Monthly Archives: Juli 2011

Nak, Pulanglah Ke Rumah Pada Ramadhan Tahun Ini.


“Nak, pulanglah kerumah pada Ramadhan nanti”. Bunyi sms itu
“InsyaAllah Bu, saya akan pulang pada awal puasa nanti”.
“Nenek kangen , apa kamu juga enggak kangen”. Balas sms tadi. 
“Iya saya juga rindu”.
            Sudah ramadhan. Ramadhan datang kembali. Sms itu dari ibu di rumah beberapa hari sebelum ramadhan tiba. Ibu berharap saya akan berdiam di rumah saat ramadhan tahun ini. Setidaknya jika memang saya gak mau, awal puasa saya dapat pulang kerumah. Mengingat pada saat bulan ramadhan musim kemarin saya tak berada di rumah. Bahkan saat akhir ramadhan, atau lebih tepatnya hari raya saya tak pulang, anak yang tak tau diri. Barangkali begitu.
            Kali ini ramadhan jatuh pada tanggal 1 Agusutus. Tepat dimana selisih 19 hari sesudah tanggal kelahiran saya. Sebelum itu, saya pun menjalankan nasehat ibu yang ingin anaknya pulang kerumah saat ramadhan tiba. Awal sahur pun saya di rumah. Berkumpul bersama keluarga. Keluarga dan tetangga pun heran melihat tubuh kurus kering melimping ini. Bahkan saya di vonis sebagai pemabuk berat. Astaga, padahal saya gak kepingin sama sekali semacam itu. Bukan berarti saya gak doyan, tapi memang mulut ini sudah terlanjur nyandu pada air kopi. Yang pahit, manis dan kental itu. Enggak minum itu saja saya sudah mabuk kok. 
“Kamu di sana suka gak tidur malam ya, rokok dan ngopi terus ”. Tanya ibu, sambil mengaduk secangkir kopi. Saya hanya diam, sesekali sambil tersenyum. 
“Di jogo kesehatane kui nak” (di jaga kesehatannya itu nak)”. Nasehat ibu lagi, sesekali berlogat jawa. 
“Iya Bu,”.
            Malam pun jatuh di halaman rumah dan sekitarnya. Malam yang dimana sholat taraweh di mulai untuk pertama kalinya. Surau yang tak jauh dari jarak rumah telah terdengar mengumandangkan suara adzan. Terlihat para orang-orang yang bergegas hendak akan menunaikan ibadah sholat taraweh pada malam itu.
            Di desa saya petasan sudah meredup. Dilarang meledak tepatnya. Padahal di desa ini pada sekitar empat tahun silam ada semacam ritual petasan, dimana ritual ini di adakan secara bersama-sama. Entah pada saat ini pesta yang hampir menjadi budaya itu telah di tiadakan. 
            Malam semakin larut. Terdengar sayup-sayup suara seorang yang sedang tadarus. Dimana suara itu mengingatkan saya pada saat empat tahun silam. Saat itu saya masih gemar datang ke surau dan tadarus sampai dini hari. Tapi kali ini empat tahun silam sudah tak ada lagi, sejak saya hijrah di perantauan jauh di sana saya sudah jarang berkunjung ke surau itu. Bahkan menginjakkan kaki ke halaman pun tak pernah. Ini mungkin salah satu ciri orang yang biadab. 
            Di desa ini saya sempat terlahirkan. Dengan telanjang tanpa secuil dosa pada waktu itu, katanya. Saya sebenarnya rindu, rindu dengan segala hal halaman rumah. Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Bapak dan ibu asli pribumi sini. Bercocok tanam itulah hasil kehidupan kami. Musim ini sedang marak layang-layang malam. Di kota perantauan tak dapat saya jumpai kreatifitas semacam ini. Saya harus katakan masyarakat kota lebih ahli dalam membeli dari pada membuat. Layang-layang malam itu sangat indah di langit pada malam hari. Lampu kelap-kelip menghiasi sekujur tubuh layang tersebut. 
            Jam dinding pun terus berputar. Tibalah waktu sahur perdana. Ibu telah menyediakan santab sahur, membuat secangkir kopi untuk saya. Saya pun mengawali ibadah puasa ini di tempat di mana saya pernah di lahirkan. 
Nb; Kadang pengalaman yang tak istimewa jika kita catat seadanya akan menjadi sangat lebih dari sekedar istimewa, atau bahkan terjadi sebaliknya. Selamat Ramadhan.

