Kontrakan kosong.


Hujanpun turun pada malam itu. Ingin aku menghisap asap rokok apa daya satu batang pun tak ada. Lupa, lupa tadi aku tak beli. Malampun larut, semakin larut. Kuputuskan untuk melangkah meninggalkan kontrakan kosong ini, melenggang jauh pergi ke toko untuk membeli rokok. Di iringi hujan tak begitu deras, ku beranikan diri untuk melangkahkan kaki.
            Akhirnya rokokpun ku dapat. Kembalilah aku ke kontrakan kosong ini. Aiih, kok sepi. Lampunya mati lagi. Aku lirik ke arah pojok kanan kamar belakang di mana tempat makhluk Abdul Rosit, Imam Efendi dan M. Fauzi, mengaparkan tubuh mungilnya. Tiba-tiba lampu padam sendiri. Hati terasa tak enak, bulu kuduk merinding seolah ada yang menariknya. Masih dalam keadaan hujan tak begitu deras ku coba untuk membuka pintu depan kontrakan kosong. Aku tengok kerumah tetangga sebelah tapi tak semua lampu padam. Dalam hati, berkata “Astaga, kok serem malam ini ya”. Gemingku. Lalu aku masuk kontrakan kosong ini, seketika aku melihat bayang-bayang hitam berjalan menuju ke arahku. Aku mundur, mundur selangkah dua langkah dan lalu maju setapak kaki. “Om, lagi ada kepentingan apa ya”. Tanyaku ke pria tadi.

Rambutnya panjang, bajunya tak berwarna (entah tak kelihatan jelas). Matanya merona, seakan meneteskan api air mata.

“Kok diam om”. Sapaku lagi.
Aku ambil korek api dan aku nyalakan korek api tadi.
“Om, mau rokok apa gak”. Tawarku pada laki-laki tadi.
“Oh, diam lagi, gak rokok om”. Imbuhku nada bertanya.
Menendang hati, saat ku lihat pria tak aku kenal tadi tiba-tiba menghilang entah kemana. Badanku gemetar, panas dan dingin. Keringatpun berceceran keluar tanpa alasan. Nafasku , berhembus kencang, antara rasa takut, marah dan lain sebagainya bercampur menjadi satu. Badan ku lemas, aku bersandar di pojok belakang pintu belakang.
“Dok, dok, dok”. Bunyi ketukan pintu dari arah belakang ku.
“Siapa”? . sapa ku dengan nada sok berani.
“Siapa, jangan macam-macam sama aku, aku bukan penakut”. Gertak ku dengan keadaan badan gemetar.
“Brengsek…………!!!”. Umpatku sambil menendang pintu belakang kontrakan kosong itu.
Akhirnya kaki aku langkahkan menuju kearah pojok dinding kontrakan kosong. Aku ambil sebuah sapu yang biasanya di gunakan membersihkan emperan kontrakan oleh Suhamdani. Bunyi ketukan pintu “dok, dok, dok” tadi tak terdengar lagi. Sepi, sunyi bagaikan mimpi. Di iringi suara air hujan menyapa genting di atas kontrakan kosong tadi. Lalu aku masuk kamar, ku tutup rapat-rapat pintu kamar namun tanpa aku kunci (kuncinya gak ada). Aku mainkan gitar, dan bernyanyi.
“Tok, tok tok”. Terdengar ketukan pintu kamar kontrakan kosong. Aku ambil meja kecil di kamar kontrakan kosong, lalu ku pikul di bahu.
“Siapa di luar, kamu Sed, Dani  apa Imam”. Sapa ku
“Klis, Muklis kamu cong”. Imbuhku sambil memanggul meja kecil kamar kontrakan kosong.
Tak ada suara yang menyahut. Sepi dan lagi-lagi sunyi lagi. Kemudian aku dengan perlahan membuka pintu kamar kosong itu, pelan…… pelan… dan pelan. Tak ada orang, kucingpun tak ada. Badan bertambah gemetar, keringatpun tak kalah deras berjatuhan dengan hujan yang tak begitu deras. Hatipun bergeming “Astaga, ini bukan main-main rupanya, apa ini yang namanya di kerjain hantu”. Astaga, aku lalu keluar, dengan langkah kaki yang begitu cepat. Sesampai di luar pintu kontrakan kosong, tiba-tiba aku teringat sebuah buku yang sedang ketinggalan. Aku beranikan diri memasuki kontrakan kosong lagi. Masih dalam keadaan badan gemetar, pelan…..pelan… dan pelan, langkah kakiku berjalan. Keadaan lampu yang mati, suasana kontrakan gelap sekali. Aku berinisiatif untuk menyalakan korek api. Lalu ku rogoh korek di kantong celana sebelah kiri dan tak berpikir panjang ku nyalakan korek api tersebut.
“Sialan…. Korek sialan”. Dengan nada marah karena korek tak mau di ajak kompromi.
Lalu ku lempar korek api tadi, kea rah dinding bercat puti kusam kontrakan kosong. meskipun dalam keadaan petang, dan badan yang tambah gemetar tak lantas aku mengurungkan niatan mengambil sebuah buku. Aku masuk kamar, dalam keadaan gelap. Senyup-senyup mata memandang seseorang berbadan besar berbaring di kamar kontrakan kosong. Rambutnya panjang, sekali lagi rambutnya panjang.
Aku lari, lari dan lari. Saat aku lari, aku terjatuh, kepala terbentur pintu depan kamar kontrakan kosong. Pintu kontrakan yang dalam keadaan tertutup lalu sengaja aku buka. Sialan, tak bisa di buka. Badanku tertelungkup meratapi kepala yang sakit akibat terbentur pintu kontrakan kosong. Saat pandangan keatas, tiba-tiba sosok (entah makhluk apa) posturnya tinggi, badannya besar rambutnya panjang, berada di tepat arah kepalaku. Aku mencoba menerobos lewat bawah tapi sangat sulit. Sulit sekali.
“Tolong, tolong tolong”. Teriak ku saat itu. karena dalam keadaan sepi suara ku tak di dengar oleh manusia di sikitar. Seakan-akan kanan, kiri, depan dan belakang tak berpenghuni. Teriakan aku perkeras.
“Tolong, tolong tolong”. Lagi teriak ku. Tak ada yang mendengar, hanya rintihan air hujan yang menemani. Sepi, sunyi di kontrakan kosong bagaikan tak berpenghuni.
Astaga. Aku lupa belum cuci baju pagi in.

Jember 02 November 2010.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s