Gumam di warung kopi.


Apa jadinya ya, ketika saya mengikuti ujian nanti dan soalnya masih saja seputar menghafal dan mengulang. Tak habis pikir saya, di kerjakan ini gimana tak di kerjakan ini kayak gimana begitu”. Rasa ku di malam itu.

Sebelum menulis, saya masih ingat dengan tulisan saya beberapa waktu yang lalu. Saat saya menuliskan sedikit –ya katakanlah gumam saya–. Perihal agenda sakral kampus yang mengadakan kegiatan macam ujian. Dalam ingatan saya, yang masih tersisa sekitar tiga bulan yang lalu, ketika saya memasuki ruang yang namanya ruang kuliah hanya karena harus mengerjakan soal-soal dari sang petuah dosen. Pun saya masih ingat, ketika saya di tuntut untuk mengulang dan menghafal –katakan saja ayat-ayat—, dari dan masih seputar akademika yang namanya fakultas. Dan masih tak lupa, ketika saya keluar dengan membawa selembar kertas dan pena, lalu duduk manis (tempat di rahasiakan), membuat karangan cerita bualan saya. Oh, biarlah saya terlanjur di sebut dengan “situkang nyocros”, oleh beberapa makhluk yang tak tau diri di kontrakan sana. Tapi saya yakin makhluk-makhluk tersebut masih punya akal budi pekerti yang baik.

                Dewasa ini, dalam ranah kepemimpinan kampus saya mengalami perubahan dari segi pemimpin, mulai dari rektor (pimpinan universitas) dan sampai ke presiden mahasiswa.  Semoga saja, mereka-mereka di restui oleh sang maha pencipta. Lain dari pada itu, ada hal yang berbeda. Perbedaan itu ada pada pintu masuk kampus saya. Dulu, dulu sekali, tak ada ritual penyerahan tanda kepemilikan kendaraan kepada petugas. Sekarang itu terjadi. Okelah, itu hal yang baik saya rasa. Mengingat, sebelumnya terlampau banyak korban kehilangan kendaraan. Dan saya harap, itu tak isidental saja. Toh, kita harus mengiyakan kata pepatah yang berbunyi “hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama”. Betapa tidak, sangat bobrok jika kendaraan hilang sesering mungkin, dengan dasaran kelalaian keamanan. Hidup kampusku. Mari kita teriakkan kata “Merdeka”.

                Oh kampusku. Jantungmu tak berdenyut. Konon, banyak sesepuh bilang bahwa perpustakaan yang ada di kampus merupakan jantung dari kampus tersebut. Tapi, kok kayaknya gimana dengan perpus yang ada di kampusku. Tak melihat barometer ruangan –yang memang kecil–, tapi sudahlah yang saya lihat adalah apa yang ada di dalam gedung tak bertuan itu. Kamis, 27/01/11 kemarin, saya sempatkan bertolak ke kampus.  Pertama bertujuan untuk menunaikan hiburan sore yang namanya futsal. Sebelum permainan di mulai, saya sempat melihat perpus yang dengan keadaan  pintu tertutup. Entah, ada apa dengan pintu perpus. Masih, terpintas dalam ingatan saya, ketika itu saya masuk hendak meminjam buku perpus. Astaga, bukunya –ya tak cukup banyaklah–, tapi ya ada. Yang membuat saya geli adalah ketika buku-buku di atas rak tak tertata dengan rapi. Yang membuat saya muak adalah, buku yang saya idolakan “Tan Malaka”, tak saya jumpai di sana. Entah, mata saya yang bermasalah, apa system perpus yang ada masalah. Beeh, malah tumpukan kertas terbendel macam “skripsi” yang banyak. Semua menjadi ranum bagi saya. Lalu apa yang terjadi, kaum (sebut saja mahasiswa/i) lebih heboh nyangkruk sambil gosip, dari pada melangkah ke perpus.

                Coba kita berfikir, seandainya perpus tersebut mempuni untuk di jadikan tempat kaum (mahasiswa/i) belajar, mengasah diri dengan budaya membaca lebih-lebih berdikusi, wah lain dari pada yang lain ceritanya. Hemat penglihatan saya, banyaknya mahasiswa/i yang berkunjung ke perpus adalah, mahasiswa/i yang sedang mencari buku tuntunan skripsi, dan saya amini itu langkah dari tuntutan dari pihak. Bagaimana cara merubah agar kedepan lebih baik. Harus ada yang memulai, siapa yang memulai kita, dalam artian semua pihak ikut serta di libatkan. Jangankan berdiskusi, saya yang kemarin mengajukan surat keputusan (S.K), saja di perbelit. Mungkin, juga kita bisa bercermin pada acara dialok terbuka beberapa bulan kemarin. Yang ada sangkaan miring, yang inilah, yang itulah. Toh, kapan kita akan maju, jika mau bergerak saja di pagari. Di lain sisi, mereka boleh ragu, tapi inilah kami, bukan mahasiswa/i jika kami selalu mengangguk dengan kaum “ngakunya” atasan kaum.

                Di warung kopi pojok ini saya merasakan. Kopi itu cinta, cinta yang tertuang di dalam gelas. Rasa manisnya itu menggoda, dan rasa pahitnya itu rasa kerinduan. Dan saya berfikir. Akan membuka kedai kopi, di mana beberapa tumpukan buku dan kebutuhan yang lainnya itu sudah tersedia. He he he.

                Jember 29 Januari 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s