01 Agustus 2011
           
             
Iklan

Pergi


Ia berdiri tegak di bibir pintu itu. Tangannya mengepal dan matanya memerah. Barangkali ada sesuatu yang tak ia kehendaki.
                “Brengsek”. Umpatnya bebarengan dengan menendang pintu. Lelaki itu pergi begitu saja, tanpa jejak yang ia sisakan. Pagi itu tak terang, kelihatannya akan turun hujan lebat.
“Dengar kabar anak kita bu, tentu jasadnya telah mengapung di tengah lautan dermaga itu”. katanya.
“Pak, adakah yang lebih pedih dari kehilangan”.  Berbalik tanya.
“ingin sekali rasanya aku menyusulnya”. Tangisan itu tak henti, air mata mengunyah tanah hingga berlumpur. Di kursi yang di duduki, laki itu melipatkan amarah saat menanti yang telah pergi.
                “Di negeri itu. Di negeri itu” kata yang terus di ulang-ulang saat malam datang. Di kamar yang pengap mereka tak pernah usai merapalkan do’a. Di kamar kecil berdinding bambu itu pula yang pergi sempat dilahirkan. Darah dan air tangisan kebahagian pernah tumpah. Di tanah itu, bahkan, yang pergi berujar akan pulang dengan segumpal kebahagian. keberangkatan menghapus semua itu, merampas tanpa tanda sisa.
Malam itu sempat aku larang ia untuk pergi. Tapi kenapa atap genting yang bercela itu di terobosnya. Kini ia hilang, pergi tak akan kembali. Kertas surat putih yang tak lama ia layangkan, bahkan belum sempat berdebu. Bekas tinta hitam itu masih belum kering. Itukah yang terakhir kalinya?
Air tangis itu tak berhenti jatuh mengalir. Entah barangkali itu bukti serupa do’a. Untuk yang pergi kemudian tak dapat kembali.   
                Lalu pada pagi, yang menanti menitipkan kata terbata-bata. Sudahlah bu, relakan yang hilang itu pergi. Ia bagaikan senja yang tak pernah temaram.

