Mengigau di Tengah Kota


Malam itu saya tak sedang bermimpi. Entah dorongan apa yang membuat saya berani datang kembali pada sebuah keramaian. Seorang teman yang mengajak saya datang ke alun-alun kota Jember. Tentu waktu malam itu saya masih mengenakan baju lusuh, yang sudah beberapa hari gagal saya cuci. Sesampai dilokasi saya merasa asing. Mata menerawang bagaikan burung malam kesiangan yang penuh ketakutan. Barangkali hal serupa (asing) juga dirasakan oleh beberapa orang yang sengaja menyaksikan saya dari jarak dekat maupun dari kejauhan. Dengan bekal yang seadanya, saya pun harus diam dan menahan keinginan dari segala bentuk camilan dan minuman. Air ludahlah yang ada, itupun hampir dehidrasi.

Tak lama kemudian saya mencoba mencari tempat duduk yang sekiranya membuat saya nyaman. Mondar-mandir kebingungan, dimana-mana suasana teramat bising sekali. karena tak ada pilihan, sayapun terpaksa duduk di trotoar pinggir bibir alun-alun. Tempat tersebutlah yang sekiranya dapat saya pergunakan untuk menaruh tubuh kurus ini. Duduklah saya di pinggir trotoar tersebut. Saya masih kebingungan, sangat bingung, bahkan ketakutan. Sangat takut. Mata ini menatap pada riuhnya para manusia yang sedang mondar-mandir, entah mereka mencari apa. Tak jelas, sama tak jelasnya dengan saya. Barangkali saya tersesat, pada sebuah peradaban yang saya akui belum saya pahami. Dimana para orang-orang berkumpul ramai, berakhir pekan mendatangi sebuah bundaran yang terletak di pusat kota. Mondar-mandir, bersenang-senang menghabiskan malam, atas nama hari dan malam sebuah akhir pekan yang di sakralkan. Sungguh saya tak paham, dimana orang-orang sibuk menertawakan malam, bersenang-senang dan sejenisnya itu.

Mata pun lelah, saya keluarkan sebuah buku dari tas yang kemana saja saya peluk. Jelas, saya barangkali terditeksi sebagai mahkluk asing yang jatuh tepat pada pusat keramain kota. Dimana para anak-anak muda sibuk memoles busana dan peformennya, dimana tempat tersebut jauh dari segala hal macam budaya buku, pena dan sejenisnya pula. Ah, apa saya memang benar-benar tersesat pada sebuah peradaban?. Di tempat ini, saya kira orang-orang seolah tak punya sebuah pilihan lagi. Akhir pekan, harus di isi dengan berkunjung ke sebuah tempat keramaian. Semua generasi bertumpah ruah di sini, orang tua, sampai yang si kecil pula.

Di tengah hingar bingarnya suasana, saya berharap ada seorang pedagang kopi keliling. Berharap kopilah yang bisa sedikit menenangkan keadaan, walau sekejap saja.
“kopi pak”. Saya memanggil pedagang kopi keliling tersebut. Dalam hati kecil saya selalu bertanya-tanya, apa ini yang dinamai dengan zaman miskin realitas. Dimana orang-orang lebih asyik dengan dirinya sendiri, tanpa peduli pada sekitarnya. Ah, semoga saja saya hanya mengigau malam ini.

Di lain sisi, saya teringat peristiwa Siami, seorang wanita yang ingin berkata jujur tapi harus di caci maki, dan di usir dari tempat tinggalnya. Saya pun tak habis pikir, kenapa harus terjadi kebencian di negeri ini. Di saat kejujuran dibalas dengan cacian.

Tak dapat diganggu gugat. Pada masyarakat perkotaanlah tercermin kehidupan individualis dan apatis. Yang miskin termarginalkan, yang kaya tak mau tau. Dikemanakan istilah yang sudah di sandang manusia sebagai makhluk sosial?

Hari-hari ini saya memang merasa agak sedikit mual. Mual saat tempat terasa terlampau sesak oleh kebisingan. Maka saya tak ragu, jika warung kopi ibu belakang Gor lah yang masih nyaman saya singggahi.

02 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s