Nada di Kota Mati.


Hari itu aku sedang merasakan kesunyian yang teramat mendalam. Adapun keramaian hanya sekedar bunyi petir yang menyambar dalam awan yang cerah. Selamat datang kota Mati, pekik ku waktu itu. Kota Mati dalam riuhnya keramaian. Ponsel berbunyi disertai oleh getaran yang sengaja aku pasang.
“Sudah sampai kota Mati kah”. Bunyi sms dari ibu. “Sudah, aku sudah sampai kota tujuan”. Balasku.

Aku Nada, gadis yang masih berumur sekitar 20tahun. Merantau jauh ke sebuah tempat yang sudah barangtentu harus berpisah dengan sanak keluarga di desaku. Menimba ilmu di sebuah kampus Kaki Lima. Aku kos, di sekitar kampus. Di kota Mati ini, sungguh sepi. Hanya gedung-gedung tinggi menjulang langitlah yang banyak di jumpai. Gedung-gedung perbelanjaan yang berjejal dimana-mana. Ah, mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa di sebuah kota terletak bangunan yang serba tinggi, mewah dan sejenisnya. Sudah tentu, segala bentuk pengeluaran disini lumayan banyak.

Aku hanya kepikiran bapak, ibu dan sanak keluarga di desa. Apa mereka baik-baik saja, mudah-mudahan usaha orang tuaku dari penjualan bunga masih berjalan lancar adanya. Walaupun semua tau, hasil dari penjuialan bunga tak seberapa besar. Bapak dan ibu sangat jarang sekali bermalam dirumah, mereka berdua rela kedinginan dan terlelap di pinggir jalan raya di pasar tempat menjual bunga. Aku berbekal kemauan untuk berangkat ke kota Mati ini.

Kehidupan di kota cukup berbeda dengan kehidupan di desa. Di kota Mati ini, semua hampir di ukur dengan sehelai kertas uang. Jika di desaku sayur mayur seperti bayam, tinggal memetik di pekarangan belakang rumah, maka di kota ini harus beli. Sungguh kehidupan yang serba dengan pembelian. Belum lagi air untuk minum saja harus beli. Ah, aku harus mampu berkehidupan sederhana di kota Mati ini. Yang aku anehkan, kebanyakan masyarakat kota Mati ini menutup diri. Kadang saat aku berjalan, bertegur sapapun enggan. Tak taulah, mungkin ini hanya asumsiku saja. Remaja yang seumuran dengan ku laki atau perempuan juga berkehidupan berbeda. Mereka tak pernah keluar rumah, paling-paling keluar jika hanya ada tugas atau kepentingan tentang sekolah. Tapi ya mau gimana lagi, itukan juga kehidupan mereka. Barangkali hal tersebut sudah wajar di kalangan masyarakat kota Mati ini. Sungguh tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Kota hanya di hiasi mall-mall, gedung bertingkat. Di tempat-tempat semacam itulah orang elite banyak di jumpai. Bahkan tak luput, mereka masuk dan keluar pintu hanya sekedar membeli sepotang roti, sekantung gula maupun kopi.

Malampun secara tiba-tiba mendadak datang. Ami, teman sekampusku mengajak jalan-jalan keliling kota Mati. Ami termasuk penduduk asli kota Mati, ia paham betul lika-liku kehidupan disini. Aku dan Ami, malam itu naik taksi, seumur-umur itulah waktu pertama kali aku duduk di kursi empuk taksi. Sebenarnya aku berharap, Ami mau aku ajak berjalan kaki. Itung-itung jika jalan kaki, aku dapat paham lorong-lorong jalan yang menyempal kemana-mana itu. Malam itu bertepatan dengan malam Minggu, jalan sangat macet. Kendaraan bermesin yang hampir keluaran baru berjejeran saling menunggu antri.
“Ami, kita turun dan terus jalan kaki saja yuk”. Ajak ku kepada Ami
“Ogah ah, capek. Lagian tempat yang akan kita tuju sudah dekat kok”. Sahut Ami, sambil menuding tempat tujuan.
“Emangnya kita mau menuju kemana”.
“Mall”. Gegas Ami.

