Tentang Kemelut Bola Liar PSSI.


“Catatan ini memang tertunda, saya kira juga tak apa. Kepada semua yang mengaku ingin menjadi orang atau kelompok yang bertujuan memajukan sepakbola tanah air. Selama Revolusi PSSI orientasinya kekuasaan, maka kalian busuk semua. (Kegagalan apa lagi yang akan kalian sukseskan)”.

Saya memang tak pernah bermain-main dalam hal cita-cita. Seperti cita-cita saya yang ingin sekali menjadi seorang pemain sepakbola profesional. Ah, pokoknya saya ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Berlatihlah dengan penuh serius. Waktu malam saya tak boleh lelap hingga larut, paling-paling jam 21.00, sudah mulai mapan disebuah ranjang. Pagi hari, saya sudah diharuskan bangun. Biasanya pada waktu hari sebelum sarapan pagi saya melakukan aktifitas senam, jig-jag dan sejenisnya itu.

Sore telah tiba,langit sangat cerah kala itu. seperti biasanya, aktifitas latihan main bola segeralah dipacu. Jarak antara lapangan bola dan rumah saya, tak dekat amat, tapi juga tak jauh. Saya bahkan sering berlari, jika hendak akan berlatih sepak bola. Saya seorang yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola, anak yang lahir dari keluarga yang sederhana. Bercita-cita ingin menjadi sepak bola profesianal. Siapa sih, yang gak mau mengharumkan nama bangsanya?

Terpampanglah photo-photo para pemain bintang sepakbola dunia dikamar saya. Tak ketinggalan pula, gambar photo gagahnya pemain timnas Indonesia yakni Bambang Pamungkas. Ya, dulu saya ingin seperti Bambang Pamungkas. Tapi, apakah cita-cita saya dapat kesampaian, melihat kondisi bangsa kita saat ini?. Memang tak dapat dipungkiri, jika harus masuk seleksi tim harus punya orang dalam. Apalagi jika kemampuan skil pas-pasan. Tapi, cita sudah saya bentang disebuah jalan, meskipun pada akhirnya saya gagal karena melihat usia. Belum lagi realitas persoalan uang. Saya juga heran, kenapa bangsa ini penuh hal semacam ini.

Belum lagi perihal tatakelola petinggi sepakbola tanah air yang ada di atas sana, sebut saja ia PSSI, badan otoritas tertinggi sepakbola Indonesia. Coba kita lihat pada gelaran piala AFF 2010 kemarin. Penampilan Irfan Bachdim dkk, sejatinya bukan perwakilan suksesnya PSSI. Amburadulnya system penjualan tiketlah yang menunjukkan belum siapnya pihak terkait menyelenggarakan pertandingan bertaraf internasional. Nurdin Halid yang menjabat ketua PSSI kala itu, menunjukkan kegagalan yang kesekian kalinya. Nurdinlah yang layak kita katagorikan penguasa otoriter PSSI. Orde dualisme liga, dengan lahirnya liga tandingan macam LPI gagasan Arifin Panigoro.

Pada akhir jabatannya pula Nurdin Halid masih ingin ngotot menduduki jabatan ketua umum PSSI. Entah, kegagalan mana lagi yang akan dipersiapkannya. Sungguh tak malu. Kengototan Nurdin Halid sempat membuat gaduh publik. Sehingga FIFA yang merupakan otoritas sepakbola tertinggi di dunia harus membuat komisi normalisasi. Yang mana Agum Gumelar lah terpilih sebagai ketuanya. Tak sebatas disitu, serakahnya beberapa pihak turut memperburuk citra sepakbola Indonesia di mata dunia. Ini terlihat kisruh yang terjadi di beberapa konggres PSSI. Kelompok-kelompok tertentu yang hemat saya tak paham betul tentang sepakbola. Jika revolusi PSSI orientasinya ialah kekuasaan, maka hanya omong kosonglah mereka semuanya.

Saat ini sepakbola tanah air sedang berada pada titik nadir. Belum terpilihnya ketua PSSI yang baru, membuat Indonesia terancam sanksi. Pemerintah harus bijak dalam mengambil sikap. Jangan interfensi atau malah acuh terhadap persoalan ini. Apa yang harus dilakukan, duduk bersama, berpikir kedepan dan stop perebutan kekuasaan. Toh, sepakbola Indonesia bukan milik golongan. Saya kian tak paham apa maksud dan tujuan kelompok yang mengatasnamakan 78. Sebuah perubahan bukan perebutan kekuasaan, sepakbola tanah air harus jauh dari orang-orang yang tak paham aturan sepakbola. Belum di rumput hijau lapangan, dalam rembug saja mereka sudah jauh dari fairplay.

Sudah saatnya sepakbola tanah air jauh dari orang-orang macam Nurdin Halid dan yang serupanya. LPI jelas lahir karena ketidak puasan, atau merasa tidak percaya oleh orde Nurdin. Akan tetapi, kelahiran LPI seharusnya juga harus kita pertanyakan, seperti halnya kelompok 78 apa itu arti sepakbola yang menjunjung tinggi sportifitas. Kemelut bola liar yang disebabkan oknum yang tidak bertanggungjawab membuat timnas kacau balau. Ini seharusnya tidak terjadi jika semua pihak saling memahami. Dan dari kemelut PSSI inilah sepakbola Indonesia terancam sanksi dari FIFA.

Akhirnya semua pihak harus sadar diri. Sebentar lagi timnas senior Indonesia akan berlaga pada babak pra Piala dunia 2014 nanti, dan timnas U-23 yang akan berlaga pada kejuaraan Sea Games 2011 yang sebentar lagi digelar. Jika FIFA menjatuhkan sanksi bagi Indonesia, maka harapan tersebut akan gagal seluruhnya. Belum lagi pada klub Persipura Jaya pura yang sedang Berjaya mengarungi AFC cup, dan akan berlaga pada Liga Champhions Asia mewakili Indonesia. Sekedar pertanyaan, jika FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia, masyarakat penggila bola jelas yang dirugikan. Siapa yang akan bertanggung jawab?

Renungkan.!

Gambar dari;google

Juni 2011

Iklan

2 responses to “Tentang Kemelut Bola Liar PSSI.

  1. *merenungkan*

    Makanya saya nggak pernah nonton tipi lagi, Bro.
    Bikin sakit kepala. PSSI kisruh, DPR berantem, koruptor kabur, begitu ditangkap; ada aja yang sakit, pas nyuri dulu sehat walafiat..hhmmm..hmmm..hmmm…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s