Dua Ribu Tujuh dan Dua Ribu Delapan


            Entah sudah seberapa lama saya tak sempat pulang ke rumah. Adapun pulang, itupun hanya satu atau dua hari. Paling lambat. Saya dilahirkan di Jember bagian selatan. Orang lebih mengenal daerah ini dengan daerah laut dan pertanian. Daerah saya memang dekat dengan pantai selatan, juga sawah teramat lebar di daerah saya. Sejak sekitar lima tahun yang lalu, saya berniatan hijrah ke kota Jember. Sejak itu masih kelas 2 SMA, tahun 2007 silam. Pada waktu itu pulalah saya untuk pertama kalinya hidup jauh dari kedua orang tua. Meskipun kerap mudik ke kampung halaman. 
            Saya hijrah ke kota Jember saat duduk dibangku kelas 2 SMA, awal mulanya saya kos di salah satu rumah warga di Kaliwates Jember. Jarak antar rumah dan kota Jember lumayan jauh. Kira-kira harus ditempuh dengan durasi waktu 1 jam. Sore itu bapak yang mengantar saya ke kosan dari rumah. Begitu sedihnya saat bapak berpamitan untuk kembali ke rumah. Dalam hati tak dapat saya tahan, bagaimana untuk pertama kalinya harus jauh dari kehidupan orang tua. Waktu itu saya membuntuti bapak dari belakang karena hendak menghantarnya ke jalan raya. Sungguh sedih pada waktu itu, saat tahun masih 2007. Cita-cita saya hengkang ke kota Jember sesungguhnya ingin menjadi pemain sepakbola. Di desa tak dapat banyak berkembang. Saya pun ikut sebuah SSB (sekolah sepak bola) yang ada di sekitar kota Jember. 
            Di kosan saya tak pernah betah. Pagi sekolah, pulang sekolah keliling-keliling. Maklum pada waktu itu saya tak banyak kenalan, bahkan tak ada yang kenal sama sekali. Hanya warung dan tempat ibadahlah saya kerap kali singgah. Kebetulan tak jauh dari kosan terdapat sebuah masjid, disitulah saya kerap melaksanakan ibadah dan sekedar melepas kesepian. Diwarung-warung kopi saya mencari tempat dimana seorang kawan bisa saya ajak untuk sekedar bercakap-cakap. Saat tahun 2007 lalu, saya bagaikan orang yang terbuang dan terdampar disebuah tempat yang begitu asing. Untuk mengusir rasa sunyi saya punya tujuan untuk membeli radio, itung-itung ada yang didengarkan. Tiga atau paling lama empat hari saya selalu pulang ke rumah. Tak betah, di kosan hanya saya sendiri, pemilik kosanpun sudah tua, malah jarang terlihat.
            Sekitar tiga bulan usai saya berniat untuk berhenti berlangganan kos. Waktu itu musim hujan, dalam keadaan yang dingin saya berpamitan pada ibu kos dan minta izin bahwa saya sudah berhenti kos. Sesudah itu untuk urusan sekolah saya harus pulang pergi meski tak setiap hari. Kebetulan tempat dimana saya sekolah terletak di dalam kampus (perguruan tinggi). Malah dari kehidupan mahasiswalah saya mendapat banyak kenalan. Tak jarang, saya nginap di sebuah ruangan bersama mahasiswa yang saya kenal.
            Tahun 2008 telah tiba. Saya pun sudah menaiki kelas 3 SMA. Saya tidak kos ataupun tak pulang pergi lagi. Saya ngontrak di daerah tempat dimana saya sekolah. Banyak pengalaman setelah saya tinggal di kota Jember ini. awal-awal yang keseringan pulang kampung, tapi saat itu sudah tidak. Malah, tak betahlah yang ada di rumah. Saat semasa kelas tiga, waktu lebih saya gunakan untuk sekedar jalan-jalan, untuk memahami lebih jauh kehidupan kota. Saat itu pula saya ketagihan keramaian. Dimana ada keramaian hampir pasti saya kunjungi. 
            Saat itu tepat pada bulan Agustus 2008. Jember melakukan ritual kegiatan, orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan singkat BBJ (Bulan Berkunjung Jember). Hajat kota Jember yang sekaligus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia ini terdapat banyak acara. Mulai dari musik, olahraga dan sebagainya. Di alun-alun kota Jember tak pernah sepi dari keramain hampir setiap pagi hingga malam hari. Yang tak dapat saya simpulkan ialah betapa girangnya kehidupan anak desa yang mencoba memasuki kota, pada saat itu. 
            Hari-haripun terus menerus berganti dan berputar-putar. Semakin banyaklah teman akrab yang saya dapat. Tak terkecuali sahabat-sahabat mahasiswa. Saya jarang pulang, bahkan jarang satu minggu kembali ke halaman rumah. Ibu dan bapak sesungguhnya sangat was-was, karena saya tak berada di sampingnya. Namun, keluarga sudah percaya bahwa saya tak akan kenapa-kenapa. 
            Itulah tahun 2007 dan 2008. Tahun sejarah bagaimana saya terdampar dan hidup tegak sampai tahun berikutnya. Rasa asam dan manis seperti acapkali menghampiri pada setiap kehidupan yang terlanjur hidup ini. 
            Radio pun saya putar kembali terdengar saat Iwan fals melantunkan lagu “Galang Rambu Anarki”. Pada malam itu, saat menati hari esok datang kembali.