Mall pun sudah berada di depan mata, maka masuklah kami ke dalam mall tersebut. Aku belum pernah masuk ruangan yang macam ini. Saat di rumah ibu selalu mengajak aku belanja di pasar dekat rumah itu. Aku tak betah di dalam ruangan ini, dingin. Barangkali akibat pengaruh mesin A.C, yang diletakkan di setiap sudut samping dinding itu. Ketidak betahan berlanjut dengan membuntutnya pangawas ruangan itu. Mungkin wajar kalau mereka sedikit hati-hati atau curiga. Tingkah laku yang aku bawa, memang seperti serba bingung. Kebingungan. Maklum, aku pertama kali masuk ke sebuah mall.

“Ayo kita segera bergegas meninggalkan ruangan ini Am, aku tak betah, dingin sekali”. Kataku
“Sebentar lagi ya, aku masih akan mencari sabun mandi dan parfum keluaran terbaru”.

Durasi waktu memakan kira-kira satu jam kami baru keluar dari dalam ruangan itu. gila, Ami membutuhkan waktu sebegitu banyak untuk sekedar memilih barang-barang yang ia inginkan tadi. Di toko sebelah kosan ku kan banyak. Mungkin demi gengsi, demi gengsi. Ya, gengsi itu. jangan-jangan dengan naiknya taksi tadi juga serupa. Ah, aku ini terlalu berpikir yang tidak-tidak.

Sebulan telah berlalu, aku sangat rindu dengan segala hal tanah kelahiran. Kangen dengan sanak keluarga dan para tetangga. Berkumpul, berbincang-bincang. Yang selama aku berada di kota Mati ini hampir tak dapat aku alami. Orang-orang di kota Mati pagi berangkat, malam datang lalu istirahat. Karena terlampau rasa rindu yang tak dapat di bendung, pada hari itu pula aku sengaja menelphon keluarga di rumah. Syukurlah, keluarga dirumah baik-baik saja.

Malampun sudah berganti pagi. Aku sengaja bangun pagi. Aku punya sebuah cita-cita yaitu jalan-jalan di pagi hari. Aku pun jalan-jalan menelusuri lorang-lorong jalan di sebagian kota Mati itu. tentu saja, di jalan berpapasan dengan orang-orang yang akan beranjak menuju aktifitas sehari-hari.

Pagi itu datang kabut, dan dingin pula. Gedung-gedung tinggi menjulang langit itu terlihat masih sepi. Barangkali ia juga merasakan pekatnya hawa dingin di pagi hari ini. Hinggga tak sudi membuka bibir pintu sedikitpun. Terlihat pula orang-orang yang baru beranjak dari tidur malamnya. Mereka terlelap di samping ruko-ruko, dan di bawah trotoar gedung menjulang langit itu. Entahlah apa memang mereka tak punya tempat singgah, apa sengaja memang bersinggah di tempat itu. pikiranku melayang kemana-mana pada waktu pagi itu. dari yang mengkhayal ingin merubah gedung-gedung menjulang langit itu menjadi tempat-tempat buku. Oh, itu hanya khayalku pagi itu. Tapi dalam keadaan sadar aku berpikir. Akan bagus juga jika suatu saat aku dapat membuat sebuah tempat buku di kota Mati ini. Tak apalah, meskipun masyarakat kota Mati banyak terdapat buta aksara.

Kehidupan di kota Mati ini memang cukup ganas. Ditempat ini pula para penjamah transaksi banyak di jumpai. Sikap individualis dan apatis selalu saja di pupuk subur di tanah yang gersang. Barangkali hal semacam itu terlanjur gemar di lakukan, bahkan di abadikan. Tempat dimana uang datang dan pergi tanpa permisi. Lingkungan yang sering pula di jumpai antar tetangga sedinding sudah tak saling menyapa. Yang tak berpunya dalam banyak hal termarjinalkan, yang serba punya di agung-agungkan bak malaikat yang secara tiba-tiba hadir di hadapan mata. Sering tak apat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Siapa yang budak kehidupan?

Sudah hampir satu tahun aku berada di kota Mati ini. Nada, itu namaku. Yang terlampau rindu dengan segala macam tanah kelahiran. Di kota Mati ini jua, banyak hal pengalaman di ketemukan dalam kehidupanku, nasib baik dan buruk saling silang di petakan. Ya, namaku Nada, di kota Mati.

11 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s