Mahrus Sholih, Seseorang Yang Selalu Resah Itu.


Namanya Mahrus Sholih. Mahrus,begitulah ia sering di sapa di kalangan sekitarnya. Pekerja keras, tanggung jawab berjiwa bijaksana dan masih juga banyak yang lainnya, tak dapat di pisahkan dari orang satu ini. Entah peristiwa buruk apa yang memperkenalkan saya dengan dia. Barangkali sudah takdir, takdir sebuah pertemuan. Kalau boleh jujur, Mahrus pulalah yang menyeret saya untuk tetap melanjutkan pendidikan selepas keluar dari SMA beberapa tahun silam. Padahal, saya memang tak becus untuk duduk nyaman di bangku ruangan kelas itu. Barangkali saya dilahirkan untuk tak akan pernah damai dari segala hal macam berbasis kurikulum.

Mahrus Sholih saya kenal seorang sahabat yang baik. Humor dan kadang juga horor. Siapa yang tak kenal namanya di kalangan mahasiswa yang selalu resah terhadap lingkukngannya itu. Dari keresahan pulalah suatu perubahan akan muncul. Mahrus juga kadang hadir sebagai seorang inspirator, bak Mario Teguh yang ngoceh di layar kaca televisi. Sabda-sabdanya membuat orang yang berada di dekatnya terperanga sambil mulut sedikit menganga. Saya juga begitu, dulu gara-gara dia saya memasuki dunia kampus yang pengap ini.

Terlalu bodoh jika seseorang menyebut Mahrus adalah aktifis kampus. Bagi saya Mahrus seorang pejuang, pejuang yang enggan mengibarkan bendera lalu di tembak mati di tempat. Pada kedua bola matanya, saya lihat ada sesuatu yang ia cemaskan. Pada gerak langkah dan getaran tangannya ada hal yang harus ia lakukan. Sudah barang tentu bukan seperti superhero yang bergelantungan menyelamatkan orang-orang yang tertindas.

Pada tanggal 14 Juli 2011 kemarin, selisih 3 hari sebelum hari dan tanggal kelahiran saya, Mahrus tertimpa musibah. Ia di nyatakan lulus ujian dan harus keluar dari kampus sebagai mahasiswa hukum,

dengan status Sarjana muda. Saya kecewa pada waktu itu saya tak berada di sampingnya. Padahal, jauh hari sebelumnya saya bercita-cita saat dia ujian saya dapat berada di sampingnya. “Selamat, selamat mas semoga keadaan semakin membaik. Apa yang telah kau berikan tak dapat saya balas seluruhnya. Dan selalulah resah”.

Sesudah itu, saya punya cita-cita ngobrol empat mata dengan orang yang saya sebutkan di atas. Demi rampungnya catatan kelanjutan. Tunggu saja, obrolan saya.

Iklan

One response to “Mahrus Sholih, Seseorang Yang Selalu Resah Itu.

  1. ketika ku teringat dg wajah manisnya kang mahrus, msh terekam jls suara khas dan tawa penuh dukanya (hehehe sory nggeh gus boss).
    msh ingin ku dengar lagi kata-kata bijak itu, yg sering ku dengar saat ku msh berwajah lugu tanpa polesan “nek gurung ngopi n rokokan ojo adoh-adoh teko aku yo”.
    kapankah ku bisa mendapatkan suasana itu lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s