Kretek


            “Kretek itu tidak ada di AS, tidak ada di Eropa, atau negeri-negeri lain. Hanya ada di sini, khas Indonesia.”
(Mark Hanusz, penulis buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia·s Clove Cigarettes).
Dunia tak butuh perokok, tapi dunia membutuhkan pengkretek. Hal yang banyak ditemui ialah banyaknya salah paham antara rokok dan kretek. Kebanyakan orang berpendapat bahwa rokok yang bernama kretek tidak bergabus atau apalah orang banyak menyebutnya. Tak dapat di ganggugugat kretek merupakan ciri khas dari bangsa Indonesia. Nah, dari sisi ini pulalah kita dapat membedakan apa itu kretek apa itu yang hanya sekedar rokok. Kretek khas bangsa Indonesia. Tak ada rokok di dunia mana pun yang melibatkan cengkeh terkecuali kretek. Setidaknya itu. 
Kretek memiliki sejarah panjang dalam tubuh bangsa Indonesia. Saya harus mengaku, larangan merokok cukup mencekik leher pengkretek. Seharusnya larangan untuk merokok tak harus digubris. Indonesia –sekali lagi saya katakan- merupakan bangsa yang tak bisa di pisahkan dari sejarah kebudayaan kretek. Entah kapan saya di perkenalkan dengan kretek. Saya pun merupakan seorang perokok aktif, bahkan sejak duduk di bangku kelas dasar saya sudah mengenal khas budaya bangsa Indonesia tersebut. Sejarah kretek sejauh ini dikenal diketemukan oleh Haji Djamari sekitar abad ke 19 lalu. Apa yang dikatakan oleh Mark Hanusz dalam bukunya “The Culture and heritage of Indonesia-s Clove Cigarettes”, membenarkan bahwa kretek lahir dalam diri kebudayaan bangsa Indonesia. Budaya asli. 
Mark Hanusz dalam bukunya juga menyebutkan pula bahwa kretek bukan rokok dan bukan pula crutu. Barangkali saya lebih tepat menyebutkan kretek ialah ciri khas dan budaya bangsa Indonesia. Jika kretek disinyalir dapat mengganggu kesehatan oleh kebanyakan ahli medis, tapi kenapa mereka lupa pula dalam memperhatikan makanan, minuman yang di datangkan dari luar Indonesia. Bahkan, saya tak dapat temui penelitian bahwa rokok kretek mengganggu kesehatan hidup. Barangkali saya salah satu orang yang sepakat bahwa kretek adalah kebudayaan kultur yang dimiliki segenap bangsa Indonesia. Pemaknaan haram rokok diplintirkan, karena kebudayaanlah yang haram untuk dicampuri tangan Negara atau sejenisnya.

