Tragedi Sepotong Malam, dan Secangkir Kopi Pahit.


Malam yang galau. Aku mencoba menelentangkan tubuh ini pada sehelai tikar. Malam itu sangat dingin sekali, rintik air hujan membasahi bumi.
Adakah secangkir kopi pahit malam ini. bisikku pada salah satu teman di sebelahku.
Ah, begitu susahnya menjadi pengangguran terdidik, hidup di kota yang sangat ketat persaingan dalam segi apapun.

Masak aku harus mati malam ini juga. Kata Delhorno

Aku hanya bisa tersenyum, tak kuat lagi jika ingin ngomel-ngomel. Bagi pejalanjauh, hidup bukan lagi persoalan makan, pada saat ini juga aku sedang sekarat, hampir mati bahkan. Sebatang rokok pun tak ada, hanya tersedia camilan krupuk sisa sarapan tadi pagi.

“Elmo, suatu saat kita jadi apa ya?’’. Delhorno bertanya.
Jika aku boleh memilih, aku akan sekuat tenaga bertahan menjadi diri sendiri, bukankah menjadi diri sendiri itu hebat, menjadi pembual sekalipun. Ah, tak taulah No, kita hanya serpihan kecil dari yang terkecil yang masih bertahan dengan sisa-sisa nafas. Oceh Elmo, begadang.
Malam tanpa bintang itu sangat menyiksa, secangkir kopi pahit pun tak ada malam ini. Tapi kami beruntung, dapat bertahan di tengah kepalsuan hidup ini. Coba lihat orang yang berbaju jas dan berdasi itu, dia hidupnya penuh dengan kebahagiaan, tapi sesungguhnya semua itu palsu. Sungguh palsu. Bukankah kebahagiaan sejatinya itu palsu. Apakah mereka tak pernah gelisah?.

“aku terima kok No, hidup kayak gini. Toh, aku gak terjerumus dalam berisiknya system itu”. Elmo berkata.
Ah, dasar kau memang keras kepala Mo, hidup menyiksa diri. Sok idealis. Tapi aku sepakat dengan katamu tadi Mo, kita beruntung meskipun hidup buntung tapi tak terjerumus dalam kepalsuan itu.

Banyak yang berbondong-bondong mengikuti alur yang serba bebas ini. Sampai-sampai tak jelas, mereka terlampau asyik bersenang-senang dengan kebebasan. Kawan seperjuangan tempo dulu, sekarang sudah meloncat pagar kemapanan. Jelas, dia berpikir bagaimana isi perut, dan basahnya mulut.

Oh. Malam ini hanya tinggal kita berdua, bagaimana kalau kita pejamkan mata saja. Menanti esok akan datang lagi, meskipun masih dalam keadaan hidup pahit. Elmo bercakap.

Pada sepotong malam ini kita mengalami kesunyian nasib. Nasib yang sudah bersama-sama disepakati sebagai nasib sendiri. Pada malam itu pula, jalan sudah sangat sulit di tapaki kaki. Tapi kami berdua bahagia, damai dalam keadaan sunyi.
“Mo, tubuhku gemetar. Aku tak kuat lagi”. Sahut Delhorno.

Tabah No, tabah. Kita mati, biarkan kesunyian yang menjadi saksi. Bukankah lebih baik kita petakan nasib sendiri, dari pada berserah diri pada korporasi tengik itu. Ucap Elmo, sambil menatap mata Delhorno.

06 Juli 2011

#fiksimini

Iklan

2 responses to “Tragedi Sepotong Malam, dan Secangkir Kopi Pahit.

  1. Untungla cuma fiksi… 😀

  2. memangnya kalau gak fiksi kenapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s