapan saat saya harus bertanya, berfikir? BAH, dunia macam apa pula ini.!!
            Tak harus saya hafal, tak harus saya mengulang. Pendidikan ini bukanlah PAUD. Yang rentan dengan menghafal dan mengulang dari sang tuan guru. BAH, lantas saya meninggalkan ruang, menenteng sehelai kertas sembari tergenggam pena berwarna hitam di tangan, duduk manis (tempat di rahasiakan), berceloteh dengan diri sendiri. Sungguh terasa lebih hidup diri ini.
            Banyak cerita saat saya di perantauan ini. Mulai dari tempat saya (ngu)liah sampai saat di mana saya menaruh pakaian, mandi dan memejamkan mata. Saya sadar, ibu dan bapak saya akan tersenyum saat saya berpose di sampingnya sambil menyandang pakaian bertoga. Toh, itu memanglah tujuan dan kenikmatan dari orang tua. Saya mempunyai mimpi, meskipun status saya di tempat (ngu)liah hancur, akan tetapi saya mempunyai komitmen akan mengakhiri masa tersebut dengan khusnul khotimah. Tak lantas lari atau malah bunuh diri. !
            Meminjam bahasa kang Arief yang di sari dari buku Tan Malaka “siapa yang ingin merdeka, ia harus siap di penjara”. Tempat saya (ngu)liah, banyaklah system, saya sepakat system itu ada, tapi tak harus dengan embel-embel akademika. Bukan membodohi, semisal dengan harus menghafal, dan mengulangi. Seharusnya pun berfikir, bertanya, dan berkarya.
            “Lepas belenggoe, Ekspresikan diri moe”. Coretan di samping saya temukan di dinding bilik sekret, usut punya cerita, dan kabarnya kalimat itu punya Mahrus sholih. Penuh inspirasi.
            Saya lebih suka duduk manis dan berpikir di suatu tempat. Ketimbang saya harus duduk gerah, di paksa menghafal dan mengulangi. Toh pada suatu saat saya bertujuan untuk mengakhiri semua ini dengan baik.
            Saya gak habis pikir, ketika saya pulang ke rumah hanya membawa beberapa lembar kertas hasil karangan saya, tapi saya bahagia, karena mampu berbuat. Ketimbang saya gak bisa berbuat.
Bukankah sudah saatnya kita mengakhiri kisah cerita Ki Slamet Gundono, sosok dalang yang meninggalkan panggung dengan berkata “yen wes kabeh lali, kate di kapakno”, ungkap nya sambil melenggang meninggalkan pementasan. Pertunjukan wayang tersebut, menggambarkan bahwasannya sang dalang lari dari realitas.

Suatu saat jauh hari nanti, kita akan kembali pada masyarakat, apakah kita akan lari dari realitas. Dan akhirnya semoga saja aku, kau, dia dan kita semua, tidak. !
Jember, 25 November 2010.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s