Bola


            Jelas sedikit yang menduga, bahwa timnas sepakbola Indonesia mampu lolos ke babak kualifikasi piala dunia 2014. Di saat persiapan tim mepet belum lagi persoalan PSSI yang baru saja rehat dari segala macam perselisihan para atasan elite. Stadion gelora Bung Karno menjadi saksi, saksi mata dimana pada 28 Juli 2011 ini, timnas berhasil menekuk Turkmenistan dan sekaligus lolos ke babak selanjutnya. Yaitu babak kualifikasi piala Dunia 2014 zona AFC.  
            Di lain waktu saat setelah pada leg pertama timnas mampu menahan imbang 1-1 di kandang Turkmenistan beberapa waktu lalu, Firman dkk sukses menenggelamkan Turkmenistan dengan sokre 4-3 di gelora Bung Karno. Praktis hal ini membuat aggregate goal menjadi 5-4, sekaligus meloloskan Indonesia ke babak fase selanjutnya. Yang sudah barangtentu babak tersebut sangatlah berat. Dalam persiapan yang hanya lebih kurang 14 hari –pasca Riedl di pecat PSSI- ini hal yang cukup memuaskan masyarakat Indonesia. Wim yang di dapuk menggantikan Riedl tak banyak pilihan dalam menghadapi pertandingan melawan Turkmenistan. Ini barangkali di sebabkan persiapan yang –sekali lagi- sangat mepet. 
            Siapa yang tak gemetar saat menyaksikan timnas Indonesia berlaga. Di samping was-was nama baik bangsa harus tetap di junjung tinggi. Sebobrok apapun Negara ini, disinilah kita pernah dilahirkan. Jangankan kalah, mundur sejengkal pun barangkali pantang. Biarlah saya bicara di kejauhan –sejauh sekedar melihat dari layar kacara televisi-. 
            Lagu kebangsaan itu berkumandang kembali. Penuh semangat dan rasa nasionalisme seakan menggelora di stadion Bung Karno malam itu. Lantas kebayang pada akhir tahun lalu saat timnas Indonesia gagal menjadi juara piala AFF 2010 untuk kali yang pertamanya. Pada era Nurdin si kuasa tak tau diri itu. Siapa yang tak gerah melihat tingkah penguasa yang bercita-cita membawa sepakbola tanah air ke ranah kepentingan politik golongan. Sudahlah, bukankah era Nurdin sudah terkubur? Terkubur bersama kebusukannya.
            Pada babak baru era kepengurusan PSSI, timnas menampilkan permainan terbaik. Tak lupa dan yang harus kita ingat, tim ini bentukan Alfert Riedl. Pria asal Austria itu mampu merubah gaya permainan sepakbola Indonesia. Tapi sayang, Ridl harus dengan terpaksa tak lagi menjadi bagian dari tim dengan alasan yang tak cukup jelas. Barangkali ulah politik, atau yang lain. Entahlah. Setidaknya timnas mampu bangkit dari keterpurukan beberapa tahun belakangan ini.
            Adalah Ahmad Bustomi, gelandang penyeimbang itu. Akselerasi yang memukau membuat permainan timnas menjadi padu. Alur bola dari lini belakang ke tengah dan ke depan selaras saling bahu membahu. Saling bertanggungjawab atas posisinya masing-masing, hal yang sangat jarang kita temui di wakil-wakil kita yang duduk di gedung tinggi di singgahsana. Barangkali, jungkirbalik ditanah yang tak empuk harus di tiru, bukan duduk dan menduduki dengan segala macam yang empuk. Apakah kita tak lihat, bagaimana Gonzales dengan berlari mengejar bola sampai ter-engoh-engoh. Itu demi bangsa, bangsa yang sejatinya bukan tanah kelahirannya. Mengingat Gonzales ialah pemain hasil naturalisasi. Tapi disini saya tak melihat asal muasal dia pemain dari mana, kerja keras dan tau tanggunggungjawablah yang sekiranya perlu untuk kita contoh. 
            Subtansinya sama, pemain timnas adalah wakil bangsa. Tepatnya  mewakili rakyat. Perban dikepala yang didapat oleh M.Nasuha pada leg pertama setidaknya membuktikan, bagaimana para pemain timnas mempunyai ketulusan dalam membela bangsanya. Atau kita dapat belajar dari pengorbanan Fery Rotinsulu yang rela berjibaku dan menahan sakit akibat berbenturan dengan lawan saat berusaha mengamankan gawangnya. 
            Membangun sebuah tim yang handal bukan perkara mudah. Kepaduan, ketekunan dan ketulusan ikut andil dalam setiap lini diluar maupun di dalam pertandingan. Setidaknya kita sudi belajar dari mereka-mereka. Dari keberkorbanan, dan tentu bukan hanya dari sekedar membangun politik dan retorika yang LEBAY.

ganjil


Terasa ada hal yang ganjil pagi hari ini. Selain saya lupa menyeduh kopi dan tak pejamkan mata pula. Duh, apa sih yang saya rasakan ini. pernahkah anda mengalaminya?. Saat dimana ada yang agak ganjil di pagi hari anda. Jelas saya tak ada maksud untuk mengingatkan “mungkin belum lempar kata-kata di facebook, atau suit-suitan sama burung twitter”. Tidak, saya sudah jarang menggunakan duo akun jejaring lempar-lemparan tersebut. Barangkali keganjilan batin saya berbeda dengan prasangka batin anda. Malah, pada pagi ini saya luangkan waktu untuk membuka akun facebook saya. Oh, ramainya. Riuh. Belum lagi sangkar burung “twitter”. Tapi ogah ah, kayaknya saya tak ketiban selera kicau-kicauan pagi ini. 
Mula-mula tangan saya ingin menuliskan sebuah kata-kata lalu melemparnya ke jalan trotoar beranda teman. Tapi saya ragu, ragu dengan kata-kata saya yang cenderung -mungkin lebay-. Keganjilan itulah yang sekiranya saya rasakan. Melempar kata-kata, sejenak lalu di tengok mungkin ada yang akan membalas atau tanda jempol tahayul. Tak lama kemudian, saya menombol tanda log out pada akun facebook. Lalu yang saya rasakan ialah malah ketiban kecemasan. Ngapain juga saya malu, atau takut pada zaman kebebasan ini. Bukankah pagi ini saya menghirup udara di era kebebasan berpendapat. “Banci loe”, umpat teman saya. Tidak. Teman saya sedikit selip berpendapat. Pada keraguan dan kecemasan tadi, malah saya ketiban berkah. Setidaknya saya telah melakukan ritual panjang ngeblog pada pagi hari ini atau sekedar nge-milis. 
Pada era kebebasan berpendapat kadang kita memang memilih membungkam diri. Yang mengartikan bebas malah keblabasan berkora-koar di layar kaca televisi. Hantam sana, ngebacot sini. Dan setidaknya saya tak lupa dengan jargon “mulutmu adalah harimaumu”. Tak usah susah-susah anda bayangkan, segawat apa jargon tersebut. Terlampau bebas sehingga seseorang malah tak dapat mengartikulasikannya. Setelah berbuat lalu lari dan sembunyi di kamar yang pengap.
Pada kecemasan itu saya lebih melarikan kegelisahan saya pada aktifitas internet. Sebut saja dengan cara membuat catatan di blog saya. Karena akhir-akhir ini saya sudah meletakkan nafsu untuk mencolak-colek kan mouse komputer saya pada beranda, profil dan sejenisnya. 
Kawan yang tadinya mengejek saya dengan kata “banci loe”, mungkin sedikit selip. Logika “hantam duluan urusan belakangan” rupa-rupanya sedang menghampiri teman saya tadi. Dan mungkin ia lupa apa yang pernah dikatakan bung Sawung Jabo “pemberani sejati bukan ia yang berteriak di keramaian orang, tapi pemberani sejati ialah ia yang mampu berbisik di antara orang-orang yang diam”. Saya tak berkata bahwa saya seorang pemberani loh, tapi saya juga bukan “banci”. Kata-kata yang di lontarkan teman saya tadi. Hanya saja hari-hari ini saya lebih memilih mengasah kemampuan nyorat-nyoret. Untung kalau dengan coretan saya lalu saya di hukum untuk menggantikan Irfan Bachdim di timnas Indonesia. 
Malah kadang rasa keganjilan saya yang tak serupa muncul saat membaca kata-kata seorang kawan saya yang lain. Yang pada pagi hari seusai bangkit dari lelap melempar kata-kata di trotoar beranda facebook. “sayang aku pingin, kangen sekali dengan kamu pagi hari ini”. Barangkali begitu kata-kata panjang itu.

Bukan sekedar sepakbola.


            “Saya tak berharap liga kembali pada perserikatan. Saya hanya butuh ketenangan saat menonton nyaman di dalam stadion tanpa kegaduhan. Atau saya berharap bisa tertib damai saat mengambil kendaraan di tempat parkiran. Saya bukan sekedar ingin mendengar tim saya kalah atau menang, atau kegirangan saat menatap papan skore 2-0 kemenagan untuk tim saya”. 
            Entah mengapa secara tiba-tiba ingatan saya mengarah pada tahun belakangan. Saat saya duduk diam, riang, senyum menghisap rokok di dalam stadion Notohadinegoro. Saat tim kesayangan saya berhasil mengalahkan Gresik United pada waktu itu.
            Sepakbola. Siapa yang tak kenal dengan olahraga nomor wahid di dunia ini. Pada kawasan benua biru olahraga ini seperti agama, atau sejenis aliran. Apa yang telah di ungkapkan oleh Robert N. Bellah ahli sosialog A.S, bahwa sepakbola menyatu menjadi peraturan, pengikut fanatik dan ritual nilai. Sudah  tentu yang saya maksud disini bukan soal bicara agama Islam, Kristen, Budha, Katolik dan lainnya. Dalam sebuah negara sepakbola bukan perihal permainan dua tim lawan, kalah dan menang atau permainan yang menghibur. Sepakbola mempunyai sejarah panjang dalam arus jeram sebuah bangsa. 
            Bangsa Jerman setidaknya sudah diluluhkan dengan sepakbola. Saat perang dunia ke dua Jerman yang merupakan keturunan ras arya mengaku bahwa ras merekalah yang ada diatas segala-galanya dan kebangsatan Hitler kala itu yang ingin memusnahkan ras lain. Barangkali tidak dengan akhir-akhir ini, Jerman harus luluh. Terlihat bahwa timnas Jerman pada piala dunia 2006 silam terdapat pemain kulit hitam kelahiran Ghana siapa lagi kalau ia bukan Gerald Asamoah. Jepang pun harus mengaku, bahwa dalam sepakbola sudah seharusnya tak mengenal ras, ideologi, agama atau perbedaan yang lainnya. Jepang yang terkenal bersikukuh dengan kemurnian rasnya haruslah luluh pula, Alex Santos pemain kelahiran Brazil pernah memperkuat timnas Jepang pada piala dunia 2006. Setidaknya ini membuktikan bahwa sepakbola tak mengenal batas.
            Siapa yang tak sorak-sorai saat berada di dalam stadion? Gila, gila sekali orang-orang berambut gimbal itu. Rambutnya bercat merah, wajahnya tampak berkibar lukisan-lukisan bendera negara. Saya gemetaran saat melihat permainan timnas Indonesia pada setiap pertandingan piala AFF 2010 kemarin. Saya tak mau bicara ketampanan Irfan Bachdim. Di lain sisi, saya memang pecinta bola yang pekat, pengap dan lupa ingat. Dari arah layar kaca tivi, saya menyaksikan bagaimana perdamaian di dalam stadion itu. Nasionalisme bersatu tanpa perbedaan. Stadion bergelora menjadi lautan merah dan putih. Para supporter meletakkan atribut klub, bersatu untuk mendukung timnas Indonesia. Jangan ngelantur, ini tak ada hubungannya dengan PSSI. Pada babakan kuasa busuk Nurdin yang bercita-cita sepakbola sebagai kekuasaan golongan. Akhirnya runtuh, runtuh oleh kebusukannya sendiri. 
            Sepakbola seharusnya sudah tak lagi sebagai penyokong kekuasaan golongan. Sepakbola lahir dari aspek kesadaran kultur yang dalam, dari diri setiap batin lalu di aktualisasikan di tengah-tengah pertandingan sampai pada ruang obrolan di warung kopi. Sepakbola tak mengenal kelas atau batas. Dapat kita saksikan, betapa semangatnya seorang tukang becak yang bersedia bertato burung garuda saat timnas Indonesia tampil memukau di piala AFF akhir tahun 2010 lalu. Bukankah ini sekaligus membuktikan, bahwa nasionalisme belum mati. 
            Sekali lagi saya ingin katakan. Bahwa sepakbola bukan sekedar permainan kalah dan menang. Banyak aspek yang duduk di dalamnya. Ras, ideologi, jenis kelamin, agama dan sejenisnya. Saya hanya ingin duduk, mengamati pertandingan bersama gadis-gadis di tribun penonton, dan sekali-kali menghela nafas panjang ketika tendangan keras Firman Utina menerpa tiang gawang. Atau saat saya berdiri tegak sambil bertepuk tangan saat melihat Boas Salosa mengocek bola sambil meliuk-liukkan badannya.
22 Juli 2011